logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Modifikasi Vaksin

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Monday, 14 December 2020
in Disway
0
Modifikasi Vaksin
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Hati Ngadirejo

Pengusaha Pilihan

Kacamata Mata

Weda Bay

Oleh:
Dahlan Iskan

Tentu saya memilih Sinovac. Dibanding Pfizer. Dengan logika saya sendiri.

Tentu saya bukan ahli menilai. Apalagi menilai obat, termasuk vaksin.

Tapi publik dunia sudah tahu: vaksin Sinovac berasal dari virus Covid yang dilemahkan. Sedang vaksin Pfizer dari modifikasi gen.

Tentu saya tidak anti modifikasi gen. Kalau vaksin yang ada, misalnya, hanya yang modifikasi itu saya pun akan menjalaninya.

Yang penting pandemi ini harus berakhir lebih cepat. Juga lebih sedikit korbannya. Jangan mengulangi pandemi tahun 1918 yang korbannya sepertiga penduduk: Flu Spanyol itu.

Bayangkan kalau di zaman ini sepertiga penduduk meninggal dunia. Berarti akan ada 100 juta orang Indonesia meninggal.

Memang, mungkin, itu cara semesta menyeimbangkan kembali tatanan kehidupan. Tapi ilmu pengetahuan akan selalu bisa mengatasi persoalan: mestinya.

Seperti di awal tahun 1900-an. Para ahli di Inggris meramalkan punahnya manusia akibat kekurangan pangan yang berat. Itu didasarkan statistik pertumbuhan penduduk dibanding produksi pangan dunia.

Tapi seorang ahli di Jerman, Yahudi, kemudian menemukan cara pembelahan ‘N’. Itulah awal dari ditemukannya pupuk. Yang bahan bakunya dari udara. Yang kita pakai sampai sekarang. Yang membuat pabrik pupuk kaya raya dan petani tetap miskin. Tapi, kenyataannya, produksi pangan bisa melebihi kebutuhan –tinggal punya uang atau tidak untuk membelinya.

Kini juga sudah ditemukan bahan baku kertas yang tidak usah dari serat kayu. Minggu lalu saya mengikuti publikasi penemuan itu secara online. Dari Tiongkok.

Di sana sudah ditemukan bahan baku kertas yang baru: batu. Yang dilembutkan menjadi tepung yang amat halus. Lalu dicampur dengan berbagai ramuan.

Penemuan di bidang cocok tanam pun akan terus meroket. Pertanian yang tanpa lahan itu. Termasuk bisa ”menanam” telo rambat (ubi jalar) yang umbinya bergelantungan di udara. Seperti yang sudah sukses diuji coba di Henan, Tiongkok.

Modifikasi gen tanaman juga akan terus dilakukan. Yang sampai sekarang sangat sukses untuk kedelai, kapas dan banyak lagi. Yang kedelai jenis DMO itu di Amerika untuk makanan ternak. Dan yang kita impor, apa boleh buat, untuk membuat tempe.

Tiap kilogram kedelai jenis ini bisa menjadi tempe lebih banyak. Kedelainya besar-besar. Hanya pabrik tahu yang kurang suka memakainya: sari kedelainya, yang bisa menjadi tahu, lebih sedikit.

Saya juga makan tempe dari  kedelai modifikasi itu. Tapi kalau boleh memilih saya lebih senang makan tempe dari kedelai lokal. Lebih gurih. Dan yang pasti bukan hasil modifikasi gen.

Sikap saya terhadap vaksin juga seperti menghadapi sajian tempe di meja makan. Kalau ada yang asalnya dari kedelai yang bukan modifikasi saya pilih itu. Kalau adanya hanya tempe dari kedelai hasil modifikasi ya saya makan juga.

Di Barat salah satu alasan penolakan terhadap vaksinasi Covid adalah soal modifikasi gen itu. Yang anti modifikasi gen tanaman saja begitu banyak. Apalagi ini modifikasi gen manusia.

Tanpa itu pun penolakan terhadap program vaksinasi pasti ada. Tenang saja. Itu bukan menunjukkan warga kita terbelakang. Di Amerika atau Inggris atau negara maju lainnya juga banyak yang menolak vaksinasi.

Bahkan penolakan vaksinasi seperti itu sudah terjadi sejak 100 tahun lalu. Misalnya yang di kota Rio de Jaenaro, Brazil. Bahkan di sana sampai terjadi kerusuhan besar. Yang asalnya dari pro-kontra vaksinasi cacar. Hampir saja pemerintah Brasil terguling akibat kerusuhan itu.

Salah satu isu besarnya adalah: vaksinasi cacar itu membuat kecantikan kulit rusak seumur hidup. Yakni kulit yang digores untuk vaksinasi itu. Yang biasanya di lengan atas itu.

Rupanya, bagi masyarakat yang budayanya mengenakan baju you can see, cacat akibat cacar itu sangat merisaukan.

Di lengan saya pun bekas vaksinasi cacar itu masih ada sampai usia setua ini.

Tentu vaksinasi Covid tidak  merusak kecantikan seperti cacar di zaman dulu. Tapi vaksin yang berasal dari virus yang dilemahkan tetap lebih menarik bagi saya. Sejarah pemakaiannya sudah begitu panjang. Untuk begitu banyak wabah di masa lalu. (*)

Tags: Dahlan IskanDiswayModifikasi Vaksin

Related Posts

Hati Ngadirejo

Hati Ngadirejo

Wednesday, 14 October 2026
Bali Lombok

Bali Lombok

Wednesday, 14 October 2026
Pengusaha Pilihan

Pengusaha Pilihan

Tuesday, 13 October 2026
Kacamata Mata

Kacamata Mata

Sunday, 11 October 2026
Weda Bay

Weda Bay

Saturday, 10 October 2026
Abuleke Bahlil

Abuleke Bahlil

Friday, 9 October 2026
Next Post
NARKOBA : Oknum Aleg Pohuwato Diciduk

NARKOBA : Oknum Aleg Pohuwato Diciduk

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Inflasi Gorontalo Meroket Tertinggi Rata-rata Nasional, Mendagri Jewer Pemda!

Inflasi Gorontalo Meroket Tertinggi Rata-rata Nasional, Mendagri Jewer Pemda!

Tuesday, 13 October 2026
Kualitas Udara Gorontalo Memburuk, Masuk Kategori Tidak Sehat

Kualitas Udara Gorontalo Memburuk, Masuk Kategori Tidak Sehat

Wednesday, 14 October 2026
Karhutla Pelita Hijau: 5.350 Pohon Kemiri dan Cengkeh Terbakar, Api Merambat ke HPT

Karhutla Pelita Hijau: 5.350 Pohon Kemiri dan Cengkeh Terbakar, Api Merambat ke HPT

Sunday, 11 October 2026
Adhan Desak Penertiban SPBU, Tindak Tegas yang Nakal Perketat Pengawasan Distribusi BBM

Adhan Desak Penertiban SPBU, Tindak Tegas yang Nakal Perketat Pengawasan Distribusi BBM

Tuesday, 13 October 2026

Pos Populer

  • Mohamad Reza, Putra Gorontalo Terpilih Jabat Dewas RRI 

    Mohamad Reza, Putra Gorontalo Terpilih Jabat Dewas RRI 

    124 shares
    Share 50 Tweet 31
  • Karhutla Pelita Hijau: 5.350 Pohon Kemiri dan Cengkeh Terbakar, Api Merambat ke HPT

    74 shares
    Share 30 Tweet 19
  • Kompeten! OJK Setujui Rania Riris Ismail Jadi Komisaris BSG

    54 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Kementrian ESDM Bidik PETI Boalemo di Paguyaman Cs

    51 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Usai Mopotilolo, Irjen Pol Nurworo Danang Disambut Pedang Pora di Mapolda Gorontalo 

    83 shares
    Share 33 Tweet 21
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 4 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.