logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Horeeee FIFA

Lukman Husain by Lukman Husain
Tuesday, 11 October 2022
in Disway
0
Bencana Sapura

DISWAY

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh

Dahlan Iskan

AJAIB. FIFA tidak menghukum Indonesia. Ada yang bilang itu karena Pak Jokowi hebat. Ada yang berpendapat ini karena tidak dianggap kerusuhan sepak bola. Ini murni masalah aparat keamanan.

Presiden Jokowi memang menelepon presiden FIFA. Cepat sekali. Yakni hanya tiga hari setelah tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 131 suporter Arema FC.

Presiden kelihatannya memberikan banyak konsesi untuk perbaikan ke depan. Termasuk mengubah banyak stadion; agar sesuai dengan ketentuan organisasi induk sepak bola dunia itu. Juga berkomitmen untuk mengadopsi protokol pengamanan pertandingan yang ditetapkan FIFA. Menurut Presiden Jokowi, bulan depan atau depannya lagi presiden FIFA akan datang sendiri ke Indonesia. Untuk bertemu pemerintah.

Pokoknya Indonesia aman dari sanksi. Hebat sekali.

Related Post

Serius Nonsense

Desil Kuantil

Karya Perkara

Lima Miliar

Saya mencatat Presiden Jokowi memang punya keinginan besar untuk memperbaiki sepak bola Indonesia. Sejak dulu. Di masa jabatan periode pertama, Presiden Jokowi berhasil merobohkan PSSI lama. Presiden SBY pun, menurut catatan saya, juga jengkel dengan PSSI saat itu. Beliau juga turun tangan untuk mengganti PSSI. Agak berhasil. Kongres dilakukan. Tapi yang terpilih tidak seperti yang dikehendaki Presiden SBY. Otonomi PSSI –tidak boleh dicampuri pemerintah– membuat pemerintah saat itu  merasa sulit ikut campur.

Di zaman Pak Jokowi, PSSI berhasil dirobohkan. Caranya sangat canggih. Tanpa bisa dianggap mencampuri PSSI. Tapi ketika membangun kembali PSSI rupanya tidak juga bisa tuntas.

Maka kalau Presiden Jokowi memberikan banyak komitmen kepada FIFA, itu bukan hanya karena agar tidak kena sanksi. Beliau memang punya keinginan sepak bola maju. Mungkin dengan berkomitmen pada FIFA itulah jalan untuk memaksa sepak bola Indonesia bisa maju.

Tentu FIFA melarang aparat keamanan menggunakan gas air mata di stadion. Tapi penonton yang meloncat pagar juga dilarang. Hanya, apa saja hukuman bagi peloncat pagar belum ada. Yang jelas bukan ditendang atau dipukul. Apalagi disemprot gas air mata.

Sebenarnya ada bentuk hukuman administratif: dilarang masuk stadion. Bisa setahun, dua tahun, dan bahkan bisa seumur hidup. Berarti yang loncat pagar di Kanjuruhan, di Sidoarjo, di Gelora Bung Tomo Surabaya dan di mana saja harus ditangkap: untuk ditanya identitasnya. Lalu diserahkan ke klub setempat. Nama itu tidak bisa lagi beli karcis/gelang masuk stadion.

Sepanjang pengetahuan saya di Surabaya, pembeli karcis Persebaya harus mengisi nomor KTP. Identitas itu masuk ke barcode yang ada di gelang. Kemajuan teknologi bisa dipakai menghukum secara administrasi para peloncat pagar.

Polisi juga tidak perlu menahan mereka. Atau menginterogasi mereka. Mereka itu bukan penjahat. Mereka itu nakal. Ada yang sekadar kenakalan remaja –meski banyak orang dewasa ingin dimasukkan kategori remaja.

Polisi terlalu repot kalau harus mengurus anak-anak nakal itu. Kalau harus ditahan hanya akan menghabiskan jatah makanan. Kalau harus diinterogasi dan dibuatkan BAP, hanya ngabisin kertas. Dan menguras emosi polisi.

Jadi kalau ada yang loncat pagar dilihat saja mau apa ia. Paling ia hanya lari-lari muter lapangan. Biar dilihat penonton. Mereka mau show: “Nih. Saya. Jagoan. Bisa masuk lapangan”! Lalu minta selfie dengan pemain. Selesai.

Setelah itu baru KTP diminta. Suruh ambil di kantor polisi. Datanya diserahkan ke klub. Agar dimasukkan daftar hitam pembelian karcis.

Kenakalan loncar pagar sih mudah ditangkap. Yang agak sulit mungkin menerapkan sanksi untuk ujaran kebencian. Terutama kebencian kepada wasit. Atau kebencian pada tim lawan atau suporter tamu.

Ini banyak terjadi di stadion-stadion legendaris: Surabaya, Malang, Bandung, Semarang, Jakarta, Makassar, Solo, Sleman. Saya tidak melihat itu di Bali, Samarinda, Aceh atau Padang. Atau mungkin belum.

Di sana, dari kalangan suporter fanatik itu sering keluar kata-kata provokasi. Pun di Surabaya. Juga di Malang. Misalnya begini: “kalau kalah, gelut wae“.

Maksudnya: karena main bolanya kalah maka berkelahi saja.

Itu cerminan suporter yang malu karena timnya kalah. Maka ganti suporter saja yang berkelahi, pasti menang.

”Pasti menang” di situ karena menggunakan logika keroyokan. Jumlah suporter tuan rumah pasti lebih banyak. Maka teman-teman mereka akan menyambut antusias: iyo wis, gelut wae! Benar. Berkelahi saja.

Yang begitu biasanya juga datang dari kelompok remaja. Maka jangan terlalu juga diambil hati. Apalagi sampai menendang mereka.

Ada ujaran kebencian yang kelihatannya sulit dilakukan penangkapan. Yakni ketika wasit dianggap tidak adil pada tuan rumah. Dan itu terjadi tidak hanya satu kali.

Melihat itu penonton akan serentak meneriakkan yel yel “wasit maling, wasit maling, wasit maling”. Satu stadion menggema dengan yel tersebut.

Apakah itu ujaran kebencian? Kalau pun iya, rasanya sulit memerkarakannya. Mereka sudah atur. Ribuan penonton di sisi sini hanya meneriakkan kata “wasit”. Ribuan penonton yang di seberang sana hanya meneriakkan kata “maling”. Maka tidak ada satu orang pun yang benar-benar meneriakkan kata “wasit maling”.

Maka sebenarnya, yang prioritas dibenahi adalah stadion yang gawat-gawat itu saja. Agar pertandingan sepak bola bisa segera bergulir kembali. Stadion yang lain-lain tidak punya masalah. Jangan ikut digantung.

Surabaya, Jakarta, dan Solo praktis tidak perlu pembenahan lagi. Kanjuruhan bisa dilakukan dengan cepat. Demikian juga yang lain.

Horeeee Indonesia tidak dihukum FIFA.

Arema sebaiknya segera bertemu lagi dengan Persebaya. Giliran Persebaya yang tuan rumah.

Saya memimpikan Bonek-Bonita menyediakan sepertiga stadion untuk Aremania-Aremanita.

Aremania juga diberi waktu menyanyikan lagu kebangsaan mereka. Disusul dengan lagu kebangsaan Persebaya. Lalu bersaing selama 90 menit. Setelah itu bersama-sama menyanyikan lagu Padamu Negeri. Atau dangdut Ojo Dibanding-bandingke. Joget bersama.

Hidup FIFA. (*)

Tags: Dahlan IskanDisway

Related Posts

Serius Nonsense

Serius Nonsense

Wednesday, 9 September 2026
Desil Kuantil

Desil Kuantil

Monday, 7 September 2026
Karya Perkara

Karya Perkara

Saturday, 5 September 2026
Lima Miliar

Lima Miliar

Friday, 4 September 2026
Hujan Salat

Hujan Salat

Thursday, 3 September 2026
Patriot Sejati

Patriot Sejati

Thursday, 3 September 2026
Next Post
Gula Merah Sulteng Masuk Gorontalo, Dijual Mulai Rp15 Rubu, Pedagang Klaim Rasa Lebih Manis

Gula Merah Sulteng Masuk Gorontalo, Dijual Mulai Rp15 Rubu, Pedagang Klaim Rasa Lebih Manis

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Poltekkes Gorontalo dan Warga Tinelo Olah Sampah Plastik Menjadi Furnitur Ecobrick

Poltekkes Gorontalo dan Warga Tinelo Olah Sampah Plastik Menjadi Furnitur Ecobrick

Wednesday, 9 September 2026
Polemik Eks Rumah Jawatan, Adhan Ungkap Kejanggalan

Polemik Eks Rumah Jawatan, Adhan Ungkap Kejanggalan

Wednesday, 9 September 2026
Serius Nonsense

Serius Nonsense

Wednesday, 9 September 2026
Politisi Bisa Berganti, Rakyat Tetap Berdaulat

Politisi Bisa Berganti, Rakyat Tetap Berdaulat

Wednesday, 9 September 2026

Pos Populer

  • Poltekkes Gorontalo dan Warga Tinelo Olah Sampah Plastik Menjadi Furnitur Ecobrick

    Poltekkes Gorontalo dan Warga Tinelo Olah Sampah Plastik Menjadi Furnitur Ecobrick

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Polemik Eks Rumah Jawatan, Adhan Ungkap Kejanggalan

    103 shares
    Share 41 Tweet 26
  • Mens Rea dalam Doktrin & Norma

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Polres Boalemo Salurkan Air Bersih di Tinelo

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Kebakaran Semakin Tidak Terkendali, Dua Hari 11 Titik Lahan, Hutan hingga Rumah Warga Hangus

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.