logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Kampus Besar dan Kampus Kecil

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 18 March 2024
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Basri Amin
Parner di Voice-of-HaleHepu

 

KAMPUS ‘besar’ itu menggerakkan gagasan besar. Kampus ‘kecil’ itu membesar-besarkan hal-hal kecil. Kampus besar itu kokoh dengan pemikir-pemikir hebat. Kampus kecil itu sibuk membuat acara untuk para pejabat. Kampus besar itu berkibar namanya karena temuan-temuan besarnya. Kampus kecil itu terpukau dengan kasta-kasta gelar dan posisi pangkat.

Kampus besar itu merayakan ilmu di ruang-ruang kelas dan di perjumpaan-perjumpaan dengan mahasiswa. Kampus kecil itu menumpangi prestasi dan daya cipta mahasiswanya. Kampus besar bergerak dengan jiwa para pencari kebenaran dan pembela cita-cita. Kampus kecil itu hari-harinya membangun jiwa kawanan yang membela kepentingan dan pencitraan.

Related Post

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

TGR, Kini Mengikat dan Didahulukan

Kampus kecil itu bergumul dengan administrasi. Kampus besar itu mengurus aspirasi. Kampus besar itu tradisinya adalah pertukaran pemikiran yang intens. Kampus kecil itu tabiatnya adalah pengaturan kemapanan.

Kampus besar kuat karena jaringan. Kampus kecil memperbanyak jargon.

Gambaran di atas saya peroleh dari seorang sahabat lama yang kini memilih bekerja di sebuah “kampus besar” di negeri ini. Ia pernah belajar di banyak tempat, tapi memilih menjadi ilmuan murni. Ia tak banyak tampil di publik, juga sangat jarang nongol di media sosial. Dia bercerita, di kampusnya, jumlah baliho mahasiswa dan forum akademis selalu tampak di mana-mana. Wajah pejabat kampus alakadarnya saja ditampilkan. Birokrasi kampus tidak boros dan berlebihan dan tak mengenal kata harus tampil di setiap publikasi. Tak ada personalisasi!

Sahabat ini tegaskan, bahwa di kampusnya, yang terbentuk sekian lama adalan ‘ilmu-sentrik” bukan kepada “penguasa-sentrik…”.

Kampus adalah pemeliharan dan penegak ruhani peradaban kemanusiaan. Kampus adalah pembela terdepan bagi apirasi generasi dan penegak paling gigih bagi keadilan universal dan hak-hak berkemajuan dan kesejahteraan semua orang.

Di mana pun sebuah kampus berdiri, di sanalah kemerdekaan untuk semua harapan kemajuan dan resolusi perbaikan dipelajari, bicarakan, dikerjakan dan diuji dengan terbuka setiap waktu dan oleh civitas-nya. Mentalitasnya adalah bertanya dan mempertanyakan!

Demokrasi bukanlah tema terbesar yang selamanya dan mutlak dikerjakan oleh warga universitas, melainkan “pencarian” dan pengujian bagi setiap kebenaran yang relevan dan substantif bagi kemanusiaan, pemajuan pengetahuan, dan perbaikan kehidupan.

Hak belajar, kewajiban mengajarkan, dan mengujikan subject matter tertentu –-dengan otoritas, proses, dan tanggung jawab tertentu–, adalah tugas utama universitas. Dengan itulah, masyarakat dan sebuah bangsa menerima buah-buah pengetahuan dan jalan-jalan keluar atas setiap kebuntuan masalahnya.

Belakangan ini, politik nasional dan pergumulan Pemilu 2024 ––polemik etis, kapasitas penyelenggara, dan kredibilitas hasilnya— demikian luas beroleh tanggapan dari kampus-kampus (terdepan) di negeri ini. Hampir semua tokoh bangsa yang kita tahu kenegarawanan dan komitmen besarnya selama ini telah memilih posisi yang sangat keras mengoreksi tabiat politik Indonesia belakangan ini. Presiden Jokowi benar-benar dihadapkan dengan pilihan dan pertaruhan yang sulit.

Dipandang dari kacamata sejarah politik bangsa kita dan visi demokrasi Indonesia modern, posisi Presiden Jokowi tak punya pilihan lain selain “memilih” caranya sendiri dalam menempatkan dirinya dalam sejarah kita. Soal legasi Jokowi, “sejarah sudah punya jawaban!” Yang jelas, tak ada yang menjamin bahwa presidensi beliau akan berakhir dengan sesuatu yang membanggakan. Tentu, kita tak pernah berharap bahwa sekian tahun beliau menjadi Presiden Indonesia hanya akan ditakar dengan kata-kata sederhana: terima kasih!

Penilaian publik kini demikian meluas, dan tentulah sangat wajar dan mendesak karena tiga kaidah dasar demokrasi di Indonesia sedang guncang: legitimasi hukum, kejujuran, dan kapasitas pemerintahan. Di luar itu, publik, civil society, dan kalangan terpelajar telah mengambil posisi bahwa ada pengabaian etika politik dan adab berkekuasaan yang dilangkahi secara nyata dan terpola.

Dalam perkara moralitas, suara-suara kampus memang nyaring dan bertaring keabadiannya, kendati di dalam dirinya sendiri (baca: kampus) tidak sedikit persoalan yang melilit mereka. Dilemanya pun tak berkurang (baca laporan majalah Tempo dan Kompas lima tahun terakhir ini: plagiasi, korupsi, pelecehan seksual, transaksi jabatan, mutu akademis, birokratisasi, sindikasi gelar dan publikasi, budaya amplop, bayar-membayar, komersialisasi, nepotisme, dst).

Sejarah pergolakan di kampus, salah satu contoh terbaiknya adalah Universitas Indonesia (UI). Dengan sangat hebat kampus ini bisa menegakkan identitas akademisnya sebagaimana bisa kita baca dalam buku tebal (861 halaman), Membangun di Atas Puing Integritas: Belajar dari Universitas Indonesia (Sarumpaet, dkk, 2012).

Tarikan nilai-nilai akademis dan kebebasan yang otonom mendayagunakan kaidah-kaidah keilmuan akan selamanya melandasi dan mengarahkan kerja-kerja akademia di mana pun itu, terkecuali di beberapa tempat yang otoritarian di dunia. Kalangan intelegensia, di banyak tempat dan di sejumlah pertaruhan sejarah, mereka bahkan rela menjadi martir bagi kebebasan dan keyakinannya: menjadi revolusioner (Brym, 1993). Lebih jauh dari itu, agar terhindar dari “penghianatan intelektual”, Julien Benda (1867-1956), pemikir Perancis, menukil ungkapan Maurras, bahwa “pikiran yang kritis hanya mempunyai nilai karena perbuatan yang dilakukannya berdasarkan penjelasan yang diberikannya (Benda, 1997: 182).

Di kampus, tempaan dan tuntutan “membaca keadaan” yang melampaui banyak batas dan menalari setiap kesimpulan dan pilihan-pilihan selalu dikerjakan dengan kegairahan yang menyala. Nilai-nilai “menemukan” yang terbaik di antara yang serba-mungkin, menguji berulang dan melihat secara berulang berbagai sumber dan rujukan pengetahuan, tak hanya handal dengan mata dan pemikiran sendiri, tetapi sejauh mungkin dicermati dan didalami oleh kekolegaan yang objektif dan multi-perspektif. Itulah yang dilembagakan pembinaannya di kampus-kampus. Melalui itulah pula, besar dan kecilnya atau maju tidaknya sebuah kampus, ditakar dengan parameter tersebut.

Keberanian mengutarakan klaim kebenaran dan ketaatan kepada standar etika tertinggi dalam bermasyarakat dan bernegara di Indonesia hari-hari ini semakin lantang di kampus-kampus. Fakta-fakta Pemilu 2024 adalah pemicunya. Bermula dari bahasa harapan dan pandangan, kemudian bergeser kapada perdebatan-perdebatan akademis yang penuh dengan istilah dan kategori dalam khazanah demokrasi. Saat ini kampus-kampus sudah mengubah bahasanya, yakni menggugat dan menuntut tanggung jawab.

Garis antara pandangan akademis dan sikap politis menjadi semakin tebal dan membesar. Kita masih menunggu jalan sejarah yang akan dipilih oleh negeri ini: berjalannya hukum atau hukum jalanan. Bagi warga kampus, kedua pilihan itu punyak rujukan sejarah, di tahun “Reformasi 1998”, dan jauh sebelumnya lagi pada “Malari 1974” dan “Tritura 1966”. Ketiganya masih berjejak akarnya di republik ini.***

Tags: persepsispektrum sosialTulisan Basritulisan persepsiVoice-of-HaleHepu

Related Posts

Husin Ali

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Monday, 8 June 2026
Basri Amin

Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

Monday, 8 June 2026
Muh. Amier Arham

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

Thursday, 4 June 2026
Yusran Lapananda

TGR, Kini Mengikat dan Didahulukan

Tuesday, 26 May 2026
Basri Amin

Sehat yang Sesat

Monday, 25 May 2026
Tambang Emas Pohuwato, Berkah atau Kutukan Sumber Daya Alam?  Dari Enclave Ekonomi ke Pengukit Pertanian dan UMKM

Tambang Emas Pohuwato, Berkah atau Kutukan Sumber Daya Alam? Dari Enclave Ekonomi ke Pengukit Pertanian dan UMKM

Saturday, 23 May 2026
Next Post
Ketua Deprov Gorontalo Paris Jusuf bersama Penjabat Gubernur Gorontalo, dan sejumlah pejabat Pemprov mendengarkan paparan progres pekerjaan Bendungan Bulango Ulu, Bone Bolango, Sabtu (16/3). (Foto: Humas)

Bendungan Bulungo Ulu Bakal Diresmikan Agustus, Paris Minta Pekerjaan Tepat Waktu

Discussion about this post

Rekomendasi

Basri Amin

Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

Monday, 8 June 2026
Gubernur Gusnar Ismail pada peresmian Gorontalo menjadi tuan rumah Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan. (foto: dok-pemprov)

PENAS Gorontalo Kamar Hotel Full Booking

Monday, 8 June 2026
Polsek Wonosari bergerak cepat menangani peristiwa meninggalnya seorang masyarakat yang diakibatkan tersengat aliran listrik.

Warga Wonosari Tewas Tersengat Listrik

Monday, 8 June 2026
Rapat persiapan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Aula Rumah Jabatan Gubernur, Jumat (5/6/2026). (Foto : Valen)

Gusnar-Idah Pimpin Rapat Evaluasi Persiapan PENAS XVII Gorontalo

Monday, 8 June 2026

Pos Populer

  • Basri Amin

    Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • PENAS Gorontalo Kamar Hotel Full Booking

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Warga Wonosari Tewas Tersengat Listrik

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Gusnar-Idah Pimpin Rapat Evaluasi Persiapan PENAS XVII Gorontalo

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • In Memoriam Mohammad Kilat Wartabone, Pendiri Pondasi Bone Bolango

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.