logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Home Persepsi

Pemimpin Generasi Baru

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 20 November 2023
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh :
Basri Amin
Parnerdi Voice of Hale-Hepu

 

MAKIN terkesan bahwa orang-orang muda (kita) di negeri ini mengalami guncangan rujukan dan keteladanan. Nama-nama pejabat, orang-orang sekolahan, para juara, dan para pengusaha terus bertambah dan berubah setiap waktu, tapi mereka tak jua berhasil (sepenuhnya) menjadi “rujukan”, apalagi menjadi teladan dan pemimpin yang punya legacy dan pencapaian luhur.

Yang banyak dirayakan adalah kemenangan angka-angka, bukan kebenaran nilai-nilai yang melintasi panggilan zaman dan generasi.

Related Post

Dari Street Justice menuju Digital Justice

Pemilihan Kepala Daerah dan Arah Demokrasi Kita

Bupati-Bupati Kita

PETI di Boliyohuto Cs Semakin Marak, APH Apa Kabar?

Generasi muda kita, sebagaimana tampak di amatan saya, mengalami “kebanggaan yang berjarak” dengan para pemimpinnya. Di luar itu, terpola pula jarak lain yang lebih serius, yakni jarak dengan sesamanya sebagai warga bangsa.

Kita terpilah-pilah dengan identitas yang terpecah karena persepsi normatif dan asesori hidup: antara golongan kaya dan golongan biasa; antara turunan pejabat dan keluarga pekerja; antara yang menumpuk aset-aset pribadi di berbagai ruang publik dan kaum pinggiran yang hidupnya tergantung pada konsumsi (kredit) dan bisnis (cicilan).

Terasa pula bahwa generasi masa kini tak punya cara menemukan patokan-patokan moral dan intelektual dalam ukuran sehari-hari. Mereka kesulitan menyebut nama-nama kampion terbaik di bidang-bidang yang mengubah hajat-hidup orang banyak, yang terakui oleh bangsanya dan dunia. Mereka juga tak punya sumber belajar yang objektif dalam menemukan itu semua.

Di buku-buku pelajaran, “pembelajaran moral” yang potensial mereka bisa simak dan hayati terlalu menumpuk di sebuah zaman di mana anak-anak kita tak punya koneksi psikologis dan geografis sedikit pun. Nama-nama pahlawan yang hebat nun jauh di sana, di pulau dan daerah-daerah yang tak pernah mereka kunjungi…

Jarak demik jarak terus melebar –dalam ukuran waktu dan tempat–, dan semua itu (hanya) menyisahkan daftar hapalan (peristiwa) yang tak bermakna. Alih-alih menjadi pelajaran, yang membesar justru sebagai beban-beban yang memilukan.

Kisah-kisah getir tentang kemiskinan dan kesenjangan, keadilan dan hukum yang diinjak, lembaga pendidikan yang melahirkan “para tukang” dan pengangguran, kekuasaan yang gemuk dengan regulasi dan praktik korupsi; sumberdaya alam yang dikuras habis-habisan, serta harmoni sosial yang (kini) rentan tercabik-cabik, dst.

Keterceburan di media sosial dan suguhan tontotan media lebih banyak melebarkan ruang-ruang hampa akan cita-cita masa depan. Hadirnya sosok-sosok hedonis dan oportunis sangat terang-benderang merusak (struktur) kognisi dan (kultur) afeksi anak-anak kita. Jika tak percaya, ajukanlah pertanyaan-pertanyaan biografis yang memadai kepada mereka, termasuk di level mahasiswa di perguruan tinggi. Saya banyak menemukan, bagaimana “kedangkalan” pengetahuan itu terjadi. Mereka masih banyak yang gagap dengan abad ini.

Secara lokal, tanpa bermaksud berlebihan, produksi dan reproduksi pengetahuan di kalangan muda kita di Gorontalo belum tampak signifikansinya. Di beberapa sekolah unggulan di daerah ini, demikian juga di jurusan-jurusan yang “sehat” iklim akademisnya, tentulah kita berbangga akan pencapaian mereka.

Meski demikian, ruang yang lebih luas yang menjamin perkembangan selanjutnya yang lebih membumi-berdampak, makin menjauh di pelupuk mata. Setidaknya, kita tak punya instrumen dan media yang mampu mewadahi atau memproyeksi perkembangan kemajuan anak-anak kita. Kita tak punya pusat-pusat unggulan yang mengawal perkembangan ilmu pengetahuan dan wawasan kebudayaan yang handal ke masa depan.

Jargon “manusia unggul” dan visi “Indonesia Emas 2045” membutuhkan konsolidasi di tingkat lokal dan regional. Dinamika (hadiah) demografi kita tak bisa disikapi sederhana dengan ilmu-ilmu lama yang semata lincah menghitung angka-angka dan fakta-fakta material yang disertai gelombang-gelombang (kurva) analisis, tetapi seharusnya mampu dirumuskan sejak dari dasar-dasar kebudayaan dan spirit keIndonesaan kita. Apa itu? Adalah kebangsaan yang etosnya terpantul dalam tradisi pergaulan dunia dan kemajemukan lintas bangsa. Adalah juga, dari sebuah struktur jiwa bangsa yang tumbuh-kokoh dari kesadaran yang egaliter dan demokratis, termasuk dalam soal-soal etik berpemerintahan/bernegara dan visi tata-kelola sumberdaya.

Generasi baru akan tetap saja mengalami kesulitan produktif. Ini terjadi bukan karena “kekangan” dari sektor kekuasaan yang arogan, melainkan berupa sikap-sikap keseharian kita yang gagal menciptakan iklim produktif yang bersentuhan langsung dengan kalangan muda. Percakapan yang tidak menggugah aspirasi penemuan baru di ruang-ruang pendidikan; sikap-sikap defensif yang mereduksi hak-hak anak-anak kita di bidang-bidang yang mewadahi talenta mereka, adalah bentuk-bentuk dari “iklim sosial” yang melemahkan proses “menjadi unggul” sebagai bangsa.

Kita cenderung abai dengan kondisi ini, dan terlalu percaya dengan normalitas zaman yang demikian terbuka terhadap informasi dan komunikasi; sembari yakin bahwa teknologi adalah jawaban atas segalanya. Fatal, bukan? Justru, teknologi adalah “alat” bagi sebuah pencapaian atas kepentingan (interests) tertentu. Bangsa-bangsa seperti China, India, Korea Selatan, Singapore, dan,–-yang paling fenomenal 20 tahun terakhir ini—Vietnam, mereka semuanya sangat jelas berhasil merasuki jiwa bangsanya dengan “interest” abad 21.

Mimpi untuk melahirkan etos “pergaulan dunia” di kalangan muda kita, termasuk di Gorontalo, sudah harus dikerjakan lebih progresif. Jangan lagi dengan retorika, tapi sudah harus ditancapkan sebagai “panggilan etis” kegenerasian.

Dengan segala maaf, cakrawala seperti ini masih bergerak di skala kecil, terutama di kalangan keluarga berada yang dan yang terdidik –itu pun, saya kira, belum merata–. Jika ini yang terus membesar, daerah kita hanya akan menjadi “daerah pinggiran” yang hanya bergerak dan membangun karena negara masih bergerak dan “memberi” sepenggal potongan (persentasi) kue APBN/APBD di republik ini. ***

 

 

Penulis adalah Bekerja di Universitas Negeri Gorontalo
Anggota Indonesia Social Justice Network (ISJN)

Tags: basri aminpersepsispektrum sosial

Related Posts

Ahmad Zaenuri

Dari Street Justice menuju Digital Justice

Wednesday, 14 January 2026
Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo   

Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo  

Wednesday, 14 January 2026
Ridwan Monoarfa

Pemilihan Kepala Daerah dan Arah Demokrasi Kita

Monday, 12 January 2026
Basri Amin

Bupati-Bupati Kita

Monday, 12 January 2026
PETI di Boliyohuto Cs Semakin Marak, APH Apa Kabar?

PETI di Boliyohuto Cs Semakin Marak, APH Apa Kabar?

Friday, 9 January 2026
Yusran Lapananda

Tahun Baru, KUHAP Baru & KUHP Baru

Tuesday, 6 January 2026
Next Post
SERTIFIKAT. Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo saat menerima sertifikat yang diserahkan langsung oleh Inspektur Upacara Plt. Gubernur Lemhanas.

Nelson Akui Beroleh Wawasan Selama Ikut KPPD, Siap Implementasikannya Di Daerah

Discussion about this post

Rekomendasi

Tiga pelaku kekerasan seksual di amankan Polres Bone Bolango, Kamis (15/1/2026) Foto: Natharahman/ Gorontalo Post.

Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

Friday, 16 January 2026
Irjen Pol Widodo

Kapolda Kaget PETI Dekat Mapolres, Picu Banjir di Pohuwato, Pastikan Penindakan

Thursday, 15 January 2026
Lodrik Dantene Kepala Desa Londoun, Kecamatan Popayato Timur, Kabupaten Pohuwato. Saat di wawancarai

Ekonomi Masyarakat Desa Londoun Meningkat, Tenaga Kerja Banyak Diserap PT BJA

Wednesday, 21 February 2024
Kapolda Gorontalo Irjen Pol. Widodo, S.H., M.H., didampingi Kapolres Pohuwato, AKBP H. Busroni,S.I.K.,M.H., Wakil Bupati Pohuwato, Iwan S. Adam dan sejumlah pejabat daerah serta PJU Polda Gorontalo, meresmikan layanan SIM dan Samsat Drive Thru.

Layanan SIM dan Samsat Drive Thru, Digagas Kapolres Pohuwato, Jadi yang Pertama di Gorontalo

Saturday, 17 January 2026

Pos Populer

  • Para pejabat pimpinan tinggi pratama di lingkungan Pemprov Gorontalo yang menajalani pelantikan, berlangsung di ruang dulohupa kantor gubernur, Senin (12/1). (foto: tangkapan layar)

    BREAKING NEWS: Gusnar Lantik 25 Pejabat Pemprov, Berikut Nama-namanya

    590 shares
    Share 236 Tweet 148
  • Dukung Program Presiden, Yayasan Kumala Vaza Grup Salurkan CSR ke 20 Sekolah

    79 shares
    Share 32 Tweet 20
  • Kemendikdasmen Salurkan Laptop untuk Sekolah Dasar Dukung Digitalisasi Pembelajaran

    187 shares
    Share 75 Tweet 47
  • Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

    46 shares
    Share 18 Tweet 12
  • Bupati-Bupati Kita

    49 shares
    Share 20 Tweet 12
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.