logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Biomasa
Home Disway

Kera Slow

Lukman Husain by Lukman Husain
Tuesday, 7 June 2022
in Disway
0
Bencana Sapura

DISWAY

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Serangan Fajar

Bela Khamenei

Tujuan IsAm

Krisis Bahlil

Sore yang panas. Tas itu kami tinggal di kamar. Kami keliling kawasan pertambangan di daerah  hulu antara sungai Senyiur dan sungai Belayan –dua anak sungai Mahakam.

Tiga jam kami bermobil. Lewat jalan-jalan lebar yang dibangun khusus untuk angkutan batu bara. Truk yang lewat pun khusus. Besar dan besar sekali. Satu truk bisa mengangkut 100 ton batu bara. Ada yang bisa sampai 180 ton –bak truknya digandeng. Kami melewati jalan sepanjang 70 km untuk bisa sampai ke tambang.

Lalu mampir ke kebun binatang.

Hahaha… Ada kebun binatang di situ. Tidak kaleng-kaleng. Luasnya  lebih 200 hektare. Pemiliknya:  Bayan Resources. Datuk Low, si penguasa tambang di situ. Kebun binatang ini ternyata tidak jauh dari mess Haji Aseng.

Di tengah kebun binatang itu ada seperti club house. Bentuknya villa-villa. Ada juga tempat minum kopi. Ruang rapat. Dan gym. Di situlah para eksekutif Bayan bermalam. Kalau lagi datang ke lokasi tambang.

Haji Aseng mengajak saya minum kopi dulu. Di kompleks villa-villa itu. Kami sudah berjam-jam keliling kawasan. Waktunya istirahat. Lihat kebun binatangnya besok pagi saja.

Kedatangan saya di villa itu, rupanya, langsung diinformasikan ke manajemen mereka di Jakarta. Maka saya pun diminta bermalam di salah satu villa di situ.

“Saya di mess Haji Aseng saja,” jawab saya. Saya ngotot pilih tetap tinggal di mess. Saya tidak mau Haji Aseng punya pikiran ”dapat istri muda yang lebih cantik, yang tua ditinggalkan”.

Tapi Haji Aseng bukan istri tua. Ia justru mendorong saya untuk menerima tawaran itu. Setengah memaksa.

“Besok Datuk Low datang. Tinggal di sini. Sekalian bisa bertemu dan makan siang dengan beliau,” ujar staf di situ.

Tentu saya ingin bertemu orang sekaya itu. Belum tentu saya bisa menemuinya di Jakarta. Atau di Singapura. Urusan tas kecil itu mudah. Bisa dijemput untuk dibawa ke villa ini.

Kami pun menghabiskan sore di situ. Sambil ngobrol soal tambang. Lalu disusul makan malam di situ. Dengan menu ikan nila yang di-fillet, dengan diberi topping sambal matah. Enak sekali.

Biasanya saya menghindari ikan nila. Kurang gurih. Pilih gurami. Tapi malam itu saya mendapatkan nila yang berbeda. Sejak itu saya mau makan nila masakan istri saya. Di Kaltim ini. Rupanya rasa nila di sini berbeda dengan yang di Surabaya.

Setelah makan malam saya mendapat sajian data: soal tambang Bayan Resource.

Lalu tidur. Villanya seperti di Bali. Memasuki kompleks villa ini saya lupa kalau lagi di tengah pertambangan batu bara. Rasanya saya seperti lagi di Ubud.

Agenda saya berikutnya: pagi-pagi senam dansa. Sendirian. Di gym. Dengan musik dari hand phone –saya punya stok lebih 100 lagu senam di situ.

Habis senam barulah kami keliling kebun binatang. Sambil menunggu kedatangan Datuk Low. Ia datang ke sini tidak naik speed boat seperti yang saya lakukan. Ia naik  helikopter dari Bandara Balikpapan.

Sambil berjalan menuju bonbin, saya pun bertanya: mengapa membangun kebun binatang begini besar. Di lokasi yang begini pedalaman. Yang jangankan kota, kampung terdekat pun berpuluh kilometer jauhnya.

“Datuk Low sangat menyukai binatang,” ujar staf di situ.

Kebun binatang ini terpencar di empat atau lima kelompok. Kelompok burung dibikinkan rumah khusus. Atapnya jaring. Luasnya, ups, 2 hektare. Ratusan jenis burung ada di sini. Ribuan jumlahnya. Dari seluruh Indonesia. Juga dari banyak negara.

Kelompok harimau dibikinkan kawasan berjeruji besi seluas 1 hektare. Yang ada kandang di tengahnya. Di kandang itulah tempat mereka makan: 7 kg daging sehari. Per ekor. Ada 8 ekor di situ. Awalnya petugas mengajari mereka: agar setiap jam 5 sore menuju kandang. Untuk makan. Kini, tanpa diajari, harimau itu sudah tahu: setiap jam 5 sore pasti pulang untuk makan.

“Seminggu sekali harimau itu kami wajibkan puasa. Tidak makan 24 jam,” kata penjaga di situ. “Untuk menjaga selera makan,” tambahnya.

Kelompok menjangan jadi satu dengan kuda. Khusus untuk koleksi kuda dibuatkan kandang ber-AC. “Kuda-kuda ini dari Belanda. Kami sesuaikan suhunya dengan di sana,” ujar penjaga kuda.

Kelompok unggas, termasuk burung unta, merak, dan berbagai jenis flamingo diberi tempat tersendiri. Luar biasa banyak jenis unggas dari banyak negara. Dengan warna bulu yang berbeda-beda.

Lalu ada kelompok kura-kura. Ternyata begitu banyak jenis kura di dunia. Ada pula kelompok ikan. Kolam ikan arwananya saja dua buah. Besar-besar. Yang dicampur dengan ikan patin. Dua-duanya bisa disatukan. Arwana bergerak di permukaan air. Patin di dasar kolam. Keduanya sama-sama hanya mau makan ikan kecil.

Maka di kompleks ini ada kolam ikan nila yang besar. Sebagian untuk dimakan manusia, sebagian besarnya untuk makan arwana dan patin. “Arwananya lebih 3.000 ekor,” ujar penjaga arwana itu.

Anda harus hafal nama-nama binatang di situ, siapa tahu Bayan akan mengadakan kuis.

Untuk kebun binatang ini saja 100 karyawan ditugaskan penuh di sini. Umumnya orang dari penduduk sekitar. Dokter hewannya empat orang. Lulusan Udayana dan UGM. Masih ada pula ahli gizi khusus binatang. “Kera dan orang utan biasanya kekurangan protein,” ujar ahli gizi di situ. “Seminggu sekali, satu kera kami beri telur dua buah,” ujarnyi. Kurang protein itu lantaran makan mereka yang hanya lebih banyak buah. Ahli gizi binatang itu lahir di Bulungan, besar di Penajam, dan kuliah di Yogyakarta. Dua tahun bekerja di sini dia punya ide: menciptakan kue bergizi untuk binatang.

Kembali ke harimau. Delapan ekor itu awalnya hanya satu pasang. Dari Taman Safari. Di sinilah pasangan itu melahirkan untuk kali pertama: sepasang. Mati semua. Lalu melahirkan lagi sepasang. Hidup semua. Lalu melahirkan lagi dua kali. Masing-masing sepasang.

Sedang koleksi kudanya bukan kuda biasa. Datuk Low suka kuda mini. Tingginya, tertinggi, hanya 80 cm. Didatangkan dari Belanda. Sebanyak 12 ekor. Itulah sebabnya kandang kuda mini itu harus diberi AC. Masing-masing kuda diberi nama. Saya masuk kandangnya Linda. Cantik. Dengan ekor kudanya yang seski. Dan rambutnya terurai.

Koleksi keranya lengkap sekali. Termasuk kera putih. Juga kera dari banyak negara. Saya lagi cari-cari kera yang wajahnya mirip saya: tidak ketemu.

Yang terbaru: ada kera “slow motion” dari Thailand –kera yang lucu karena geraknya sangat-sangat lambat.

Kera “slow motion” itu baru saja  tiba. Pagi itu. Masih ditempatkan di kandang khusus karantina –di belakang ”club house”.

Jam 10.30 helikopter Datuk Low tiba. Saya menyambutnya di teras club house. Ia hanya pakai hem dan celana sangat biasa. Umurnya 74 tahun. Masih lincah. Badannya sangat langsing.

Setelah menyapa saya, ia menoleh ke seorang staf. “Sudah datang?” tanyanya.

Yang ditanyakan itu soal kera “slow motion” tadi. Yang ditanya mengangguk.

“Kita lihat yuk…,” katanya pada saya.

“Saya sudah melihatnya tadi pagi,” jawab saya.

“Kita lihat lagi…,” pintanya.

Kami pun ke kandang karantina itu. Dua kera itu lagi tidur.

Dalam hati, saya tersenyum. Kok yang ditanyakan pertama soal binatang. Bukan perkembangan perusahaan.

Bagi kebanyakan orang, kebun binatang ini sudah satu perusahaan besar sendiri. Setidaknya pembiayaannya. Orang utan pun dibuatkan rumah yang sangat khusus. Salah satu anak orang utan itu sangat manja: minta terus digendong petugas wanita di kandang itu. Saya mencoba menggendongnya juga. Tidak mau. Ups. Ternyata mau. Ia bukan anak orang utan yang penakut.

Datuk Low pun mengajak ke kelompok burung. Ia terus bicara soal binatang. Dan binatang.

Ia sudah tahu soal perusahaan. Tidak perlu bertanya. Ia tentu hafal labanya tahun lalu saja Rp 30 triliun. Berarti laba Bayan dua kali lipat dari laba Adaro atau KPC–padahal produksinya hanya sekitar separo dari Adaro. Pun KPC.

“Betapa efisien Bayan,” kata saya. Dalam hati saja. (Dahlan Iskan)

SAMA sekali tidak sengaja. Tidak janjian. Saya bertemu orang yang kekayaannya naik Rp 30 triliun hanya dalam dua tahun itu (Baca Disway: Durian Low): Datuk Low Tuck Kwong. Di lokasi yang begitu jauh. Di pedalaman Kaltim yang sangat dalam.

Hari itu, sebenarnya, saya akan bermalam di mess staf kontraktor tambang milik Haji Aseng (Baca Disway: Haji Aseng). Saya sudah taruh tas di salah satu kamar di mess itu. Saya juga sudah menyumbangkan air tubuh di toiletnya. Bahkan saya sudah merencanakan mandi sebelum tidur dari air di ember di pojok kamar mandi itu.

Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway.

Tags: Dahlan IskanDisway

Related Posts

--

Serangan Fajar

Friday, 6 March 2026
--

Bela Khamenei

Friday, 6 March 2026
Ilustrasi strategi perang Israel-Amerika dalam menyerang Iran.--

Tujuan IsAm

Wednesday, 4 March 2026
Ilustrasi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan potensi krisis listrik dampak dari perang Israel vs Iran.--

Krisis Bahlil

Wednesday, 4 March 2026
Ilustrasi Joao Angelo de Sousa Mota dan misi besarnya untuk Koperasi Desa Merah Putih.--

Petir Agrinas

Monday, 2 March 2026
Ilustrasi penyerangan Israel-Amerika Serikat ke Iran.--

Bom Suci

Monday, 2 March 2026
Next Post
Hardi Sidiki Komitmen Lestarikan Karawo

Hardi Sidiki Komitmen Lestarikan Karawo

Discussion about this post

Rekomendasi

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Gorontalo, Maruly Pardede, saat memberikan keterangan pers. Rabu (04/02), di Mapolda Gorontalo.(Foto: Natharahman/ Gorontalo Post)

Polda Gorontalo: Transaksi Emas Tambang Ilegal Bisa Berujung Bui 5 Tahun

Thursday, 5 March 2026
Prof. Eduart Wolok

Studi Dokter Spesialis so Ada di UNG

Wednesday, 4 March 2026
Lapak pasar murah milik PT PG Gorontalo diserbu warga dengan penjualan gula murah Rp 16.000/kg. (Foto: Roy/Gorontalo Post).

Pabrik Gula Gorontalo Jual Gula Murah Stabilkan Harga Pasar

Friday, 6 March 2026
Ilustrasi Joao Angelo de Sousa Mota dan misi besarnya untuk Koperasi Desa Merah Putih.--

Petir Agrinas

Monday, 2 March 2026

Pos Populer

  • Prof. Eduart Wolok

    Studi Dokter Spesialis so Ada di UNG

    92 shares
    Share 37 Tweet 23
  • 10 Karyawan Perusahaan di Pohuwato Positif Narkoba

    61 shares
    Share 24 Tweet 15
  • Polda Gorontalo: Transaksi Emas Tambang Ilegal Bisa Berujung Bui 5 Tahun

    64 shares
    Share 26 Tweet 16
  • Audiensi Strategis: Investor Jepang Gali Informasi Legalitas dan Dampak Sosial PT BJA

    57 shares
    Share 23 Tweet 14
  • Menjembatani Visi-Misi Kepala Daerah dan Kerja Birokrasi

    55 shares
    Share 22 Tweet 14
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.