Oleh:
Tauhid Arif
SEPANJANG tahun 2025, Bank Sulut Gorontalo (BSG) membukukan laba bersih Rp281 miliar. Meski tumbuh 26 persen dibanding tahun sebelumnya (Rp224 miliar), angka ini sejatinya baru mencapai 70 persen dari target yang dipatok sebesar Rp400 miliar.
Dominasi pendapatan bunga kredit BSG yang mencapai Rp17 triliun menjadi sorotan. Betapa tidak, sekitar 90 hingga 95 persen di antaranya mengalir ke puluhan ribu ASN di Sulawesi Utara dan Gorontalo melalui skema kredit konsumtif.
Artinya, ada sekitar Rp14 triliun hingga Rp15 triliun dana yang terserap untuk renovasi rumah, biaya pendidikan, hingga kebutuhan konsumsi lainnya. Ketergantungan akut pada ASN membuat pola kerja bank daerah ini terkesan “mudah”. Dengan sistem payroll dan auto-debet, risiko kredit menjadi sangat minim.
Tak heran jika sebagian karyawan seolah hanya bertugas memantau nasabah yang berpotensi melakukan top-up. Begitu masa pinjaman berjalan separuh waktu, tawaran pinjaman baru langsung disodorkan. Inilah siklus tahunan BSG demi menjaga eksistensinya: memburu loyalitas ASN. Bahkan hingga masa pensiun tiba, dengan jaminan SK yang tersimpan rapat di brankas bank.
Secara angka, BSG meraup pendapatan bunga Rp2,41 triliun dengan beban bunga simpanan Rp1,045 triliun. Sehingga pendapatan bersih dari bunga berada di kisaran Rp1,3 triliun.
Setelah dikurangi beban operasional dan pajak, maka diperoleh laba bersih Rp281 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar 74 persen atau Rp207,9 miliar akan menjadi hak pemegang saham sebagai dividen. Deviden yang diterima pemprov, pemkab dan pemkot ini, selanjutnya masuk ke kas daerah sebagai PAD.
Dalam RUPS 10 Februari 2026, direksi dan komisaris dibebankan target laba yang lebih ambisius: Rp500 miliar. Target ini akan terasa berat jika transformasi kredit belum jelas dan tetap “menetek” pada ASN.
Sudah saatnya evaluasi kinerja manajemen tidak hanya terpaku pada nominal laba. Rasio kredit produktif harus menjadi indikator utama. Jika pertumbuhan BSG tetap bersifat konsumtif-sentris, maka manajemen hanya membuktikan bahwa mereka memang lebih suka bekerja di zona nyaman daripada mendorong sektor produktif yang lebih berdampak bagi masa depan daerah.(*)













Discussion about this post