logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Untung Siksa

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 20 May 2024
in Disway
0
Dahlan Iskan sebelum memasuki gedung peradilan di Amerika Serikat.--

Dahlan Iskan sebelum memasuki gedung peradilan di Amerika Serikat.--

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

 

SAYA harus “main catur” di New York: melangkah ke arah apa yang akan terjadi tiga langkah di depan.

Maka hari pertama di New York, saya ke pengadilan. Mumpung hari itu tidak ada sidangnya Presiden Donald Trump. Lia Sundah mengatakan: jangan harap bisa masuk pengadilan keesokan harinya.

Related Post

Palung Langit

Mister HH

Doa Mahjong

Anggota Istimewa

Tidak semua hari di sidang Trump selalu menarik minat pengunjung. Tapi keesokan harinya itu adalah puncak daya tariknya: si wanita esek-esek tidak sekadar menjadi saksi tapi dikonfrontasikan dengan kubu Trump.

Ini ibarat Rhoma sepanggung dengan Inul.

Maka saya setuju ke pengadilan justru sehari sebelum itu. Sekalian gladi resik untuk bisa lancar di kedatangan keesokan harinya.

Sebagai pengacara khusus keimigrasian di New York, Lia paham benar kawasan pengadilan itu. Pengadilan keimigrasian nyaris di seberangnya. Hanya dipisahkan oleh taman lapangan. Lia tentu sangat sering ke gedung itu.

Kawasan ini disebut ‘kawasan pengadilan’. Kalau Anda berdiri di taman lapangan itu menghadap ke mana pun ada gedung pengadilan. Berbagai jenis pengadilan. Berbagai tingkat pengadilan.

Ternyata sebetulnya saya sudah beberapa kali ke lokasi ini. Tepatnya ke sebelah lokasi ini. Pun sebelum Disway banyak iklannya.

Kawasan hukum ini ternyata mepet dengan China Town. Kalau kangen masakan Asia biasanya saya ke China Town: banyak masakan Kanton yang enak. Banyak Pho’ Vietnam. Juga Thai food.

Ini, kali pertama saya ke pengadilan di Amerika. Maka saya ingin tahu seluk beluknya. Seluknya pengadilan di Indonesia saya hafal. Apalagi beluknya.

Saya pernah jadi wartawan hukum saat masih bekerja di majalah TEMPO. Tapi sistem hukum Amerika kan berbeda. Pakai yuri. Saya ingin tahu seperti apa.

Kalau lagi ada sidang Trump tidak mungkin bisa belajar banyak: penuh sesak. Sepanjang hari. Belum tentu pula bisa dapat tempat.

Maka hari itu Lia ajak saya ke pengadilan. Dia pilih cari tempat parkir di China Town. Ini juga permainan catur: agar dari pengadilan nanti bisa makan siangnya di sekitar itu.

Dari China Town kami jalan kaki ke kawasan hukum. Melewati taman lain di belakang pengadilan. Tamannya masih sama: banyak kelompok orang yang lagi main cheki atau mahyong di situ. Tentu mereka adalah orang Tionghoa.

Gedung pengadilan itu 17 lantai. Atau 18. Perusuh teliti seperti Mirza Mirwan punya angka tepatnya. Itu bukan gedung sangat tinggi untuk ukuran New York. Juga bukan bangunan rendah seperti semua gedung pengadilan di Indonesia.

Tapi bagian bawah luar gedung ini terasa rusuh. Skafolding terpasang di sepanjang wajahnya. Menutup sepanjang trotoar di depannya. Pun menutup pintu masuknya.

Kami menyusuri lorong skafolding itu. Lalu masuk pintu besarnya. Bebas. Hanya ada detektor barang bawaan. Relatif sepi. Hanya dua orang di depan saya dan dua di belakang: Lia dan Erick, anaknyi. James Sundah, suami Lia tidak ikut.

Lia tahu: ruang sidang Trump di lantai 15. Ada dua deretan lift di gedung itu; di kanan sana dan di kiri sana. Sama saja. Tidak ada petugas jaga. Sepi. Pun di lantai 15.

Lia juga tahu di ruang mana Trump selalu disidangkan: ruang 59. Langsung ke ruang itu. Dorong pintu besar. Pintu kayu. Ada pintu besar lagi di dua meter setelah pintu pertama. Pintu hands itu untuk antisipasi musim dingin.

Ruang sidang senyap. Ada sidang tapi senyap. Sidang kriminal lain. Belum mulai.

Ruang sidang ini seperti ruang kebaktian di gereja Katolik. Langit-langitnya tinggi. Tempat duduk pengunjungnya bangku panjang. Berderet ke belakang. Delapan deret. Kanan dan kiri. Koridor di tengah. Tiap bangku  berisi 7 orang. Ada penyekat rendah di bangku itu agar mereka tidak duduk berhimpitan.

Deretan bangku paling depan untuk jaksa dan timnya menunggu sidang dimulai. Di bangku kanan. Yang kiri depan untuk bangku tunggu pengacara.

Kami duduk di bangku nomor 3 dari belakang. Hanya bisa berbisik pelan.

Sambil menunggu, saya membaca komentar para perusuh. Posisi HP saya agak tinggi. Terlihat oleh petugas keamanan yang duduk jauh di depan sana. Ia memberi isyarat tangan.

Saya tahu: di ruang pengadilan Amerika tidak boleh memotret. Si petugas mungkin mengira saya akan memotret. Maka saya menurunkan posisi HP. Terlindung sandaran bangku. Saya meneruskan membaca komentar. Sambil menunduk. Ternyata juga dikirimi isyarat tangan. Rupanya tidak hanya dilarang memotret. Main HP pun tidak boleh.

Antara bangku-bangku pengunjung dan aparat persidangan ada pemisah. Anda sudah biasa melihatnya di film-film. Hakim berada di altar depan sana. Tempatnya lebih tinggi dari siapa pun. Kursi para yuri berderet di dekat dinding di kiri Hakim. Posisi kursi para yuri menghadap Hakim. Berarti juga agak menghadap ke semua aparat persidangan, termasuk menghadap terdakwa.

Lurus di seberang hakim adalah podium untuk jaksa dan pengacara. Jaksa dan timnya sendiri duduk di deretan kursi kanan podium. Terdakwa dan pengacara duduk di deretan kiri podium.

Di depan hakim persis, di kursi bawah, ada satu tempat untuk notulen persidangan. Dia mencatat apa saja yang diucapkan hakim, jaksa, terdakwa, pengacara, para saksi. Kemampuan menulis cepatnya sangat khusus. Zaman dulu pakai huruf Steno, agar bisa menulis secepat orang bicara. Mungkin sampai sekarang.

Petugas seperti itu tidak ada di pengadilan kita. Mungkin kita yang benar –akhirnya. Peralatan rekam sudah demikian majunya. Pun rekaman video. Lengkap dengan teksnya.

Tapi bukti hukum memang beda dengan bukti elektronik.

Beberapa menit kemudian hakim masuk. Dari pintu samping depan. Hakim tunggal. Para jaksa bangkit, melewati pembatas, duduk di kursi deretan jaksa. Pun pengacara. Dan penulis Steno.

Tidak ada yuri hari itu. Deretan kursinya kosong.

Terdakwa dibawa masuk. Lewat pintu samping kedua. Ia ditenteng oleh tiga petugas keamanan. Tangannya diborgol. Pun tetap diborgol selama persidangan. Tiga petugas keamanan berdiri di kiri, kanan dan belakang terdakwa. Nyaris mepet orang yang diborgol itu. Penjagaan yang ketat.

Hakim minta jaksa bicara. Ke podium. Tidak sampai dua menit. Lalu hakim dialog dengan terdakwa. Beberapa pertanyaan. Tidak sampai lima menit.

Lalu hakim mengucapkan putusan: Anda dijatuhi hukuman tujuh tahun.

Hanya itu. Hanya diucapkan. Tidak ada naskah yang dibaca. Apalagi berjam-jam.

Sidang pun selesai. Keseluruhannya tidak sampai 15 menit.

Rupanya hari itu memang sidang khusus pembacaan vonis –ups, pengucapan. Proses persidangan perkaranya sendiri di hari-hari sebelumnya.

Terdakwa dibawa ke luar. Pengacara dan jaksa juga meninggalkan tempat. Hakim tetap duduk di tempatnya. Santai. Rupanya akan ada sidang berikutnya.

Saya bergegas keluar ruangan. Mengejar pengacara. Itu perkara apa. Terdakwanya berkulit hitam. Pun pengacaranya. Ia tidak dibayar oleh terdakwa. Pengadilanlah yang memintanya jadi pembela. Rambut pengacara ini unik: dikelabang menjadi puluhan kelabang kecil.

Itu perkara pembunuhan. Sidangnya delapan kali. Pakai yuri. Di sidang sebelum ini yuri memutuskan ia bersalah. Hari itu hakim tinggal memutuskan nilai hukumannya.

Inilah peradilan yang simple, cepat dan murah.

Saya beruntung hari itu. Tidak ada sidang Trump. Bisa ikut dua sidang. Masih bisa lagi keliling ke lantai 10, tempat jadwal sidang diumumkan.

Besok, daya tarik persidangan Trump berada di puncaknya. Untuk bisa masuk harus antre panjang. Saya sepakat dengan Erick: akan mulai antre jam 05.00 pagi. Berarti jam 04.00 harus berangkat. Trump telah menyiksa saya. Yang disiksa mau.(*)

Tags: Catatan Harian DahlanDahlan IskanDiswayHarian Dahlanharian diswayTulisan Dahlan

Related Posts

Palung Langit

Palung Langit

Wednesday, 23 September 2026
Mister HH

Mister HH

Tuesday, 22 September 2026
Doa Mahjong

Doa Mahjong

Monday, 21 September 2026
Anggota Istimewa

Anggota Istimewa

Saturday, 19 September 2026
Virgo Tua

Virgo Tua

Saturday, 19 September 2026
William Paputungan

William Paputungan

Friday, 18 September 2026
Next Post
SELAMAT BEKERJA : Pj Gubernur Gorontalo Rudy Salahuddin bersama istri, Djoewiati Kentjana Soebrata, menjalani prosesi adat moloopu saat tiba di rumah jabatan Gubernur, Ahad(19/5). (foto : diskominfotik)

Pj Gubernur Rudy Salahudidin Jalani Proses Adat Penerimaan di Gorontalo

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Program Guru Inspiratif 2026, Kesempatan! Honda Ajak Guru di Gorontalo Terlibat

Program Guru Inspiratif 2026, Kesempatan! Honda Ajak Guru di Gorontalo Terlibat

Wednesday, 23 September 2026
Polwan Diharap Laksanakan Tugas Secara Profesional

Polwan Diharap Laksanakan Tugas Secara Profesional

Wednesday, 23 September 2026
Penyaluran BBM dan LPG Bersubsidi Akan Dikawal

Penyaluran BBM dan LPG Bersubsidi Akan Dikawal

Wednesday, 23 September 2026
Kadin Gorontalo, Andi Ilham Janji Rangkul Semua Kubu

Kadin Gorontalo, Andi Ilham Janji Rangkul Semua Kubu

Wednesday, 23 September 2026

Pos Populer

  • Program Guru Inspiratif 2026, Kesempatan! Honda Ajak Guru di Gorontalo Terlibat

    Program Guru Inspiratif 2026, Kesempatan! Honda Ajak Guru di Gorontalo Terlibat

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Diikuti Dua Calon Ketua, Musprov Kadin Bakal Sengit

    30 shares
    Share 12 Tweet 8
  • Oknum Mantri Bank di Pohuwato Tipu Puluhan Nasabah, Uang Rp 1 M Digondol! Digunakan Trading Crypto

    25 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Polwan Diharap Laksanakan Tugas Secara Profesional

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Penyaluran BBM dan LPG Bersubsidi Akan Dikawal

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.