Gorontalopost.id – Pencegahan tumbuh dan berkembangnya permukiman kumuh di Provinsi Gorontalo terus dilakukan Pemprov di Gorontalo. Salah satu upaya yang dilakukan selain penyediaan infrastruktur penunjang bebas kumuh, digelar kegiatan penyadaran publik, seperti yang berlangsung di Kelurahan Leato Selatan, Kota Gorontalo, (3/6).
WILAYAH Kelurahan Leato Selatan, menjadi sasaran penanganan kawasan kumuh yang masuk dalam target rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) 2018-2022, dengan cakupan 10-15 Ha.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Provinsi Gorontalo, Ir. Aries N. Ardianto, M.M, didampingi Kabid Permukiman, Mohamad Iqbal, mengatakan, ada tujuh indikator atau parameter kumuh berdasarkan Permen PUPR, yakni terkait penataan bangunan gedung, jalan lingkungan, penyediaan air minum, drainase lingkungan, pengelolaan air limbah, pengelolaan persampahan dan pengamanan kebakaran. “Plus satu parameter, yakni ruang terbuka hijau,”ujar Aries.
Menurut Kadis Aries, penyadaran publik tumbuh dan berkembangnya permukiman kumuh di Provinsi Gorontalo, seperti yang berlangsung di Kelurahan Leato Selatan, Jumat (3/6), sangat penting, lantaran Kelurahan Leato Selatan merupakan salah satu kelurahan yang masuk dalam target rpjmd 2018-2022 kewenangan provinsi untuk penanganan kumuh 10-15 ha.
“Dimana target kumuh kewenangan provinsi dari tahun 2018-2022 sebanyak 109 ha terdapat di dua lokasi di Kota Gorontalo, termasuk Leato Selatan,”terganya. Dengan kegiatan penyadaran sadar kumuh, Aries berharap masyarakat dapat memelihara fasilitas yang telah dibangun pemerintah. Beberapa program yang telah dilakukan, seperti 2021 Dinas PRKP telah melakukan intervensi untuk perbaikan rumah tidak layak huni dalam kawasan kumuh, termasuk penanganan program KOTAKU.
Dalam kesempatan itu, Plt. Lurah Leato Selatan, dalam pengantarnya mengapresiasi kegiatan penyadaran publik pencegahan tumbuh dan berkembangnya permukiman kumuh di wilayahnya. Ia berharap kedepan, dengan kegiatan ini dapat menjadi sebuah perubahan dalam menjaga kualitas kawasan permukiman bebas dari kekumuhan.
Sementara itu, Ilham Hamid, koordinator provinsi program KOTAKU
menyampaikan, dalam peningkatan kualitas perumahan kumuh dan permukiman kumuh, terdapat pola-pola penanganan, yakni pemugaran, peremajaan dan pembangunan kembali.
“Leato Selatan berdasarkan SK kumuh Kota Gorontalo tahun 2017 dengan tingkat kekumuhan kumuh ringan. Aspek kekumuhan yang belum tuntas antara lain prasarana dan sarana pengelolaan air limbah, sistem pengelolaan persampahan dan ketidaktersediaan drainase,”jelasnya.
Kotaku juga telah melakukan intervensi di kawasan itu. Dalam kesempatan itu, Olan Jusuf dari Dinas Kesehatan Kota Gorontalo, menyampaikan, salah satu dampak kumuh adalah stunting. Menurutnya, Kawasan permukiman dan sangat erat kaitanya dengan stunting yakni 70 persen, 30 persen dari sisi kesehatan. (tro)












Discussion about this post