Gorontalopost.co.id, BATUDAA –- Tradisi malam qunut atau malam ke 15 ramadan di Batudaa, Kabupaten Gorontalo terus terjaga. Kamis (5/3) malam, ribuan warga hadir di lapangan Batudaa, untuk menikmati tradisi yang sudah turun temurun dirayakan itu.
Belakangan oleh masyarakat setempat tradisi malam qunut, dikemas dalam bentuk festival sehingga lebih semarak. Kacang dan pisang tetap menjadi menu khas yang paling diburu dalam tradisi ini.
Sejak sore hingga malam hari, warga dari berbagai wilayah terlihat memadati area sekitar lapangan. Semakin ramai saat usai salat tarawih. Deretan pedagang berjejer di sepanjang jalan dan sekitar lokasi acara, menawarkan berbagai dagangan kepada pengunjung yang datang.
Meskipun banyak jenis makanan dijual, pisang dan kacang tanah tetap menjadi yang paling dicari oleh pengunjungt. Kedua komoditas ini telah lama identik dengan tradisi Malam Qunut dan menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat setiap tahunnya.
Tradisi ini muncul dari kebiasaan masyarakat setempat dimasa lampau. Dimana, setiap datang malam pertengahan ramadan, warga memiliki tradisi unik yakni mengisi bak air di masjid beramai-ramai, setelah itu berkumpul di lapangan bersama-sama dan menikmati cemilan sederhana berupa kacang dan pisang.
Ada pula yang mengisahkan tentang tradisi mandi malam usai tarawih bersama-sama di sumber air yang ada di wilayah itu. Tradisi ini dipercaya untuk penyucian diri. Rupanya, setiap tradisi tahunan ini menyedot animo masyarakat, sehingga terjadi antrian.
Nah disini, sembari menunggu, warga biasanya menikmati cemilan berupa kacang dan pisang. Seiring perkembangan waktu, tradisi malam qunut tersisa dengan menikmati cemilan kacang dan pisang bersama-sama.
Simon Erlam (56) memanfaatkan momentum ini untuk berjualan. Bahkan, dua hari sebelum hari puncak malam qunut, ia sudah buka lapak di kawasan lapangan batudaa, dengan dagangan utama kacang dan pisang. “Malam qunut orang biasanya mencari pisang dan kacang,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Simon menjelaskan, harga kacang tanah yang dijual berkisar Rp25 ribu, sedangkan pisang dijual sekitar Rp20 ribu per ikat. Ia juga mengaku penjualan tahun ini terasa lebih ramai dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kalau tahun lalu musim hujan dan tempatnya becek, jadi orang agak susah datang. Tahun ini lebih ramai,” tambahnya. Hal serupa disampaikan pedagang lainnya, Izra Demanto (28).
Menurutnya, kondisi lokasi yang lebih nyaman membuat pengunjung lebih leluasa datang dan berbelanja. Sementara itu, salah satu pengunjung, Faipul (35), mengatakan dirinya membeli pisang dan kacang karena sudah menjadi kebiasaan masyarakat saat malam qunut.
“Memang sudah jadi tradisi. Sebenarnya di pasar juga ada, tapi karena tradisi jadi orang datang beli di sini,” katanya. Tradisi ini dengan sendirinya mengangkat perekonomian warga setempat.
Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi, hadir langsung dalam festival Malam Qunut, semalam. Sofyan Puhi terlihat berkeliling area festival di tengah ramainya masyarakat yang memadati lapangan.
Ia menyempatkan diri menyapa warga serta para pedagang yang berjualan di sepanjang area kegiatan Dengan sikap ramah, Bupati Gorontalo itu juga berinteraksi langsung dengan masyarakat yang hadir, sekaligus melihat berbagai aktivitas yang berlangsung dalam Festival Qunut.
Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan bahwa Festival Qunut merupakan bagian dari kekayaan budaya daerah yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Gorontalo.
Menurutnya, ciri khas festival ini terlihat dari keberadaan pisang dan kacang tanah yang selalu menjadi sajian utama dalam kegiatan tersebut. Kedua makanan ini memiliki makna historis yang berkaitan dengan kebiasaan masyarakat pada masa lalu.
Ia menjelaskan, tradisi tersebut bermula dari masyarakat yang tinggal di wilayah pegunungan yang turun ke daerah Batudaa untuk mengisi bak air atau tempat wudu di masjid. Setelah melaksanakan salat Tarawih, masyarakat kemudian berkumpul di lapangan dan menikmati pisang serta kacang bersama-sama.
“Kegiatan ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu dan menjadi tradisi yang terus dilaksanakan oleh masyarakat hingga sekarang,” ujarnya.
Lebih lanjut, Sofyan Puhi menambahkan bahwa saat ini pelaksanaan Festival Qunut tidak hanya berlangsung di Batudaa, tetapi juga mulai berkembang di beberapa wilayah lain seperti Limboto dan Tilango.
Meski demikian, Batudaa tetap menjadi pusat utama kegiatan tersebut. Pemerintah Kabupaten Gorontalo pun memberikan apresiasi kepada masyarakat yang terus menjaga dan melestarikan tradisi ini.
Ia berharap Festival Qunut dapat terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya Gorontalo serta menjadi momentum mempererat kebersamaan masyarakat selama bulan Ramadan. (Mg-05)












Discussion about this post