logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Kopi Bahagia

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 11 November 2024
in Disway
0
Dahlan Iskan di Cofiesta, Galaxy Mall 3, Surabaya.-HARIAN DISWAY-

Dahlan Iskan di Cofiesta, Galaxy Mall 3, Surabaya.-HARIAN DISWAY-

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

 

HIDUP itu ibarat ”sekadar mampir minum”. Sebentar sekali. Setuju. Masalahnya, ”minum apa?”

Bagi penggemar kopi, ”hidup itu sekadar mampir minum kopi”. Saya tertawa. Lucu. Pun orang di sekitar saya. Mereka adalah penggila kopi. Mereka lagi kumpul di Galaxy Mall 3 Surabaya Timur. Ada acara ”Cofiesta” di situ. Selama lima hari. Ada kompetisinya. Banyak yang membuka gerai. Mulai yang jualan kopi sampai yang memamerkan alat-alat masak kopi.

Related Post

Halo Wani

Juara Dunia

Hidup QRIS

Yossi Cohen

Penggiat  kopi se Indonesia kumpul. Bahkan ada gerai yang dari Thailand dan Jepang. Saya diundang melihat gerai-gerai itu. Saya pun nyangkut di gerai teman lama. Milik Benny. Ada dukun kopi di situ. Nama aslinya Ade. Ia sekolah computer  science di Australia. Juga di Amerika. Lalu buka kafe di Surabaya.

Ada Jonathan. Anda masih ingat ia: pemilik bengkel supercar yang juga alumnus Amerika. Saya kenal ayahnya. Pernah kerja di grup Pembangunan Jaya. Di grup Ciputra itu ia berteman dengan Budi Karya Sumadi –yang kelak menjadi menteri perhubungan. Rumah sang ayah didesain oleh arsitek Budi Karya.

Lalu, di gerai tersebut, ada Nasrullah Alfarisi. Anda juga pasti masih ingat nama itu. Kalau tidak ingat berarti Anda penggemar kopi imitasi.

“Saya baru pulang tadi malam,” ujarnya. Saya langsung tahu ia pulang dari mana: dari tengah laut. Pekerjaannya memang di lapangan minyak di selat Makassar. “Tengah malam saya langsung goreng kopi-kopi ini,” katanya. “Sampai pukul 02.00,” tambahnya.

Ia pun menunjuk deretan tabung yang ditata seperti di lab pemeriksaan darah. Dijejer seperti itu. Hanya ukuran tabungnya sedikit lebih besar.

Saya hitung jumlah tabung di situ: 23 tabung. Isinya berbagai jenis kopi. Dari berbagai negara. Satu tabung satu jenis. Beratnya 15 gram.

Saya pun diminta merasakan meminum salah satunya. Suruh pilih. Saya bingung. Semuanya selected-limited. Saya minta salah satu yang ada di kerumunan itu untuk memilihkan.

“Yang ini,” ujar Budi Liu, penggila kopi di situ. Saya ambil tabung itu. Saya baca labelnya: Finca Las Flores. ”Finca” adalah nama kebun kopi. ”Las Flores” adalah daerah asalnya.

Saya tahu: Pulau Flores juga menghasilkan kopi yang terkenal. Di daerah Bajawa. Maka ”Finca Las Flores” saya kira kopi dari Pulau Flores.

“Ini kopi dari Colombia,” katanya. Itu kelebihan mereka. Sudah tidak lagi hanya menyebut nama daerah. Toraja, Gayo, Aceh, Sidikalang, Trawas, Sukabumi, Lampung, dan seteruanya. Mereka sudah menyebut lebih detail. Ibaratnya dari Toraja yang mana. Atau Gayo yang petak mana.

Tentu banyak kebun kopi di Toraja. Atau Gayo. Sama-sama Las Flores tiap kebun di Las Flores menghasilkan kualitas yang berbeda. Mestinya begitu juga di Sidikalang atau Lampung.

Tabung Finca Las Flores pun dibuka. Benny yang mengerjakan. Benny memasukkan kopi sebanyak 15 gram itu ke mesin mini penggerus kopi. Yang ukurannya sebesar tumbler kecil. Ujungnya diputar pakai engkol. Di tangan Benny dalam dua menit kopi pun lembut.

Pemasak air pun dipasang. Dipanaskan sampai 95 derajat Celsius. Bubuk kopinya dituang ke atas kertas gelombang. Kertas itu berfungsi sebagai penyaring dan corong.

Air panas pun dituang ke corong itu. Menuangnya pun pakai ilmu: lebih dulu dikucurkan di bagian tengah bubuk. Lalu diputar kian ke pinggir. Ritualnya harus begitu.

Mengucurkan airnya pun tidak boleh sekali tuang. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Empat kali. Selalu dari tengah ke pinggir. Air panas sebanyak 120 gram pun menetes hitam ke teko kaca di bawah corong.

Cairan hitam dari teko itulah yang dituang ke cangkir porselin. Saya tidak mau minum satu cangkir. Harus dibagi lima –agar sekerumunan bisa merasakan nikmatnya.

Ini ritual minum kopi yang tidak kalah dengan ritual minum motai –arak putih terkenal di Tiongkok. Minumnya tidak seperti Anda meneguk kopi di kedai. Minumnya lebih tepat disebut bukan minum. Harus hanya sesesapan. Dicium dulu aromanya. Lalu disesap air  kopinya.

Itulah kopi yang satu kilogram berharga Rp 400.000.

“Di sini, berapa harga kopi termahal?” tanya saya.

“Rata-rata segitu,” jawab mereka.

“Kalau di dunia, berapa harga  kopi termahal?” tanya saya lagi.

“USD 10.000,” ujar Nasrullah.

Saya tidak percaya. Itu kan berarti Rp 150 juta/kilogram.

Ia pun menunjukkan bukti. Yakni hasil lelang tahun lalu. Lelang kopi.

Saya ngotot: tidak masuk akal. Seperti apa rasanya.

Nasrullah pun ”emosi”. Ia membuka ransel kecilnya. Ia keluarkan botol pipih mirip botol baja minuman keras. “Saya masih punya sedikit. Pak Dahlan harus merasakannya,” ujar Nasrullah.

Saya pun menerima botol baja pipih itu. Saya baca labelnya: Arabica Panama Elida Geisha Natural. Saya buka tutupnya. Saya endus aromanya.

“Saya tidak mau mencoba,” kata saya. Tidak tega. Terlalu mahal.

Saya pilih minta teman saya untuk memotret adegan saya lagi memegang botol baja pipih itu. “Boleh foto tapi jangan dimuat di Disway,” katanya. “Istri saya juga pembaca Disway. Bisa ketahuan,” guraunya.

Ia punya kiat kalau istrinya marah soal hobi mahalnya itu. “Kalau dia minta tas apa saja tidak saya tolak,” guraunya.

Saya sungguh tidak pura-pura menolak merasakan kopi termahal itu. Tapi saya ingin juga tahu rasanya seperti apa. Maka ketika Nasrullah menyerahkan botol baja pipih itu ke Benny saya terharu sekali.

Botol itu tidak penuh. Tinggal sisa Nasrullah. Masih ada 15 gram. Botolnya sendiri memang bekas botol minuman keras. Nasrullah menggunakannya untuk kopi termahal agar menimbulkan kesan lebih special.

Benny pun memprosesnya. Kali ini saya minta dibagi tujuh gelas. Agar kian banyak yang ikut merasakan. Satu gelas berisi sekitar tiga sendok.

Kami pun menyesapnya. Saya minta tolong Nasrullah untuk mendeskripsikan rasa kopi yang itu seperti apa.

“Saat mulai meminumnya ada rasa bahagia. Lalu muncul rasa gemetar. Terakhir terasa manisnya. Kian lama tenggorokan merasakan manisnya. Sampai berjam-jam”.

Saya bahagia mendengarkan penjelasannya itu. (*)

Tags: Catatan Harian DahlanDahlan IskanDiswayHarian Dahlanharian diswayTulisan Dahlan

Related Posts

Wani Sabu saat menerima Lifetime Achievement Award di ajang Contact Center World 2025 di Bali.-Instagram Wani Sabu-

Halo Wani

Wednesday, 22 April 2026
Ilustrasi fitur-fitur di Halo BCA.--

Juara Dunia

Tuesday, 21 April 2026
Ilustrasi penggunaan QRIS di Tiongkok yang banyak membantu WNI.-Dibuat dengan bantuan AI-

Hidup QRIS

Monday, 20 April 2026
Salah seorang jurnalis asing mengabadikan gambar sebuah kerusakan akibat serangan udara AS yang menyasar sebuah perkampungan di wilayah Fardis, Barat kota Tehran, Iran.-Vahid Salemi-Association Press

Yossi Cohen

Friday, 17 April 2026
Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo terjaring OTT KPK, dengan total kekayaan tercatat Rp20,3 miliar.--Instagram gatutsunu

Tulung Agung

Thursday, 16 April 2026
--

Bertahan Menyerang

Wednesday, 15 April 2026
Next Post
Pebiliar Gorontalo, Leo Farrehend meraih medali perak dalam nomor nomor 15 ball single putra PON XXI di Medan, Sumatera Utara, Senin (6/9).

PON XXI Aceh-Sumut : Biliar Tambah Medali untuk Gorontalo

Discussion about this post

Rekomendasi

AKBP H. Busroni

Pidana Menanti Polisi Terlibat PETI, Janji Kapolres Pohuwato, Termasuk Sanksi Internal

Wednesday, 22 April 2026
Dua orang remaja meninggal dunia setelah menabrak sebuah mobil tronton yang terparkir di jalan Trans Sulawesi, Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo.

Tabrak Tronton Dua Remaja Tewas, Hilang Kendali Saat Tronton Terparkir di Tepi Jalan

Monday, 20 April 2026
Wardoyo Pongoliu

Izin Tambang, IPR Dengilo Tunggu Persetujuan Pemkab

Tuesday, 21 April 2026
Basri Amin

Batas-Batas Pengobatan

Monday, 20 April 2026

Pos Populer

  • Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pohuwato resmi melaksanakan penyerahan tersangka dan barang bukti (Tahap II) dalam perkara dugaan pemalsuan surat kepada Kejaksaan Negeri Pohuwato, Senin (13/4/2026).

    Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

    178 shares
    Share 71 Tweet 45
  • Tabrak Tronton Dua Remaja Tewas, Hilang Kendali Saat Tronton Terparkir di Tepi Jalan

    171 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

    116 shares
    Share 46 Tweet 29
  • Batas-Batas Pengobatan

    79 shares
    Share 32 Tweet 20
  • Viral Siswi SMP di Kabgor Di-bully, Orang Tua Pelaku Justeru Minta Proses Hukum

    76 shares
    Share 30 Tweet 19
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.