Gorontalopost.co.id, JAKARTA — Seiring dengan kembali meningkatnya eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, nilai tukar Rupiah pada Kamis 23 April 2026 ini kembali tertekan hingga menyentuh level Rp 17.300 per Dolar AS.
Dilansir dari data Bloomberg, angka nilai tukar Rupiah terus melemah sebanyak 120 poin atau 0,70 persen hingga menembus angka Rp 17.301.
Kendati begitu dalam menanggapi pelemahan angka Rupiah ini, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyampaikan bahwa pergerakan Rupiah masih sejalan dengan prediksi BI.
“Pergerakan rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year-to-date sebesar 3,54 persen,” jelas Destry dalam pesan singkat kepada Disway, pada Kamis 23 April 2026.
Lebih lanjut, Destry juga menambahkan bahwa dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, BI juga terus meningkatkan intensitas intervensi untuk memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market guna menjaga daya tarik aset domestik di tengah berlanjutnya dampak konflik Timur Tengah.
Nantinya, langkah stabilisasi tersebut dilakukan secara konsisten melalui intervensi di pasar offshore (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder. Cadangan devisa juga tetap kuat sebesar USD 148,2 miliar pada akhir Maret 2026.
“Bank Indonesia senantiasa hadir di pasar dan akan terus mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” tegas Destry.
Sementara itu, Bank Indonesia sendiri juga menyatakan bahwa pihaknya akan turut memperkuat kebijakan makroprudensial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kredit/pembiayaan ke sektor riil dengan tetap mempertahankan stabilitas sistem keuangan.
Kebijakan sistem pembayaran terus diarahkan untuk turut menopang kegiatan ekonomi melalui perluasan akseptasi pembayaran digital, penguatan struktur industri sistem pembayaran, serta peningkatan keandalan dan ketahanan infrastruktur sistem pembayaran. (disway)













Discussion about this post