Gorontalopost.co.id, GORONTALO —Persoalan asmara diduga menjadi pemicu terjadinya kekerasan yang menimpa seorang siswi di salah satu sekolah menengah atas di Gorontalo. Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (19/1), sekitar pukul 18.30 Wita dan berlangsung di luar lingkungan sekolah.
Ibu korban, Herlina Dumbi (HD), mengungkapkan bahwa sebelum kejadian, putrinya sempat meminta izin untuk pergi ke rumah seorang teman.
“Saya sempat bertanya mau ke mana, dengan siapa, dan menggunakan apa. Dia bilang hanya mau berkumpul sebentar dan naik ojek online,” ujar HD saat diwawancarai, Sabtu (24/1/2026).
Namun, lokasi kejadian ternyata berlangsung di Lapangan Karsa, Jalan Agus Salim, Kota Gorontalo, bukan di tempat yang sebelumnya disampaikan kepada keluarga.
“Anak saya sudah meminta agar persoalan diselesaikan di situ saja. Bahkan pemilik rumah sempat melarang dan menahan mereka agar tidak pergi. Tapi anak saya tetap dibawa. Dia mengira hanya akan diajak berbicara baik-baik dan sama sekali tidak terpikir akan dipukul,” katanya.
Setibanya di lokasi, ponsel korban sempat diambil dan digunakan untuk merekam kejadian. Tidak lama kemudian terjadi adu mulut yang berujung pada kekerasan fisik.
“Anak saya ditarik rambutnya, dipukul, ditendang di bagian perut, bahkan dibanting hingga pusing. Saat dia berusaha bangun, wajahnya disorot menggunakan lampu ponsel lalu kembali dipukul,” ungkap HD dengan suara bergetar.
Usai kejadian, korban sempat bersembunyi di rumah salah satu temannya sebelum informasi tersebut diketahui pihak keluarga.
“Saya ditelepon dan diminta segera melihat pesan serta foto yang dikirimkan. Saat saya membukanya, saya sangat terkejut karena kondisi anak saya sudah sangat memprihatinkan,” ujarnya.
Pada malam yang sama, korban langsung dibawa untuk mendapatkan penanganan medis. Secara fisik, korban mengalami lebam di sejumlah bagian tubuh. Peristiwa tersebut kemudian dilaporkan ke pihak kepolisian untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.
Sementara itu, pihak sekolah tempat para pelajar tersebut menempuh pendidikan membenarkan adanya kejadian tersebut. Pihak sekolah menegaskan bahwa meski peristiwa terjadi di luar lingkungan sekolah, namun tetap menjadi tanggung jawab moral karena melibatkan peserta didik.
“Begitu kami menerima informasi, pihak sekolah langsung memanggil orang tua pelaku dan korban. Kami tidak tinggal diam, meskipun kejadian ini berlangsung di luar sekolah,” ujar Kepsek, Syaiful Kadir saat dikonfirmasi di ruangannya, Senin (26/1).
Dirinya juga menjelaskan bahwa telah dilakukan pertemuan antara orang tua, pelaku, dan saksi-saksi. Dalam pertemuan tersebut, orang tua pelaku telah menyampaikan permohonan maaf dan secara internal permasalahan di lingkungan sekolah dinyatakan selesai. Namun pihak korban tetap memilih menempuh jalur hukum. “Kami menghormati keputusan keluarga korban untuk melanjutkan ke ranah hukum. Itu adalah hak mereka,” katanya
Seiring berjalannya proses pemeriksaan di kepolisian, pihak sekolah menjatuhkan sanksi berupa skorsing selama satu minggu kepada para pelajar yang terlibat sebagai pelaku.
“Skorsing diberikan sebagai bentuk sanksi awal sambil menunggu kepastian hukum. Setelah proses hukum selesai, sekolah akan mengambil keputusan lanjutan yang bersifat mendidik dan memberikan efek jera,” tegasnya.
Sementara itu, berdasarkan hasil pemeriksaan internal sekolah, motif kejadian diduga dipicu persoalan asmara. Seluruh pihak yang terlibat merupakan pelajar kelas XI dari dua kelas berbeda. Untuk korban, pihak sekolah memberikan dispensasi belajar karena masih menjalani pemulihan kesehatan.
“Kami memberikan dispensasi kepada korban agar fokus pada pemulihan. Sekolah juga berkoordinasi dengan dinas terkait serta lembaga perlindungan perempuan dan anak untuk pendampingan psikologis,” lanjutnya.
Pihak sekolah menegaskan bahwa dalam penanganan kasus tersebut tidak ada perlakuan khusus terhadap siapa pun. “Aturan sekolah diterapkan secara adil kepada seluruh peserta didik tanpa pengecualian,” pungkasnya. (Tr-76)












Discussion about this post