Gorontalopost.id, KWANDANG – Pemerintahan CERIA ternyata banyak menyisahkan kisah sedih, tidak seindah kenyataan dan hanya sebatas angan dan khayalan. Mulai dampak peningkatan pengangguran yang melonjak signifikan dengan dirumahkannya para honor daerah yang jumlahnya menyentuh angka ribuan, belum lagi pemerintahan daerah yang harus bergelut dengan persoalan anggaran yang sampai hari ini juga masih dirasakan dampaknya.
Termasuk juga pariwisata yang pada pembahasan anggaran 2025, terungkap bahwa PAD yang dihasilkan dari sektor pariwisata sampai dengan bulan Agustus 2024, baru menghasilkan Rp. 6 Juta dari Rp. 185 Juta target yang dipatok di tahun 2024 ini.
Aleg PDIP, Aryati Polapa saat pembahasan KUA-PPAS 2025 menegaskan bahwa sudah kemandirian fiskal yang mengandalkan PAD sebagai modal dalam membangun daerah dan sudah digaungkan dan tersebar luas ternyata tidak berdampak pada peningkatan PAD dari sektor wisata. “Pariwisata apa ini tidak ada pendapatan, hanya membuat malu ini” tegasnya.
Padahal jika menengok jauh kebelakang saat pemerintahan CERIA yang dilanjutkan oleh Bupati Thariq Modanggu, diketahui bahwa promosi wisata yang dilakukan oleh beliau luar biasa. Hanya saja hal tersebut tidak dibarengi oleh pembangunan infrastruktur pendukung atau sarana prasarana lainnya.
Dan hal tersebut juga diaminkan oleh Kadis Pariwisata, Robi. Daud yang ditemui usai pembahasan untuk diminta klarifikasinya soal PAD yang minim tersebut. Robin menegaskan bahwa dirinya tidak dapat berbuat apa-apa, karena hal ini berkaitan dengan anggaran. “Mau cek lokasi saja kita tidak ada anggarannya, dan beberapa fasilitas yang telah dibangun tersebut ada yang mulai rusak” tegasnya.
Robin berharap ada pembangunan dari OPD lainnya yang dibangun dan dapat menopang perkembangan pariwisata Gorut. Hal lainnya juga dijelaskan oleh Kadis Pariwisata bahwa pariwisata Gorut telah terbentuk alamnya, hanya saja hal lainnya yang dapat menarik wisatawan ke Gorut tidak ada. “Apa yang buat wisatawan tertarik dan menetap beberapa hari di Gorut itu tidak ada, sehingga wisatawan hanya datang stay di hotel atau pergi ke tempat lain” ujarnya.
Lantas siapa yang akan membenahi kesemerawutan yang terjadi di daerah ini, dan mau tidak mau pemimpin daerah kedepannya. Tentunya hal ini sangat disayangkan terjadi di daerah terbungsu di Provinsi Gorontalo yang tengah bertumbuh kembang, namun tersandung dengan persoalan pelik yang terjadi pada pemerintahan sebelumnya yang harus ada penyelesaiannya dan itu harus ditanggung oleh pemerintahan berikutnya. (abk)












Discussion about this post