logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Biomasa
Home Persepsi

Agama, Kesalehan, dan Pejabat

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 23 February 2026
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Basri Amin

 

BELAKANGAN ini, kita cukup mudah menyaksikan bagaimana “kesalehan” menjadi sesuatu yang harus ditonton dan terkesan disebarkan di ruang-ruang keseharian kita.

Kemuliaan Agama sebagai anutan dan petunjuk agar bisa lebih dekat denganNYA dengan mudah diolah oleh kepentingan simbolisme manusia agar bisa eksis dan lebih impresif legitimasinya di hadapan manusia lainnya.

Related Post

Program MBG Tujuan Mulia Penuh Anomali

Manajemen BSG Masih Bekerja di Zona Nyaman

Jagung Gorontalo di Persimpangan Nilai Tambah

Keputusan RUPS-BSG: Moga tak Lahirkan Buah yang “Tinasi”

Kita semakin mudah bertemu dengan orang-orang yang terkesan agamais, saleh dan taat. Dari sisi fisik, ukuran mata kita bisa macam-macam: pola bahasa, gaya bicara, tampilan pakaian, fisik, tabiat menasehati, rutinitas ibadah, dst.

Iman dan keberagamaan kita, terkesan, semakin beroleh ujian berat. Sistem sosial kita menghasilkan begitu banyak serbuan godaan setiap detiknya. Egoisme diri semakin membesar. Ketaksadaran dihiasi-indah dengan penampilan, propaganda dan jargon-jargon.

Kaca mobil kita ditulisi kalimat-kalimat berbahasa Arab dari Kitab Suci, tetapi kita begitu enteng membuang sampah di jalanan. Kita demikian terbiasa “menjilat sesama manusia” karena kepentingan sesaat.

Kealiman bersama yang dikesankan lebih sering berbanding lurus dengan perangai merusak alam, mengotori sungai dan got-got di sekitar kita…

DI negeri ini, agama adalah “sesuatu” yang bisa terbawa ke mana-mana. Ia selalu hadir membersamai kita kemanapun kita berada dan setiap orang sudah terbiasa “saling menduga” dan/atau “membangun praduga” tentang agama orang lain.

Di berbagai kesempatan, kita juga dengan mudah menyaksikan bagaimana pejabat publik membawa-bawa agama ke ranah publik dan bahkan memublikasikan kabar-kabar ke-agama-an kepada khalayak. Tak jarang, kita pun cenderung memberikan penilaian lebih tentang “pejabat yang agamais.”

Di kala lain, pejabat publik pun makin sering diarahkan sedemikian rupa untuk “membela” (kepentingan) agama, karena disangka bahwa agama adalah peneguh fundamental bagi sebuah identitas dan bagi kemajuan (moral) sebuah bangsa.

Agama bagi para pejabat publik tergolong unik. Agama hadir dalam Sumpah Jabatan-nya. Di bawah (naungan) Kitab Suci, seorang pejabat dilantik dan disumpah. Nama Tuhan disebut berulang. Janji di hadapan Tuhan disuarakan terbuka. Disaksikan banyak orang. Termasuk suami atau istri, keluarga, teman-teman sejawat, atasan dan bawahan. Ucapan selamat bersambung-sambung.

Terbayanglah sesuatu yang campur-baur: pakaian dinas yang neces, kopiah, dan lambang-lambang, kewenangan yang bisa lurus atau belok-belok. Pun wajah-wajah “anak buah” di bawah kewenangannya yang sudah siap dengan kata-kata “siap, Pak!”.

Teori “yes-men!” laku di ruang-ruang kantor dinas kita. Begitu pula dengan kaidah “Asal Bapak Senang” (ABS), tradisi (bahasa) keseharian berupa “arahan”, “kebijakan”, “petunjuk”, “atur saja; “semua bisa diatur”, plus rapat ke rapat, plus Perjadis, plus acara ke acara, dan timbunan ungkapan dan istilah teknis administrasi negara dan keuangan, dst.

Sejauh mana agama memberi dampak kepada kesetiaan Pejabat kepada tanggung jawab publiknya?. Sejauh mana agama berfungsi meletakkan etos pengabdiannya kepada perbaikan nasib orang banyak?.

Di banyak situasi, yang terjadi justru keterasingan dan jarak-jarak baru antara Pejabat dan orang-orang biasa. Antara “amanah” sebagai Aparat Negara dan “ambisi” pribadi, gaya hidup, dan klik kelompok yang diselubungkan sedemikian rupa di sela-sela kewenangan resmi, penggunaan fasilitas negara, jejaring teman dan keluarga, afiliasi organisasi, dst.

Di wajah-wajah banyak Pejabat publik kita seringkali tak menampakkan keramahan, ketulusan layanan, pantulan kecerdasan berbahasa dan pengayoman yang berbasis keteladanan.

Pada kesempatan sebelumnya, sudah berulang kami tuliskan tentang gejala “beragama yang serius” (Amin, 2020). Ditandaskan bahwa jika setiap orang “memeluk agama”nya dengan sungguh-sungguh, maka di dalamnya mengandung tugas menjaga (rasa) ketidakterpisahan dengan Kehidupan yang luas dan saling tergantung; sebuah penegasan berulang-ulang –-melalui ibadah dan sikap hidup– agar tidak terpisah dengan agama dan sekaligus berkomitmen tinggi menjaga kebutuhan dan kerinduan atau kehangatan dalam “pelukan” agama.

Dalam konteks ini, agama mengandung “daya kritik” bagi pemeluknya (Ackermann, 1985 [1997]). Keluhuran agama hadir-terkawal oleh rasionalitas dan moralitas yang hidup di tengah-tengah masyarakat.

Penampakan, termasuk topeng-topeng kesalehan, menjadi sesuatu yang selalu potensial di-politisir karena dengan licik dikelola menjadi tumpangan atas kesan-kesan personal, moral, dan afiliasi institusional tertentu (Mahmood [1998], 2005).

Di baliknya terkandung panggilan untuk mencari, mendekati, dan ‘menemukan’ (percikan) Cahaya-NYA di alam kesadaran kita yang damai, berpengharapan tinggi dan berkehendak kuat mewujudkan kesalehan yang membumi, yang manusiawi dan yang menyegarkan Ayat-Nya di semua sektor kehidupan kita.

Bahkan melalui Agama, “bahasa leluhur” dan bentuk-bentuk penghormatan kepada pencapaian hidup beragam (jenis) manusia akan terus tersirami, tumbuh, dan berbuah.

Dalam faktanya, banyak orang yang lepas dari “pelukan” atau bahkan tidak “memeluk” agama dengan serius. Selain sebagai sebuah ikatan dan pilihan sadar, tentu saja keberagamaan setiap orang dan bangsa-bangsa merupakan bagian dari sejarah yang tidak sederhana.

Terlebih ketika agama dijadikan sebagai identitas yang mengokohkan perbedaan, bahkan permusuhan karena nafsu menjadi pemenang atau penguasa atas kehidupan sekelompok orang atau bangsa. Mungkin karena inilah barangkali mengapa jargon “moderasi beragama” menjadi tergerakkan luas belakangan ini.

Secara inheren, agama pada hakikatnya adalah wujud (sebuah) “moderasi” karena memang dengan itulah kita disebut sebagai Manusia beragama: sosok individu yang membangun sosialitas tertentu melalui begitu banyak moderasi, mediasi, materialisasi, dan negosiasi.

Akhirnya, bagi pejabat yang sumpah dinasnya beralaskan Agama, sudilah mereka untuk tidak mengerdilkan keluhuran Agama. Jangan sampai Agama hanya dijadikan sebagai “barang bawaan” dan “tempelan kata” tapi mengalami pengeringan makna setiap harinya karena ditindih oleh asesori duniawi yang wah, plus ritus-ritus kepejabatan yang selalu ramai di ruang publik.

Kemewahan fasilitas negara, mobilitas kedinasan dan kilatan lambang-lambang begitu mudah terhina di hadapan catatan sejarah yang jujur dan kesaksian-kesaksian otentik dari orang-orang biasa. ***

 

Penulis adalah
Parner di Voice-of-HaleHepu
E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminHarian Persepsipersepsispektrum sosialtulisan basri amintulisan persepsi

Related Posts

Muh. Amier Arham

Program MBG Tujuan Mulia Penuh Anomali

Monday, 23 February 2026
Manajemen BSG Masih Bekerja di Zona Nyaman

Manajemen BSG Masih Bekerja di Zona Nyaman

Friday, 13 February 2026
Dr. Herwin Mopangga, S.E., M.Si.

Jagung Gorontalo di Persimpangan Nilai Tambah

Wednesday, 11 February 2026
Tauhid Arif

Keputusan RUPS-BSG: Moga tak Lahirkan Buah yang “Tinasi”

Wednesday, 11 February 2026
Basri Amin

Semesta Sulawesi

Monday, 9 February 2026
Ridwan Monoarfa

Sapi Alat Politik, Hilirisasi Tak Pernah Tumbuh

Monday, 9 February 2026
Next Post
Suasana pelaksanaan Tadarus Al-Qur'an di BLY, Sabtu (21/2/2026). (Foto: Prokopim)

Tadarus Al-Qur'an Program Adhan Selama Ramadan

Discussion about this post

Rekomendasi

Basri Amin

Agama, Kesalehan, dan Pejabat

Monday, 23 February 2026
Pemecahan kendi sebagai dimulainya peletakan batu pertama pengembangan bandara Djalaludin untuk mendukung terwujudnya embarkasi haji penuh Gorontalo, Jumat (20/2). (Foto : Dok Pemprov/Bahrian)

Embarkasi Haji Makin Nyata, Bandara Diperluas Boeing 777 Bisa Mendarat

Monday, 23 February 2026
Puluhan sepeda motor terjaring balap liar dan tidak memiliki surat - surat lengkap, diamankan Satlantas Polres Bone Bolango. (F. Humas Polres)

Diduga Lakukan Balap Liar Saat Ramadan, Puluhan Motor Diamankan Polisi di Tilongkabila

Monday, 23 February 2026
Muh. Amier Arham

Program MBG Tujuan Mulia Penuh Anomali

Monday, 23 February 2026

Pos Populer

  • Jasad korban yang ditemukan pengapung di pantai Bubaa saat disemeyamkan di Pusekesmas terdekat untuk penyelidikan lebih lanjut mengenai penyebab kematian korban, Ahad, (15/2/2026), (Foto: Istimewa).

    Diduga Alami Kekerasan, Siswi SD Ditemukan Mengapung di Pantai Bubaa

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • HUT Pramuka ke 62, Ketua Kwarda Gorontalo Raih Penghargaan Karya Bakti dari Kwarnas

    70 shares
    Share 28 Tweet 18
  • Ipar Membawa Maut, Rudapaksa, Dibunuh, Lalu Dibuang ke Laut

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Siswi SD di Boalemo Dibunuh, Diduga Gara-gara Menolak Disetubuhi

    37 shares
    Share 15 Tweet 9
  • Kisah Anak SD BunDir di NTT, Tak Mampu Beli Buku, Mama Pelit Sekali

    197 shares
    Share 79 Tweet 49
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.