logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Mata Lasik

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 30 March 2026
in Disway
0
--

--

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

 

DI kursi belakang mobil Noah ini juga ada satu pemuda Indonesia. Yang dua lagi orang Yaman.

“Anda dari daerah mana?” tanya saya sambil menoleh ke belakang.

Related Post

Burger Tempe

Paket Roaming

Isi Dompet

Cuci Uang

“Berau”, katanya.

“Berau sebelah mana?”

“Pernah ke Berau?”

“Sering.”

“Saya di Berau kota. Tanjung Redeb”.

“Sudah berapa tahun di Tarim?”

“Tiga tahun.”

“Masih berapa tahun lagi?”

“Belum tahu. Mungkin lima tahun lagi.”

“Orang tua kerja apa?”

“Tukang listrik.”

“Orang tua ingin Anda cepat pulang atau tidak?”

“Terserah saya.”

“Sekarang umur berapa?”

“26 tahun.”

Selama tiga tahun di Tarim ia belum pernah pulang ke Indonesia. Pun selama lima tahun ke depan. Kalau pun masih lima tahun lagi berarti umur 31 tahun baru pulang.

“Sepulang kelak ingin jadi apa?”

“Tidak tahu.”

Begitu pula penumpang asal Kartasura, Solo, yang di kursi depan. Mereka belum punya rencana jangka panjang. Yang jelas, kata yang di depan maupun yang di belakang, mereka nanti akan menjadi mubaligh. Dakwah. Misionaris. Menyebarkan Islam.

Begitulah umumnya sikap mahasiswa Indonesia yang ada di Tarim. Kelak ingin berdakwah.

“Anda ke Mukalla hanya untuk menemani Bung Salman?” tanya saya –ups tadi lupa menyebut nama yang duduk di depan itu. Namanya Salman. Rambutnya panjang. Topinya topi baseball. Pakai sorban melilit di leher. Tampilannya seperti seorang rocker.

“Bung Salman, Anda suka musik?”

“Tidak. Saya belum pernah mendengarkan musik,” katanya.

Yang duduk di belakang itu bernama Saiful. Ternyata ia ke Mukalla juga untuk operasi mata. Juga lasik. Rupanya sudah umum di kalangan mahasiswa Indonesia di Tarim melakukan operasi lasik di Mukalla.

“Berapa biaya lasik di Mukalla?”

“200 dolar dan 80 real Saudi,” ujar Salman. “Kira-kira sama dengan Rp 5 juta,” tambahnya.

Itu murah. Di Indonesia bisa tiga atau empat kali lipatnya. Untuk bisa bebas kacamata misalnya bisa sampai Rp 40 juta.  Bandingkan dengan hanya lima juta di Mukalla.

“Wuih kok murah sekali ya?” reaksi Dini, dokter mata sahabat Disway di Surabaya.

Dia pun menebak mengapa begitu murah: “Bebas pajak ya?” tanyanya. Di Indonesia pun, kata Dini, kalau bebas pajak-pajak juga bisa murah.

“Kenapa tarifnya pakai dua mata uang, dolar Amerika dan real Saudi?” tanya saya kepada si Kartasura.

“Kalau pakai uang Yaman tidak kuat membawanya,” ujar Salman setengah bergurau.

Saya paham. Saya pernah kaget di hari pertama di Tarim. Saya tukar uang empat lembaran real Saudi. Saya diberi uang Yaman dua gebok tebal. Saya seperti tiba-tiba jadi jutawan.

Tidak. Sejelek-jelek nilai mata uang Yaman masih lebih kuat dari rupiah. Rp 10.000 sama dengan 1000 uang Yaman. Kalau pun rupiah nanti jadi dihilangkan tiga nol di belakangnya masih sama dengan nilai uang Yaman.

Masalahnya: lembaran terbesar uang Yaman hanyalah 1.000. dengan demikian untuk membawa 200 dolar Amerika perlu membawa karung. “Untuk pembayaran besar seperti operasi atau beli sepeda motor memang pakai dolar atau real Saudi,” ujar Salman.

Saat Azan maghrib terdangar, perjalanan Tarim-Mukalla ini sampai ke titik yang mestinya indah: turun tajam dari ketinggian pegunungan. Jalannya pun berkelok mengikuti tebing gunung. Lampu-lampu di Mukalla terlihat jauh di bawah sana. Masih satu jam lagi baru tiba di kota itu.

Mobil Noah ini seperti travel di Indonesia: mengantarkan penumpang ke masing-masing alamat.

Anak Kartasura dan Berau itu turun lebih dulu. Mobil masuk-masuk gang mengantarkan mereka. Sampailah di masjid At-Taqwa di dalam kampung itu. Mereka turun di situ. Lalu mengantar dua penumpang Yaman.

Tinggallah yang terakhir saya dan Amang. Paling jauh. Ke sebuah hotel baru di dekat pelabuhan.

Tapi si Noah masih berhenti sekali lagi. Yakni untuk menurunkan barang yang diikat di atas atap. Rupanya mobil ini juga sekaligus jastip.

Mobilnya sendiri tidak mencerminkan mobil negara miskin. Mobil di Hadramaut umumnya relatif baru. Tidak banyak terlihat mobil tua yang reot.

“Saya lihat banyak mobil bagus-bagus dan baru. Berarti ekonomi sebenarnya baik kan?” tanya saya pada Amang.

“Di sini tidak ada mobil baru. Semua ini mobil bekas dari Dubai. Masih seperti baru. Murah-murah. Bukan karena ekonomi baik tapi karena sangat murah,” katanya.

“Di Indonesia satu rumah bisa punya tiga sepeda motor. Di sini satu rumah bisa punya dua mobil dan satu sepeda motor”.

Sampai di sini saya masih belum bisa membuka misteri itu: negara miskin tapi mobilnya banyak. Perlu dua hari lagi untuk bisa menjawabnya. Atau balik ke sana untuk tinggal dua bulan –kalau perusuh Disway mengizinkannya.(*)

Tags: Catatan Harian DahlanDahlan IskanDiswayHarian Dahlanharian diswayTulisan Dahlan

Related Posts

Burger Tempe

Burger Tempe

Tuesday, 21 July 2026
Paket Roaming

Paket Roaming

Sunday, 19 July 2026
Isi Dompet

Isi Dompet

Sunday, 19 July 2026
Cuci Uang

Cuci Uang

Sunday, 19 July 2026
Adu Cepat

Adu Cepat

Thursday, 16 July 2026
Febrie Loblobly

Febrie Loblobly

Wednesday, 15 July 2026
Next Post
MENUJU PANAS: Gubernur Gusnar Ismail menyaksikan penanaman pada lahan yang akan dijadikan lokasi Gelar Teknologi Pertanian di Limboto, Kabupaten Gorontalo, Senin (30/3). (foto: haris-diskominfotik)

PENAS XVII, 30 Ribu Petani-Nelayan Hadir di Gorontalo

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 21 Juli 2026

Rekomendasi

Gorontalo Siaga Kemarau, Gubernur Terbitkan Edaran, Waspada Krisis Air Bersih

Gorontalo Siaga Kemarau, Gubernur Terbitkan Edaran, Waspada Krisis Air Bersih

Tuesday, 21 July 2026
Korsleting Listrik Picu Kebakaran di Yosonegoro

Korsleting Listrik Picu Kebakaran di Yosonegoro

Tuesday, 21 July 2026
Mantan Kades di Pohuwato Resmi Ditahan, Diduga Lakukan Pencabulan Terhadap Staf Desa

Mantan Kades di Pohuwato Resmi Ditahan, Diduga Lakukan Pencabulan Terhadap Staf Desa

Tuesday, 21 July 2026
Skandal Command Center, Kejati Jebloskan Tiga Tersangka ke Lapas

Skandal Command Center, Kejati Jebloskan Tiga Tersangka ke Lapas

Tuesday, 21 July 2026

Pos Populer

  • APH di Gorontalo Solid, Kapolda, Kapolres Silaturahim ke Markas TNI-Kejaksaan

    APH di Gorontalo Solid, Kapolda, Kapolres Silaturahim ke Markas TNI-Kejaksaan

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Gorontalo Siaga Kemarau, Gubernur Terbitkan Edaran, Waspada Krisis Air Bersih

    31 shares
    Share 12 Tweet 8
  • Wagub Gorontalo Idah Syahidah Hadiri Bahagia QRIS Fest 2026 di Limboto

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Spanyol, Bola, dan Islam

    31 shares
    Share 12 Tweet 8
  • Pengumuman Libur Khusus Final Pildun di Gorontalo Hoaks

    28 shares
    Share 11 Tweet 7
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.