Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Angka stunting di Provinsi Gorontalo masih tergolong tinggi, terutama di Kabupaten Gorontalo. Kondisi ini menjadi perhatian serius berbagai pihak karena berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia di masa depan. Situasi tersebut mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor, termasuk keterlibatan aktif perguruan tinggi dalam upaya percepatan penurunan stunting.
Sebagai bentuk komitmen bersama, Universitas Gorontalo (UNIGO), SDGs Center Universitas Negeri Gorontalo (UNG), dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Gorontalo sepakat mengusung pendekatan Multi-Stakeholder Partnership (MSP). Pendekatan ini dibahas dalam sebuah pertemuan yang fokus pada perumusan strategi integratif untuk mengurangi risiko stunting di daerah.
Perwakilan SDGs Center UNG, Dr. Rachel, menegaskan bahwa persoalan stunting tidak dapat diselesaikan secara parsial. Menurutnya, keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, termasuk perguruan tinggi, menjadi kunci agar intervensi yang dilakukan lebih terarah dan berkelanjutan.
“Pendekatan MSP ini hadir untuk mengurangi tumpang tindih program. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui riset, pengabdian kepada masyarakat seperti KKN, serta mendorong integrasi program ke dalam RPJMD, Renstra OPD, maupun agenda lembaga non-pemerintah,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Rektor UNIGO menyatakan kesiapan institusinya untuk terlibat lebih aktif dalam percepatan penurunan stunting. Ia mengungkapkan bahwa sebelumnya UNIGO telah memiliki pengalaman melalui program Project Based Learning (PBL), meskipun pelaksanaannya masih terbatas.
“Dengan adanya kolaborasi lintas sektor ini, UNIGO berkomitmen untuk berkontribusi lebih maksimal, baik melalui kegiatan akademik maupun pengabdian masyarakat, dalam upaya menurunkan angka stunting di Gorontalo,” ujarnya.
Sebagai langkah awal implementasi, Desa Hutabohu dan Desa Haya Haya di Kabupaten Gorontalo ditetapkan sebagai lokasi percontohan. Program ini juga mendapatkan dukungan dari lembaga internasional, termasuk kerja sama dengan pemerintah Jerman melalui badan usahanya di Indonesia, serta telah tercatat dalam kerangka kerja Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Ke depan, para pihak sepakat menandatangani berita acara komitmen bersama yang direncanakan pada pekan depan. Melalui sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat, Gorontalo diharapkan mampu menghadirkan praktik baik penanganan stunting sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. (Tr-76)













Discussion about this post