logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Pulang!

Lukman Husain by Lukman Husain
Tuesday, 11 June 2024
in Disway
0
Kantor pusat Lukas Film di San Fransisco, California dengan pemandangan Golden Gate.--

Kantor pusat Lukas Film di San Fransisco, California dengan pemandangan Golden Gate.--

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

 

KEVIN harus “zoom”. Pukul 17.00 waktu California. Berarti pukul 07.00 di Semarang. Sekolahnya, Kolese Loyola, minta Kevin Herjono memberikan motivasi untuk siswa di sana.

Maka sejak satu jam sebelum Carmel ganti saya yang jadi sopir. Yakni sejak memasuki pegunungan yang penuh kebun anggur itu: Tapa.

Related Post

Ya Tidak

Jumat Keramat

Iris Istri

PLN Transisi

Turis banyak yang berhenti di pegunungan ini: minum wine bikinan pabrik di atas gunung itu. Suami Janet menolak tawaran saya untuk mencoba minum anggur merah California.

Awalnya Kevin akan “zoom” pakai earphone. Saya bilang padanya: bolehkah ikut mendengarkannya. Maka satu jam itu saya tahu perjalanan hidup anak muda itu.

Kevin terobsesi kuliah di Amerika dari pamannya. Sang paman bekerja di Chicago. Sejak remaja ia membayangkan enaknya Amerika.

Kevin menyadari keterbatasan diri dan keluarganya. Ayahnya seorang pengacara di Semarang tapi bukan pengacara kaya.

Ia sendiri tahu diri: bukan tergolong paling pintar di kelasnya. Juga bukan kelas IPA. Ia IPS. Kemampuan bahasa Inggrisnya pun belum bagus.

Maka ia cari sendiri tempat kuliah yang bukan untuk para bintang. Ia masuk universitas yang tidak berbintang.

Universitas itu ada di kota kecil Savanah, pelosok tenggara Georgia. Ia harus masuk kelas bahasa dulu selama enam bulan.

Agar istimewa Kevin mencari mata kuliah yang tidak umum. Jalan pikirannya: apa yang kira-kira akan dibutuhkan di Indonesia 10 tahun setelah ia masuk kuliah.

Ia putuskan: special effect. Ia meleset dengan perkiraan 10 tahunnya itu tapi itulah jalan hidupnya sampai dapat pekerjaan di grup Walt Disney.

Waktu memilih jurusan itu Kevin punya kendala besar: ia tidak bisa menggambar. Pun tidak menyukai menggambar. Profesor di kampus itu yang mengubah cara berpikirnya.

“Saya tidak bisa menggambar,” ujar Kevin pada profesor itu.

“Justru kalau kamu sudah bisa menggambar untuk apa ambil jurusan ini.”

“Tapi nilai saya nanti kan jelek?” tanya Kevin.

“Di sini nilai tidak ditentukan oleh kualitas gambar. Tapi seberapa maju perkembangan Anda dalam menggambar. Dulu bisa apa, sekarang sudah bisa apa.”

Ucapan pendidik seperti itu yang membuat tekad Kevin bulat di jurusan special effect. Guru menghidupkan minat siswa.

Tiba di San Fransisco kami tidak menginap di rumah teman lama maupun teman baru. Saya menginap di rumah temannya teman. Agak sungkan juga dapat gratisan jenis itu.

Ia teman satu kelas suaminya Janet. Tinggalnya di Palo Alto. Di kawasan Silicon Valley. Tidak jauh dari kampus Stanford University.

Ia juga punya rumah di Beijing. Istrinya lagi pulang ke Beijing. Anak pertamanya sudah kerja di New York. Yang kedua kuliah di kota lain. Ia lagi bujangan. Kamarnya lima. Halaman belakangnya bisa untuk senam dansa.

Rumahnya di Beijing di dekat universitas terbaik di Tiongkok: Tsinghua University. Yang di California dekat Stanford.

Ia sendiri lulusan teknologi penerbangan di universitas kota kecil di Tiongkok. Cita-citanya kuliah di universitas terbaik tidak kesampaian. Tapi dua rumahnya, semua, kini di dekat universitas terbaik di dua negara.

Kevin kelihatan gelisah ketika tahu tidak bermalam di hotel. “Masak saya harus bermalam di rumah temannya temannya teman,” katanya dalam bahasa Jawa Semarangan.

Proses memiliki teman baru ternyata berliku. Tapi rupanya sulit juga bagi Kevin untuk bisa berteman baru dengan tuan rumah. Beda generasi. Ngobrol pun sulit: harus lewat saya sebagai penerjemah. Meski sudah delapan tahun di Amerika kelihatannya ia masih sulit untuk ngobrol dalam bahasa Inggris.

Dua hari di San Fransisco kami asyik-asyik saja. Selalu berlima. Pakai BMW SUV milik tuan rumah. Yang termuda yang jadi sopir: Kevin. Ia lebih menguasai peta San Fransisco. Apalagi salah satu tujuannya adalah ke kantor pusat Lucas Film.

Dari salah satu gedung Lucas Film itu kami bisa melihat Golden Gate. Juga bisa melihat Palace of Fine Art. Maka setelah keliling Lucas Film kami pun ke dua lokasi itu. Dekat sekali. Hanya segelindingan roda. Sesekali me time.

Tentu saya juga diantar ke Stanford University. Juga ke Apple. Semua berdekatan –kalau pakai mobil. Kawasan Silicon Valley begitu gemah ripahnya. Saya potong rambut di situ. Pesiapan pulang!(*)

Tags: Catatan Harian DahlanDahlan IskanDiswayHarian Dahlanharian diswayTulisan Dahlan

Related Posts

Ya Tidak

Ya Tidak

Thursday, 22 October 2026
Jumat Keramat

Jumat Keramat

Monday, 19 October 2026
Iris Istri

Iris Istri

Saturday, 17 October 2026
PLN Transisi

PLN Transisi

Saturday, 17 October 2026
Camino Nakasendo

Camino Nakasendo

Friday, 16 October 2026
Hati Ngadirejo

Hati Ngadirejo

Wednesday, 14 October 2026
Next Post
Foto bersama Plh Wali Kota Gorontalo, Ismail Madjid, Ketua DPRD Kota Gorontalo, Hardi Sidiki dan pimpinan BPK RI.

Sabet Opini WTP 10 Kali Berturut-turut

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Basri Amin

Generasi Penerus dan Generasi “Terus-Menerus”

Monday, 26 October 2026
Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi (Bukan) Kewajiban Negara

Vietnam Melompat ke Depan, Indonesia Melompat di Tempat

Tuesday, 27 October 2026
Hendak Dipasok ke Tambang Ilegal, 30,1 Ton Solar Bersubsidi Diamankan Polisi

Hendak Dipasok ke Tambang Ilegal, 30,1 Ton Solar Bersubsidi Diamankan Polisi

Tuesday, 27 October 2026
Ops Patuh Otanaha 2026, 14 Hari Kepolisian Perketat Pengawasan di Jalan

Ops Patuh Otanaha 2026, 14 Hari Kepolisian Perketat Pengawasan di Jalan

Tuesday, 27 October 2026

Pos Populer

  • Akui Lecehkan Dua Mahasiswi Bimbingan Sikripsi, Oknum Dosen Serahkan Diri ke Polisi

    Akui Lecehkan Dua Mahasiswi Bimbingan Sikripsi, Oknum Dosen Serahkan Diri ke Polisi

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Lolos dari Gorontalo, Polda Metro Jaya Amankan 54 Ton Batu Hitam, Lima Orang Ditangkap

    72 shares
    Share 29 Tweet 18
  • Generasi Penerus dan Generasi “Terus-Menerus”

    69 shares
    Share 28 Tweet 17
  • Demo Jilid II Membayangi Polda, Wakapolda Pasang Kuda-Kuda, Ingatkan Personel Tetap Humanis

    72 shares
    Share 29 Tweet 18
  • Vietnam Melompat ke Depan, Indonesia Melompat di Tempat

    38 shares
    Share 15 Tweet 10
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 4 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.