gorontalopost.co.id – Dalam rangka memperingati 100 tahun berdirinya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo, digelar kegiatan Obrolan Buku bertajuk “Menjadi Lebih Baik untuk Semua” pada Jumat (22/5/2026) malam di R.M Dapur LA, Kota Gorontalo.
Kegiatan yang dimulai pukul 18.30 WITA hingga selesai itu berlangsung hangat dan penuh nuansa kekeluargaan. Acara tersebut dihadiri oleh tenaga kesehatan, komunitas literasi, dan keluarga Prof. dr. H. Aloei Saboe, yang terselenggara melalui kolaborasi antara Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Gorontalo, RSUD Prof. dr. H. Aloei Saboe, dan Pusat Studi Dokumentasi dan Informasi H.B. Jassin. Kegiatan menghadirkan sejumlah pemantik, yakni Ketua IDI Wilayah Gorontalo M. Isman Jusuf, penulis senior Lisa Dama, serta Basri Amin dari Pusat Studi Dokumentasi H.B. Jassin.
Kegiatan tersebut juga menjadi ruang silaturahmi dan diskusi ringan mengenai buku Menjadi Lebih Baik untuk Semua, sebuah buku yang diterbitkan untuk menandai satu abad perjalanan RS Aloei Saboe. Dalam poster kegiatan juga disebutkan adanya kehadiran spesial keluarga besar Prof. dr. H. Aloei Saboe yang turut berbagi cerita dan kenangan selama acara berlangsung.
salah satu penulis buku M isman Jusuf menjelaskan bahwa buku Menjadi Lebih Baik untuk Semua tidak hanya mengangkat sejarah Rumah Sakit Aloei Saboe, tetapi juga perjalanan dunia kesehatan di Gorontalo secara menyeluruh.
“Secara umum, buku ini menggambarkan perjalanan kesehatan di Gorontalo. Rumah Sakit Aloei Saboe ini menjadi rumah sakit pertama yang berdiri di Gorontalo tahun 1926. Jadi buku ini menceritakan perjalanan rumah sakit sekaligus perkembangan kesehatan di Gorontalo secara keseluruhan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, buku tersebut memuat tiga pokok utama, yakni sejarah perjalanan RS Aloei Saboe selama 100 tahun, berbagai prestasi rumah sakit dari masa ke masa, serta kisah keteladanan Prof. dr. H. Aloei Saboe yang diangkat dalam bagian berjudul Cahaya Keteladanan.
“Yang kedua, buku ini menceritakan prestasi-prestasi Rumah Sakit Aloei Saboe sejak awal berdiri sampai sekarang. Dan yang ketiga adalah tentang tokoh yang diabadikan dalam rumah sakit itu, yaitu Prof. Dr. Saboe,” tambahnya.
Menurutnya, penerbitan buku tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan sesuatu yang monumental dalam peringatan satu abad rumah sakit tersebut.
“Untuk mencapai usia 100 tahun itu tidak gampang. Karena itu harus ada sesuatu yang monumental, dan salah satunya adalah buku,” katanya.
Selain sebagai dokumentasi sejarah, buku tersebut juga diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi tenaga kesehatan di Gorontalo.
“Kita ingin nilai-nilai Dr. Saboe, Dr. Lim, dan Dr. Dunda terus hidup di relung-relung sanubari tenaga medis dan paramedis, baik di Rumah Sakit Aloei Saboe maupun di masyarakat pada umumnya,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur RSUD Prof. dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo, Abdulhafidz Daud, S.Sos., M.M., mengatakan bahwa buku tersebut mengisahkan perjalanan rumah sakit sejak masih berupa balai pengobatan hingga kini menjadi rumah sakit rujukan utama di Provinsi Gorontalo.
“Dengan buku ini, kita bisa mengetahui bagaimana perjalanan Rumah Sakit Aloei Saboe sejak 1926 sampai saat ini,” ujarnya.
Ia juga menyebut buku tersebut mengangkat perjuangan dan pengabdian Prof. dr. H. Aloei Saboe yang mulai mengabdi di Gorontalo sejak tahun 1941.
“Kisah tentang rumah sakit maupun Dokter Aloei Saboe ini ingin kami angkat kembali untuk menginspirasi kita di masa sekarang dan mengabadikannya agar tetap menginspirasi generasi mendatang,” tambahnya.
Lebih lanjut, Abdulhafidz Daud menyampaikan bahwa buku tersebut nantinya akan ditempatkan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan serta tersedia dalam bentuk perpustakaan elektronik agar dapat diakses masyarakat luas.
“File elektroniknya juga akan kami siapkan supaya masyarakat bisa mengakses dan membaca kisah pengabdian Dokter Aloei Saboe serta perjalanan rumah sakit ini,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, Basri Amin turut menjelaskan bahwa buku itu terdiri dari lima bab yang disusun berdasarkan semangat intelektual dan nilai kemanusiaan yang diwariskan Prof. dr. H. Aloei Saboe.
“Buku ini ditulis karena nafas intelektual dan nafas ilmu medis yang sangat memikat kepada kemanusiaan yang telah ditanamkan oleh Dr. Saboe,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan obrolan buku sengaja dibuat dalam suasana santai karena buku tersebut belum dibedah secara resmi dan belum didistribusikan secara luas kepada masyarakat.
Selain membahas isi buku, acara tersebut juga diisi dengan cerita sejarah perjalanan Prof. dr. H. Aloei Saboe semasa hidupnya, termasuk kisah pengabdian beliau dalam dunia kesehatan di Gorontalo. Tidak hanya itu, keluarga Prof. dr. H. Aloei Saboe turut membagikan kenangan dan pengalaman mereka bersama sosok dokter yang dikenal penuh dedikasi tersebut.
Suasana semakin hangat ketika para peserta dan narasumber berdiskusi mengenai perjuangan tenaga kesehatan pada masa lalu yang dinilai tetap relevan hingga saat ini. Semangat pengabdian di tengah keterbatasan menjadi salah satu nilai utama yang ingin diwariskan melalui buku tersebut.
Di akhir kegiatan, seluruh peserta, narasumber, dan keluarga Prof. dr. H. Aloei Saboe melakukan foto bersama sebagai penutup rangkaian acara peringatan 100 tahun RSUD Prof. dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo. (Mg-05)












Discussion about this post