gorontalopost.co.id – Komunitas Ngangsu Bareng menggelar webinar gratis bertema kesehatan mental dengan topik “Menjadi Diri Sendiri dan Regulasi Rasa Bersalah” yang diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui platform Zoom ini menghadirkan praktisi kesehatan mental Yusuf Abdul Rahman sebagai narasumber tunggal yang memandu jalannya diskusi dari awal hingga akhir sesi, Sabtu (28/3).
Webinar yang dimulai pukul 19.30 WIB ini tidak hanya dapat diikuti secara langsung melalui Zoom, tetapi juga ditayangkan secara live streaming di kanal YouTube Yusuf Abdul Rahman, sehingga jangkauan peserta menjadi jauh lebih luas. Sejak sesi dibuka, ruang diskusi langsung dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang mencerminkan betapa banyak orang menyimpan kegelisahan soal kesehatan mental namun tidak tahu harus ke mana mencari jawabannya. Tingginya partisipasi ini sekaligus menjadi sinyal bahwa kebutuhan masyarakat terhadap ruang bicara soal kesehatan jiwa semakin besar dari waktu ke waktu.
Dalam paparannya, Yusuf Abdul Rahman mengajak peserta untuk lebih mengenal diri sendiri secara autentik dan tidak terjebak dalam tekanan lingkungan yang kerap membuat seseorang kehilangan jati dirinya. Ia menjelaskan bahwa banyak orang tumbuh dalam lingkungan yang lebih mengutamakan kepatuhan dan penilaian orang lain dibanding kejujuran terhadap diri sendiri, sehingga lama-kelamaan mereka kehilangan kemampuan untuk mengenali apa yang sebenarnya mereka rasakan dan inginkan.
“Banyak orang hidup dengan rasa bersalah yang tidak pernah mereka selesaikan. Itu bukan tanda kelemahan, tapi tanda bahwa mereka butuh ruang untuk memahami diri sendiri lebih dalam,” ujar Yusuf Abdul Rahman. Ia menambahkan bahwa langkah pertama yang paling penting adalah berani mengakui perasaan itu tanpa terburu-buru menghakimi diri sendiri, karena justru di situlah proses pemulihan psikologis yang sesungguhnya dimulai.
Yusuf Abdul Rahman juga menekankan bahwa rasa bersalah yang tidak dikelola dengan baik dapat berkembang menjadi beban psikologis yang jauh lebih berat dari yang disadari. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menggerogoti kepercayaan diri, merusak kualitas hubungan sosial, hingga mendorong seseorang untuk terus-menerus menyangkal siapa dirinya yang sesungguhnya. Oleh karena itu, regulasi emosi bukan sekadar keterampilan tambahan, melainkan kebutuhan dasar yang perlu dipelajari sejak dini.
Isu kesehatan mental di Indonesia hingga kini masih kerap dianggap tabu oleh sebagian besar masyarakat. Banyak orang yang mengalami tekanan psikologis memilih untuk diam dan memendam perasaannya sendiri karena takut dicap lemah, lebay, atau bahkan gila oleh lingkungan sekitarnya. Kondisi ini diperparah oleh minimnya akses terhadap layanan kesehatan jiwa yang terjangkau, terutama di daerah-daerah yang jauh dari pusat kota, sehingga banyak yang tidak pernah mendapatkan penanganan yang semestinya.
Kehadiran webinar seperti yang digelar komunitas Ngangsu Bareng ini dinilai menjadi salah satu jembatan penting untuk membuka percakapan yang selama ini tersimpan rapat di tengah masyarakat. Dengan memanfaatkan platform Zoom dan siaran langsung di kanal YouTube Yusuf Abdul Rahman, kegiatan ini berhasil menjangkau peserta yang jauh lebih beragam, termasuk mereka yang berada di daerah terpencil sekalipun. Sebuah langkah kecil yang, jika terus dirawat dan dikembangkan, bisa menjadi awal dari perubahan kesadaran kolektif masyarakat Indonesia terhadap pentingnya kesehatan mental. (mg-07)













Discussion about this post