logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Resistensi

Lukman Husain by Lukman Husain
Wednesday, 9 March 2022
in Persepsi
0
Resistensi

Prof. Fory Armin Naway

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh 

Prof. Fory Armin Naway

Menggapai kehidupan yang lebih baik merupakan cita-cita dan harapan setiap orang. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Itulah tekad yang selalu terbersit dari setiap orang.

Dengan kata lain, hidup harus ada perubahan, dinamis dan progresif. Bekerja keras, tekun belajar dan semangat menyelesaikan pendidikan hingga ke jenjang yang lebih tinggi serta senantiasa mengasah keterampilan, kompetensi dan tampil profesional di bidangnya, merupakan sedikit dari banyaknya ikhtiar setiap orang untuk menggapai kehidupan yang progresif.

Namun terkadang, dalam proses melakukan ikhtiar untuk menggapai kehidupan yang progresif, terdapat atau ada-ada saja kendala, hambatan dan tantangan yang menghadang. Ada yang berhasil menghalaunya dan ada juga yang harus menyerah.

Dari sinilah pentingnya setiap individu untuk dapat mengidentifikasi berbagai “Resistensi” dalam menggapai hidup yang lebih baik, untuk selanjutnya mawas diri agar tidak terjebak pada persoalan hidup yang justru kian berat.

Related Post

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Profesi-Profesi Hebat

Dari Desa Andaleh ke Gorontalo: Mengakhiri Ilusi Peternakan Berbasis Bantuan

Kota Gorontalo, ‘298’ Tahun? (Catatan Terbuka kepada Wali Kota)  

Secara terminologi resistensi dapat dimaknai sebagai faktor yang menjadi penghambat atau faktor-faktor yang memiliki daya tolak, kontradiktif, perlawanan atau segala sesuatu yang justru berlawanan dan tidak sejalan dengan cita-cita, kehendak dan harapan hidup yang ideal. Resistensi bersumber dari 2 dimensi, yakni internal dan eksternal.

Resistensi yang bersumber dari internal, lebih menitikberatkan pada perilaku beresiko dari setiap individu. Artinya antara cita-cita, harapan dan obsesi tidak sejalan dengan sikap, perilaku maupun karakter yang menjelma dalam dirnya.

Ingin hidup sukses, namun tidak memiliki kemampuan untuk melawan “rasa malas”, tidak memiliki daya juang yang tinggi dan mudah menyerah.

Sementara resistensi yang bersumber dari dimensi eksternal, sangat terkait erat dengan faktor-faktor di luar diri seseorang, diantaranya ketersediaan fasilitas penunjang atau juga karena faktor orang lain.

Dalam konteks yang lebih luas dan dalam ranah kehidupan berbangsa, berdaerah serta bermasyarakat, sudah pasti terdapat “Resistensi sosial” yang tengah menyeruak dan mungkin akan terus mewarnai kehidupan kita sebagai bangsa yang sejatinya diidentifikasi sehingga lahir komitmen dan kesadaran kolektif untuk meminimalisir sekecil mungkin berbagai resistensi kemajuan.

Lebih dekat lagi, dalam ranah kemajuan Gorontalo ke depan, sebagaimana daerah-daerah lainnya di Indonesia, disadari atau tidak, terdapat pula resistensi-resistensi sosial yang menjadi penghambat kemajuan dan perubahan Gorontalo ke arah yang lebih baik.

Resistensi demi resistensi terkuak secara massif di tengah masyarakat yang perlu dicarikan solusi komprehensif sehingga tidak merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Gorontalo secara akut.

Jika diidentifikasi, resistensi sosial yang menjadi penghambat kemajuan dan masa depan Gorontalo yang lebih baik, diantaranya, mulai hilangnya identitas dan “jati diri’ sebagai orang Gorontalo yang tidak lagi memandang dan menghayati 5 prinsip dasar yang tertuang dalam “Payu Limo Totalu” yang diwariskan oleh leluhur Gorontalo, antara lain, “Bangusa Taalalo”, bangsa atau keturunan dijaga, “Lipu Poduluwalo” artinya negeri yang harus dibela, “nyawa podungalo” atau nyawa dipertaruhkan untuk Gorontalo, “batanga pomaya” jiwa dan raga diabdikan”, dan “upango potombulu” atau harta diwakafkan di jalan kebaikan.

Dalam tataran idealnya, jika nilai-nilai dari 5 prinsip dasar itu dimaknai dan dihayati oleh rakyat Gorontalo secara massif, maka dapat dipastikan bahwa daerah ini akan meraih lompatan-lompatan kemajuan yang signifikan hingga mampu meraih predikat “Lipu Pe’i Hulalu” atau negeri yang diibaratkan seperti “bulan purnama” yang memancarkan cahaya (nur) kedamaian, kesejukan dan kemakmuran dibawah Ridha dan Rahmat Allah SWT atau Baldatun Thayibbatun Warrabbun Ghafuur”.

Selain itu, jika nilai-nilai dari 5 prinsip dasar yang terkandung dalam “Payu Limo Totalu” tersebut, dimaknai dan dihayati dengan sungguh-sungguh, maka mentalitas-mentalitas yang menjadi resistensi kemajuan, seperti “Tutuhiya” atau saling menjatuhkan, mentalitas “Hihihita”, atau bersaing secara tidak sehat, mentalitas “Titi’uwa” atau saling sikut-menyikut, mentalitas “hehengeta” atau saling bertengkar, tidak akan menggejala di tengah masyarakat.

Sejatinya, justru yang patut ditumbuhkembangkan dalam proses membangun kemajuan dan perubahan bagi masa depan Gorontalo yang lebih baik adalah nilai-nilai “modelo hilawo” yakni mengapresiasi, mau belajar dan mencontoh orang lain yang sukses untuk menjadi sukses dan berjaya bersama, menghayati nilai-nilai luhur sebagai sosok “Ta Mo’odelo”, yakni kemampuan dari setiap individu orang Gorontalo untuk menselaraskan antara perkataan yang baik menjadi kenyataan yang baik atau “Poleleya uhepotuwomu’ pohuwatuwa uhepolelemu” artinya, sampaikan apa yang kamu kerjakan dan kerjakan apa yang kamu sampaikan.

Tidak hanya itu saja, nilai-nilai persatuan (buhuta waw walama), mohuyula atau gotong royong, Mo’awota atau senantiasa menjalin silaturahmi, merupakan instrumen kearifan lokal yang patut terus ditumbuhkembangkan di daerah ini sebagai wahana merajut kebersamaan merah kemajuan Gorontalo sebagaimana yang dicita-citakan.

Dengan demikian, orang Gorontalo pada hakekatnya memiliki modal dasar untuk meraih lompatan kemajuan, sepanjang warganya memiliki kesadaran kolektif untuk menanggalkan berbagai resistensi-resistensi yang dapat menghambat proses kemajuan dan perubahan ke arah yang lebih baik.

Resistensi terhadap perubahan menurut Oreg (2003) adalah perilaku yang dipicu oleh munculnya reaksi emosi negatif terhadap perubahan, enggan melakukan suatu perubahan, memiliki fokus jangka pendek ketika bekerja, dan memiliki pemikiran yang kaku (tidak open mind).
Dari pengertian ini dapat diperoleh gambaran, betapa resistensi kemajuan lebih disebabkan oleh faktor internal yang melekat dalam setiap individu-individu. Resistensi harus dilawan dengan meneguhkan “monumen akal sehat” agar hidup menjadi lebih bermakna.Semoga. (*).

Tags: Prof. Fory Armin Naway

Related Posts

Ridwan Monoarfa

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Friday, 17 April 2026
Basri Amin

Profesi-Profesi Hebat

Monday, 13 April 2026
Ridwan Monoarfa

Dari Desa Andaleh ke Gorontalo: Mengakhiri Ilusi Peternakan Berbasis Bantuan

Saturday, 11 April 2026
Basri Amin

Kota Gorontalo, ‘298’ Tahun? (Catatan Terbuka kepada Wali Kota)  

Monday, 6 April 2026

Mengulik Variabel Identitas, Norma, dan Reproduksi Permusuhan Pada Konflik Iran-Israel-Amerika Serikat

Thursday, 2 April 2026
Yusran Lapananda

Kemandirian Fiskal Daerah Sebuah Keharusan

Thursday, 2 April 2026
Next Post
Ryan : Program KOTAKU Sangat Berkontribusi

Ryan : Program KOTAKU Sangat Berkontribusi

Discussion about this post

Rekomendasi

Imran Rahman

Viral Siswi SMP di Kabgor Di-bully, Orang Tua Pelaku Justeru Minta Proses Hukum

Thursday, 16 April 2026
Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pohuwato resmi melaksanakan penyerahan tersangka dan barang bukti (Tahap II) dalam perkara dugaan pemalsuan surat kepada Kejaksaan Negeri Pohuwato, Senin (13/4/2026).

Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

Thursday, 16 April 2026
Oknum Kades di Pohuwato saat diperiksa sebagai tersangka, dan dilakukan penahanan terkait dengan dugaan aktivitas PETI. (foto: istimewa)

Jadi Bos PETI Oknum Kades Dibui, Kerahkan Eskavator Keruk Material Tambang di Sungai Alamutu

Wednesday, 15 April 2026
Tersangka dugaan penganiayaan ibu kadung diborgol polisi.

Miris, Anak Sayat Ibu Kandung Hingga Berdarah

Friday, 17 April 2026

Pos Populer

  • Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pohuwato resmi melaksanakan penyerahan tersangka dan barang bukti (Tahap II) dalam perkara dugaan pemalsuan surat kepada Kejaksaan Negeri Pohuwato, Senin (13/4/2026).

    Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Profesi-Profesi Hebat

    127 shares
    Share 51 Tweet 32
  • Putra Gorontalo Calon Wali Kota Jaksel

    90 shares
    Share 36 Tweet 23
  • Jadi Bos PETI Oknum Kades Dibui, Kerahkan Eskavator Keruk Material Tambang di Sungai Alamutu

    62 shares
    Share 25 Tweet 16
  • Oknum Pegawai BSG Bobol Brankas, Kerugian Rp 13,1 Miliar, Termasuk Kuras Rekening Dormant

    51 shares
    Share 20 Tweet 13
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.