Menurutnya, keputusan ikut bertanding bukan semata-mata mengejar kemenangan, melainkan memberikan teladan kepada para atlet bahwa seorang pemimpin harus berani berada di garis terdepan. “Kalau saya berani naik ring, maka anak-anak juga akan semakin percaya diri. Mental juara harus dibangun melalui contoh, bukan hanya kata-kata,” tambahnya.
Pada Selekda Muaythai Gorontalo 2026, sembilan medali emas Dragon Camp dipersembahkan oleh Zulkifli Saeng, Arafah Mokoagow, Adit Lamadau, Reisya Nairi, Moh. Sahrul, Zulfikar, Fikram Zakaria, Zamal Rifai, dan Sayyidina Ali Hafsi. Sementara tiga medali perak berhasil diraih Saleh Masulili, Muhammad Ivan Woras, dan Rifcka Faisal.
Keberhasilan tersebut semakin menegaskan konsistensi Dragon Camp sebagai salah satu pusat pembinaan atlet beladiri terbaik di Gorontalo. Pasalnya, pada Kejuaraan Provinsi Panua Pride MMA 2025, Dragon Camp juga keluar sebagai juara umum setelah mengoleksi 17 medali, terdiri atas 5 emas, 5 perak, dan 7 perunggu dari total 18 atlet yang diturunkan.
Rentetan prestasi dalam dua tahun terakhir menunjukkan bahwa pembinaan atlet yang dilakukan Dragon Camp Polsek Wonosari tidak hanya berorientasi pada kemenangan sesaat, tetapi juga membangun regenerasi atlet secara berkelanjutan. Kini, para atlet Dragon Camp bersiap menghadapi tantangan yang lebih besar pada PON Beladiri 2026.
Dengan modal prestasi yang terus meningkat, mereka diharapkan mampu mengharumkan nama Provinsi Gorontalo di tingkat nasional sekaligus membuktikan bahwa daerah ini mampu melahirkan petarung-petarung berkualitas yang siap bersaing di level tertinggi.
Keberhasilan tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa sinergi antara institusi Polri, pelatih, dan masyarakat dalam membina generasi muda melalui olahraga mampu melahirkan prestasi yang membanggakan. Dragon Camp Polsek Wonosari kini bukan hanya menjadi kebanggaan Kabupaten Boalemo, tetapi juga telah menjelma sebagai salah satu kekuatan baru olahraga beladiri di Provinsi Gorontalo. (roy)













Discussion about this post