logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

99 pCt v 1 pCt

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Monday, 20 December 2021
in Disway
0
99 pCt v 1 pCt
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh
Dahlan Iskan

——————–

Mengapa artis dan selebriti dilarang pakai tas dan pakaian bermerek di media? Mengapa games tertentu dilarang untuk anak-anak? Dan mengapa orang tua yang membiarkan anaknya main games itu dihukum? Mengapa pula Jack Ma dari Alibaba didenda sampai Rp 25 triliun?

Tentu saya harus mencari tahu apa yang terjadi di balik semua itu –untuk Disway.

Related Post

Neo Pop

Lewat Pasrah

Agus Deyang

Jago Cimory

Tidak semudah dulu –ketika saya masih bisa mondar-mandir ke Tiongkok. Sudah dua tahun saya tidak ke sana –sejak sebelum Covid-19. Sekarang pun masih sulit ke sana. Masih ketat sekali. Fokus di sana masih pada penyelenggaraan Olimpiade musim dingin Februari depan. Yang diboikot Amerika dan tiga negara sekutunya itu: Australia, Inggris dan Kanada.

Akhirnya saya mulai bisa menemukan jawabnya. Mungkin saja itu salah. Ini sama sulitnya dengan menganalisis peristiwa di dalam negeri ini: mengapa Novel Baswedan dkk beneran ditarik ke Polri. Mengapa pula atasan tertinggi mereka di KPK, Firli Burli, juga ditarik kembali ke Polri –dua hari lalu. Kini atasan yang mereka protes itu dan para bawahan yang memprotes itu, sama-sama ada di Polri.

Yang terjadi di Tiongkok juga rumit. Masalahnya menyangkut filsafat negara yang sangat mendasar: tujuan bernegara. Tegasnya: untuk apa negara ada.

Tujuan bernegara itu, di sana, dirumuskan dalam dua kata: Mimpi Tiongkok (中梦). Seperti yang dilontarkan Presiden Xi Jinping di awal jabatannya dulu.

Tapi apa itu Zhong Meng, tidak segera jelas. Xi Jinping masih memprioritaskan dulu terwujudnya dasar-dasar untuk bisa melahirkan mimpi itu.

Sampai sekarang banyak yang mengira tujuan Tiongkok adalah ini: untuk menjadi negara superpower nomor 1 di dunia. Mengalahkan Amerika. Dan itu kian dekat. Diperkirakan akan terjadi di sekitar tahun 2030.

Baru dua-tiga bukan terakhir saya mendapat bocoran lebih jelas. Ternyata tujuan Tiongkok lebih jauh dari itu. Menjadi nomor 1 itu hanya hasil sampingan. Tujuan utamanya adalah Mimpi Tiongkok: sejahtera dan harmoni. Sejahtera lewat pembangunan ekonomi dan sosial. Harmoni akan dicapai lewat pembentukan jiwa manusia. Mengapa menjadi nomor 1 bukan tujuan utama? “Konsekuensi menjadi negara superpower nomor 1 itu sangat berat. Dan itu tidak ada hubungannya dengan kepentingan rakyat,” ujar salah satu sumber saya di sana.

Bisa saja sumber itu bagian dari indoktrinasi, provokasi, promosi dalam sistem komunisme. Tapi sedapat mungkin saya mencoba membedakan mana informasi yang menyesatkan dan mana yang kenyataan.

Yang jelas upaya mencukupi sandang-pangan-papan benar-benar telah tercapai. Tujuan menghilangkan kemiskinan juga baru saja tercapai – -atau kalau mau lebih hati-hati, sudah di depan mata.

Persoalannya masih dua: munculnya perbedaan kaya miskin dan terjadinya perubahan moral masyarakat –yang kian mengejar materi.

Indonesia memang bisa lebih bangga: perbedaan kaya-miskinnya tidak semencolok Tiongkok –berdasarkan indeks Gini. Tapi mengejar pemerataan itu, di sana, bisa lebih mudah: kekayaan yang akan dibuat merata itu ada. Cukup. Banyak. Berlebih.

Maka di Tiongkok –masih di kalangan terbatas– kini beredar istilah seksi: 99 persen vs 1 persen. Itu bukan dalam konotasi negatif. Tidak seperti di Indonesia: khususnya soal isu 1 persen penduduk menguasai 59 persen tanah negara (Disway 16/12).

Di Tiongkok, isyu itu lebih menyangkut pemahaman umum: di mana posisi negara. Di atas yang 99  persen atau di atas  yang 1 persen.

Itu pun tidak dalam arti konfrontasi. Tidak ada pembenturan antara 99 persen itu dan 1  persen itu.

Yang 99 persen pasti diurus oleh negara. Pun yang 1 persen. “Negara berada di atas 100 persen,“ rakyatnya.

Berdasarkan kajian di sana, 99 persen rakyat itu sebenarnya tidak punya banyak keinginan. Yang penting terjamin dasar-dasar kehidupan: pangan, sandang, papan. Ditambah pendidikan. Ditambah lagi kesehatan.

Selebihnya adalah keinginan. Keinginan itulah yang ditunggangi ambisi dan kerakusan. Lalu: ambisi dan kerakusan itu yang merusak kehidupan. Yang pula bertentangan dengan tujuan hidup manusia. Pun bertentangan dengan filsafat hidup Konghucu.

Tapi menjadi kenyataan juga bahwa –berdasar kajian itu– terdapat 1 persen penduduk yang genius. Yang tidak biasa-biasa saja. Yang mampu menciptakan apa pun yang bisa membuat kehidupan lebih mudah.

Lapisan kecil itu pula yang bisa membuat kemajuan di segala bidang. Termasuk di bidang ekonomi dan teknologi.

Maka penting sekali mengakomodasikan yang satu persen itu. Jangan dimusuhi. Tapi juga tidak seharusnya diciptakan iklim agar yang 99 persen ikut-ikutan bergaya 1 persen itu.

Intinya: jangan sampai 99 persen rakyat yang keinginannya biasa-biasa saja itu dirangsang untuk punya keinginan berlebihan. Akhirnya terjadi kerakusan sosial.

Bumi cukup untuk menghidupi kebutuhan seluruh umat manusia. Tapi tidak akan cukup menghidupi kerakusan sejumlah saja penghuninya. (*)

Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway.

Tags: 99 pCt v 1 pCtCatatan DahlanDahlan IskanDisway

Related Posts

--

Neo Pop

Monday, 8 June 2026
Lewat Pasrah

Lewat Pasrah

Saturday, 6 June 2026
--

Agus Deyang

Thursday, 4 June 2026
Bambang, tengah, usai makan malam.--

Jago Cimory

Thursday, 4 June 2026
Jago Comory

Jago Comory

Wednesday, 3 June 2026
Pet Byar

Pet Byar

Saturday, 30 May 2026
Next Post
Pemprov Kucur Rp 40 Miliar Poles Andalas

Pemprov Kucur Rp 40 Miliar Poles Andalas

Discussion about this post

Rekomendasi

Basri Amin

Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

Monday, 8 June 2026
Gubernur Gusnar Ismail pada peresmian Gorontalo menjadi tuan rumah Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan. (foto: dok-pemprov)

PENAS Gorontalo Kamar Hotel Full Booking

Monday, 8 June 2026
Polsek Wonosari bergerak cepat menangani peristiwa meninggalnya seorang masyarakat yang diakibatkan tersengat aliran listrik.

Warga Wonosari Tewas Tersengat Listrik

Monday, 8 June 2026
Rapat persiapan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Aula Rumah Jabatan Gubernur, Jumat (5/6/2026). (Foto : Valen)

Gusnar-Idah Pimpin Rapat Evaluasi Persiapan PENAS XVII Gorontalo

Monday, 8 June 2026

Pos Populer

  • Basri Amin

    Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • PENAS Gorontalo Kamar Hotel Full Booking

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Warga Wonosari Tewas Tersengat Listrik

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Gusnar-Idah Pimpin Rapat Evaluasi Persiapan PENAS XVII Gorontalo

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • In Memoriam Mohammad Kilat Wartabone, Pendiri Pondasi Bone Bolango

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.