logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Sepak Bola dan Karakter Bangsa

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Monday, 3 October 2022
in Persepsi
0
Generasi (Terbaik) Gorontalo

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

TGR, Kini Mengikat dan Didahulukan

Sehat yang Sesat

Tambang Emas Pohuwato, Berkah atau Kutukan Sumber Daya Alam? Dari Enclave Ekonomi ke Pengukit Pertanian dan UMKM

Transformasi Manajemen Sekolah di Era Kecerdasan Buatan

Oleh : 
Basri Amin

 

Kecewa berat! Kita berduka! Itulah perasaan kita setelah mengetahui ratusan karbon meninggal di Stadion Kanjuruhan, Malang. Laga dua kesebelasan bola papan atas kita, AREMA dan PERSEBAYA, akhirnya harus dicatat dalam “sejarah buram” persepakbolaan nasional kita, bahkan di tingkat dunia. Ini adalah tragedi olahraga nasional yang menyesakkan nalar-sehat kita, padahal hari-hari ini citra bola nasional kita sedang membaik dan membanggakan.

Fanatisme bola! Tata-kelola persepakbolaan! Mungkin itulah tema sentralnya. Entah di Malang atau di kota (pulau) Ternate atau di Maracana, Rio de Janeiro, fanatisme bola akan selalu ada. Ia adalah sebuah pengidolaan yang mengikat. Melalui itulah legenda dan karakter para bintang dipercakapkan. Kegirangan bersama atas kemenangan adalah sesembahan musiman. Taktik demi taktik dipelajari secanggih mungkin. Reputasi klub dan negara dielukkan. Kemegahan stadion menjadi penanda (martabat) kota dan bangsa. Harga pemain menjadi taruhan. Brutalisme sesekali menyertai sejarahnya. Begitulah dunia bola merasuki kultur masyarakat manusia.

Di Italia, “bola adalah agama”. Ia berfungsi sejenis “agama sipil” yang terterima secara nasional. Kendati dirasa berlebihan bagi bangsa-bangsa lain, tapi sejak 1960an kebesaran sebuah tim bola di Italia diagung-agungkan. Klub sebesar Inter misalnya, di awal kehebatannya, disebut-sebut sebagai klub yang “disentuh dengan tangan Tuhan”. Tak heran kalau perkembangan bahasa bola Italia pun berkembang sedemikian rupa dengan terma-terma agama, semisal “penyelamatan” (la salvezza), atau “keajaiban” (miracolo), atau fanatisme penonton/fans (la fede).

Kehadiran media pendukung pun tak kalah hebatnya. Bisa dibayangkan klub terbesar Italia, AC Milan, mempunyai banyak media di beberapa kota, antara lain di Milan sendiri dengan Gazzetta dello Sport atau di Roma dengan Corriera dello Sport, juga didukung oleh Tuttosport di Turin. Sebaran tabloid-tabloid ini sejak dulu bisa ditemukan di kantor-kantor pemerintah, di bar-bar dan di tempat-tempat gunting rambut di lorong-lorong kecil di Catania. Pembacanya jutaan di seluruh Italia. Selain itu, kehadiran Radio (Tutto il Calcio) juga tak kalah sengitnya menyiarkan setiap menit perkembangan bola Italia, terutama di musim Liga. Cerita demi cerita bola sedemikian rupa didramatisasi kepada publik.

Tapi, di balik ini semua adalah tentang “akar bola” yang tumbuh-bergerak dari dalam keseharian masyarakat Italia itu sendiri. Kebesaran klub Juventus misalnya, tak lepas dari kepemilikan dan penyelenggaraan awal dari sebuah keluarga kaya Agnelli sejak pertengahan 1930an. Juventus kemudian terus membesar di era 1950an dan jatuh-bangun sejarahnya terus-menerus hingga hari ini. Berkembangnya industri di Turin dan meluasnya kelas pekerja yang datang dari berbagai kota, termasuk dari kepulauan Sicily dan Sardinia, kemudian membesarkan Juventus sebagai klub yang “menyatukan” kelas-kelas sosial yang mentransformasi dan membesarkan kota Turin hingga akhirnya Juventus menjadi kebanggaan (nasional) Italia. Di kemudian hari, karakter Juventus semakin nyata: “bermain sederhana, serius, tenang”.

Tak lama setelah itu, di periode 1960an, di kota Milan –kota yang dikenal sebagai ‘pusat moral’-nya Italia–, juga berkat perkembangan industrinya, akhirnya Milan berubah menjadi nama klub (kota) bola yang besar. Mereka pun menempa karakternya sendiri yang berhasil memadu seni bermain dengan kemampuan teknik-defensif yang hebat (catenaccio). Bagi kita di Indonesia, adalah cukup mudah menyaksikan bagaimana kedua klub bola Italia ini (Milan dan Juventus) membentuk fans fanatiknya di Indonesia. Logo Juve dan Milan cukup sering terlihat di kendaraan, di rumah-rumah, atau di ruang-ruang lain yang menegaskan koneksi (emosi) perbolaan itu.

Sejarah bola bisa ditemukan jauh ke belakang, di abad lampau di era Dinasti Han di Tiongkok. Dikenal dengan permainan CuJu. Di Jepang, sejak abad ke-12 dikenal permainan Kemari. Popularitas Kemari berlangsung sangat lama sampai di periode Tokugawa (1868). Di masyarakat Melayu, Sepak Raga adalah permainan yang terkenal di banyak komunitas Melayu di Sulawesi atau di Sumatera. Di kemudian hari, pengaruh bahasa Thai melengkapi penamaannya: Sepak Takraw.

Di Eropa sendiri, di Inggris terutama, sejak pertengahan abad ke-19, sepak bola (football/soccer) adalah permainan yang secara formal masuk di kurikulum sekolah. Di Perancis, sejak Abad Pertengahan, mereka mengenal permainan bola, Soule. Demikian pula di Amerika Tengah, bola merupakan bagian dari ritual. Di Florence (Italia), permainan bola dikenal dengan nama Calcio. Masyarakat Skotlandia dan Inggris memainkan bola di desa-desa. Adapun bola modern yang mengenal asosiasi dan aturan-aturan khusus nanti diperkenalkan di Inggris sejak akhir abad ke-19, bermula dari Cambridge dan Harrovian pada tahun 1863 (Amstrong & Giulianotti, 1999; Goldblatt, 2006).

Sampai akhir abad ke-19, permainan bola lebih banyak menyedot perhatian dan heroisme di kawasan-kawasan urban di Inggris di mana “kelas pekerja” (working class) secara dominan membutuhkan bola sebagai “penyatu identitas” mereka. Di balik heroisme permainan bola tertanam sebuah kebanggaan komunitas dan etos kerja (bersama) yang mewadahi kolektivitas kelas-pekerja yang intens menegaskan politik-komunitasnya di setiap kota yang berkembang industrinya. Dengan itulah klub-klub bola membesar di Inggris, sebagai wadah kebanggaan lokal di setiap kotanya. Lama kelamaan menjadi sesuatu yang melembaga, berbasis bisnis, kepemilikan dan organisasi klub, bahkan melahirkan elitisme (bisnis) baru di antara pemain ternama dan keriangan-permainan-tontonan yang dipicu oleh kebanggaan klub, organisasi fans, kemegahan stadion dan media (Goldblatt, 2006).

Ketika bola mencapai globalitasnya seperti saat ini, hampir semua negara menjadikan bola sebagai simbolisme (baru) bagi kebangsaannya di panggung dunia. Kendati ada pengecualian bagi Australia, Amerika, India, dan beberapa negara lain. Dari sisi estetika, gaya permainan, talenta pemain, dan taktik bola akan terus berkembang. Yang menang dan yang kalah pun pasti saling-melawan di setiap musim. Yang tidak pernah berubah adalah “bentuk” dari bola itu sendiri. Ia punya ke-abadi-annya sendiri. Ia adalah “pusat” dari permainan. Dengan itulah manusia menegaskan diri kolektifnya sebagai “makhluk bermain” (Homo Ludens), menurut karya seminal pemikir Belanda, Johan Huizinga (1949 [1970]).

Celakanya, ketika Indonesia kita tengah naik daun reputasi bola-nya dengan pelatih terbaiknya Shin Tae-Yong (STY), setelah Timnas mengalahkan Curacao minggu lalu dan peringkat FIFA kita langsung membaik. Tapi, ternyata, di akar bawah, edukasi masyarakat bola kita belum berjalan baik. Tragedi Kanjuruhan, Malang, Sabtu 1 Oktober 2022, adalah bukti terang tentang masih “keroposnya” karakter kita di sektor olahraga.***

Penulis adalah Parner di Voice-of-HaleHepu
E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: Arema FCArema Malangbasri aminFIFAPersebayaPSSISepakbolaspektrum sosial

Related Posts

Yusran Lapananda

TGR, Kini Mengikat dan Didahulukan

Tuesday, 26 May 2026
Basri Amin

Sehat yang Sesat

Monday, 25 May 2026
Tambang Emas Pohuwato, Berkah atau Kutukan Sumber Daya Alam?  Dari Enclave Ekonomi ke Pengukit Pertanian dan UMKM

Tambang Emas Pohuwato, Berkah atau Kutukan Sumber Daya Alam? Dari Enclave Ekonomi ke Pengukit Pertanian dan UMKM

Saturday, 23 May 2026
Optimalisasi Manajemen SDM Pendidikan: Mitigasi Burnout Tenaga Pendidik di Tengah Arus Digitalisasi

Optimalisasi Manajemen SDM Pendidikan: Mitigasi Burnout Tenaga Pendidik di Tengah Arus Digitalisasi

Saturday, 23 May 2026
Transformasi Manajemen Sekolah di Era Kecerdasan Buatan

Transformasi Manajemen Sekolah di Era Kecerdasan Buatan

Saturday, 23 May 2026
Dari Kapur ke Kecerdasan Buatan: Revolusi Manajemen Pendidikan Masa Kini

Dari Kapur ke Kecerdasan Buatan: Revolusi Manajemen Pendidikan Masa Kini

Saturday, 23 May 2026
Next Post
Harga Kopra Anjlok, Petani Mengeluh, Kelapa Muda Jauh Lebih Mahal

Harga Kopra Anjlok, Petani Mengeluh, Kelapa Muda Jauh Lebih Mahal

Discussion about this post

Rekomendasi

Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail semeja bersama para gubernur se sulawesi, dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dalam kegiatan apresiasi Pemerintah Daerah di Kendari, Sulawesi Tenggara, baru-baru ini. (Foto : Istimewa)

Gusnar Temui YSK Bahas Kredit ASN Pemkot, Pemotongan Gaji ASN Tetap Melalui Debit Otomatis

Tuesday, 2 June 2026
TETAP RAMAI - Suasana pelelangan ikan di Kota Gorontalo yang selalu ramai kendati harga ikan mengalami fluktuasi lantaran cuaca buruk. (Foto: dok/ gorontalopost)

Cuaca Buruk Picu Fluktuasi Harga Ikan

Tuesday, 2 June 2026
Pembekalan Ujian Komprehensif CBT dan Lisan, FEBI IAIN Gorontalo Siapkan Lulusan Unggul Hadapi Dunia Kerja

Pembekalan Ujian Komprehensif CBT dan Lisan, FEBI IAIN Gorontalo Siapkan Lulusan Unggul Hadapi Dunia Kerja

Wednesday, 3 June 2026
Iptu Gendut Hartono

Cegah Kecelakaan Lalu Lintas, Anak di Bawah Umur Diimbau Tidak Berkendara

Tuesday, 2 June 2026

Pos Populer

  • Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail semeja bersama para gubernur se sulawesi, dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dalam kegiatan apresiasi Pemerintah Daerah di Kendari, Sulawesi Tenggara, baru-baru ini. (Foto : Istimewa)

    Gusnar Temui YSK Bahas Kredit ASN Pemkot, Pemotongan Gaji ASN Tetap Melalui Debit Otomatis

    24 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Peringati Hari Lahir Pancasila, BRI BO Gorontalo Gelar Upacara, Tekankan Komitmen Melayani

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Cuaca Buruk Picu Fluktuasi Harga Ikan

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Cegah Kecelakaan Lalu Lintas, Anak di Bawah Umur Diimbau Tidak Berkendara

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • Satu Rumah di Dungaliyo Hangus Terbakar

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.