logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Wani El-Tri

Lukman Husain by Lukman Husain
Saturday, 27 June 2026
in Disway
0
Wani El-Tri

Dahlan Iskan dan rombongan berfoto bersama suporter Meksiko di kawasan Stadion New Jersey menjelang pertandingan.--

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

Saya menunda keberangkatan ke stadion New Jersey, New York, setengah jam. Saya harus menemuinya dulu. Ia terbang jauh dari Dallas ke New York. Apalagi ia juga tinggal di hotel tidak jauh dari Times Square.

Saya terhibur oleh kedatangannya. “Saya juga nonton Piala Dunia dengan tiket lungsuran,” ujarnya seperti solider dengan yang lagi menderita seperti saya yang diejek pakai tiket lungsuran.

“Waktu kuliah di ITB saya pernah mendatangkan Pak Dahlan untuk bicara di Sabuga,” katanya. Ia pun menunjukkan foto lama saat saya di atas panggung bersamanya. Sabuga, Anda sudah tahu: Convention Hall terbaik di Bandung.

Waktu itu ia tokoh aktivis mahasiswa ITB. Sekarang ia jadi pengusaha. Namanya Renard Widarto. Teknik sipil. Sudah bergelar doktor di bidang keuangan dari Universitas Diponegoro.

Related Post

Sel Janin

Bagi Hasil

Perjudian Besar

Kanan Dalam

Sama-sama pakai tiket lungsuran, Renard lebih beruntung: dua tiket. Ia bisa nonton bersama istri. Hanya stadionnya di Dallas, Texas. Ia juga beruntung karena tahu harga tiketnya: USD6.000 per lembar. Berarti hampir Rp 200 juta bersama istri. Belum tiket pesawat dan hotel yang serbamahal sekarang ini.

“Kita bertemu di depan HEYTEA di Times Square ya,” jawab saya. “Jam 11.00,” lanjut saya.

Jalan kaki ke lokasi itu lebih cepat dari waktu yang saya pakai turun dari lift. Saya harus turun dulu ke lantai 10. Lobi hotel ini di satu lantai di atas lantai 9, atau enam lantai di atas lantai empat. Dari lantai 10 pindah lift ke lantai dasar. Memang masih harus melewati dua lampu merah tapi kebetulan sedang hijau semua.

Tentu saya sudah lupa rautnya, tapi pastilah di Times Square itu ia satu-satunya yang berwajah Indonesia. Itu Renard. Sudah duduk di kursi merah di bawah payung besar. Saya tahu lokasi itu karena suka beli HEYTEA di Beijing melebihi bubble yang lain.

“Mau minum apa?” sapa Renard.

“Saya baru saja sarapan Brooklyn Bagel,” jawab saya.


Dahlan Iskan bertemu Renard Widarto di Times Square, New York, sebelum berangkat menuju stadion Piala Dunia 2026.–

Kami pun ngobrol tanpa sajian apa pun. Cerita di balik tiket lungsuran-nya ternyata luar biasa menariknya bisa jadi stok ide untuk tulisan di Disway, sekaligus agar para penebak punya waktu mengelus bola kristal mereka.

Agar tidak terasa memotong ceritanya, saya ajak Renard ke hotel saya. Bisa lanjut bercerita sambil jalan.

Saya tahu beberapa menit lagi mobil Lia tiba. Saya harus sudah siap di pinggir jalan di depan hotel. Begitulah etika jadi tamu di New York, di Tokyo, di Singapura, dan di kota besar lain di dunia.

Jangan sampai penjemput sudah tiba di lokasi, yang dijemput masih di kamar mandi. Mobil penjemput tidak bisa berhenti lama di depan hotel. Tidak ada tempat parkir. Yang menjemput tidak bisa meninggalkan mobil untuk mencari yang dijemput akan kena masalah dengan mobil itu.

Lia datang bersama anaknyi: Erick, 28 tahun, jomblo, menyukai persahaman lewat komputernya. Erick yang pegang kemudi. Lia turun sebentar menyalami Renard, lalu balik ke mobil jadi co pilot. Saya duduk di kursi belakang.

Setelah 15 tahun tidak bertemu Renard sudah banyak yang berubah. Ada juga yang tidak berubah. Renard bukan lagi aktivis mahasiswa yang ceking tapi pikirannya masih tetap kritis: “Saya terus mengingatkan sesama alumnus SMA Taruna Nusantara,” kata Renard. “Sekarang alumnus Taruna Nusantara sedang diuji sejarah, apakah bisa menerapkan doktrin cinta tanah air seperti yang disumpahkan waktu di sekolah”.

Anda sudah tahu: begitu banyak alumnus sekolah yang didirikan Prabowo Subianto itu yang kini memegang peran penting di pemerintahan. Mereka kakak-kakak kelas Renard. Letkol Teddy, seskab, misalnya, adalah kakak satu kelas. Di angkatan Renard ada tiga siswa Tionghoa salah satunya ia sendiri.

Kami berpisah di teras Edition. Meski berangkat kami mundur 45 menit masih bisa diterima. Lia sudah punya ”kapling” parkir. Lia sudah membeli tempat parkir sejak enam bulan lalu: parkir satu mobil 200 dolar hampir Rp 4 juta.


Dahlan Iskan dan Lia dengan jersey Persebaya bersiap memasuki area stadion untuk menyaksikan pertandingan Piala Dunia 2026. Setelah sebelumnya memarkir kendaraannya di American Dream.–

Lapangan parkir stadion tidak boleh untuk mobil. Halaman luas itu untuk pengaturan arus manusia menuju dan dari stadion: kapasitas 82.000. Juga untuk berbagai atraksi sebagai daya tarik tambahan Piala Dunia.

Hanya 25 menit perjalanan dari Times Square ke stadion. Kami masuk ke gedung parkir mal American Dream mal kedua terbesar di negara itu setelah Mall of America yang saya kunjungi beberapa tahun lalu di Minneapolis.

Tentu kami harus berjalan jauh ke stadion. Normal. Terlihat lautan kuning tua pindah ke sini bendera Ekuador dan Jerman sama-sama punya unsur kuning tua: kuning-biru-merah dan hitam-merah-kuning. Orang Jerman menyebutnya: hitam-merah-emas.


—

Di tengah lautan kuning itu ada tujuh orang berkaus hijau. Kami mengira mereka Bonek Persebaya. Ternyata justru mereka menduga kami suporter El Tri julukan untuk Bonek Meksiko.

Nama El Tri diambil dari tri warna bendera Meksiko: hijau-putih-merah.

Sesama berhijau kami pun berfoto bersama. Juga melatih mereka teriak ”Wani!”

Lalu ganti mereka melatih saya teriak: Vamoz El Tri!.(*)

Tags: Catatan DahlanDahlan IskanDiswayharian disway

Related Posts

--

Sel Janin

Monday, 15 June 2026
--

Bagi Hasil

Monday, 15 June 2026
Ilustrasi pertaruhan masa depan ekonomi Indonesia di antara berbagai sistem ekonomi.--

Perjudian Besar

Wednesday, 10 June 2026
Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi menkeu. Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya dapat tugas baru sebagai gubernur Bank Indonesia. Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi menteri keuangan di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya. Mereka sama-sama ekonom Universitas Indonesia tapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra). Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas di akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang. Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Jokowi ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD5.000. Merosotnya jumlah kelas menengah itu sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh. Kalau benar Chatib Basri akan menjadi menteri keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo yang tampak sekarang. Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat –khususnya di kurs rupiah dan bursa saham? Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori "jebakan kelas menengah". Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan. Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam –bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu. Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar. Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tapi berdiskusi. Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik –yang diberitakan kian kurus badannya. Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter. Tapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual --salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya. Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu. Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah. Siapa tahu muncul ''kemenangan baru'': keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat. Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu. Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik di zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear. Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara.(

Kanan Dalam

Tuesday, 9 June 2026
--

Neo Pop

Monday, 8 June 2026
Lewat Pasrah

Lewat Pasrah

Saturday, 6 June 2026
Next Post
Perkuat Inovasi Pojok Kasih Sayang Puskesmas Gentuma Gandeng Prodi Psikologi UNG

Perkuat Inovasi Pojok Kasih Sayang Puskesmas Gentuma Gandeng Prodi Psikologi UNG

Discussion about this post

Rekomendasi

Tok! Putusan MK, Pilkada Tetap Dipilih Langsung Rakyat

Tok! Putusan MK, Pilkada Tetap Dipilih Langsung Rakyat

Wednesday, 1 July 2026
AYAH WAJIB HADIR - Sekda Provinsi Gorontalo Sofian Ibrahim bersama jajaran BKKBN melepas balon pada peringatan Hari Keluarga Nasional ke 33t tingkat Provinsi Gorontalo, senin (29/6). (foto: dok/pemprov)

Sekdaprov Sofian Ibrahim Irup Hari Keluarga Nasional Tingkat Provinsi Gorontalo

Tuesday, 30 June 2026
Pertamin Bekali UMKM Gorontalo Literasi Keuangan dan Akses Permodalan

Pertamin Bekali UMKM Gorontalo Literasi Keuangan dan Akses Permodalan

Wednesday, 1 July 2026
‘July Joycation’ Nikmati Liburan Nyaman di ASTON Gorontalo, Ada Promo Khusus Mulai Rp 657 ribu

‘July Joycation’ Nikmati Liburan Nyaman di ASTON Gorontalo, Ada Promo Khusus Mulai Rp 657 ribu

Tuesday, 30 June 2026

Pos Populer

  • Tok! Putusan MK, Pilkada Tetap Dipilih Langsung Rakyat

    Tok! Putusan MK, Pilkada Tetap Dipilih Langsung Rakyat

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Eks Lokasi PENAS XVII Akan Dijadikan Destinasi Agrowisata Gorontalo

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Sekdaprov Sofian Ibrahim Irup Hari Keluarga Nasional Tingkat Provinsi Gorontalo

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • In Memoriam Irwan Hamzah, Birokrat, Juga Seniman ‘Dunia Dipo Kiama’

    63 shares
    Share 25 Tweet 16
  • Rasakan Langsung Keunggulan Honda PCX Melalui Test Ride Point to Point di Manado

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.