Gorontalopost.co.id, JAKARTA — Ketidakpastian geopolitik global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan masih menjadi pendorong utama pergerakan harga emas pada pekan depan.
Kondisi tersebut membuka peluang harga logam mulia atau salah satunya emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menembus level Rp 2,8 juta per gram.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai tren harga emas dunia masih berada dalam fase fluktuatif dengan kecenderungan menguat, seiring meningkatnya risiko global dan pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Namun demikian, Ibrahim mengingatkan potensi koreksi tetap terbuka. Support pertama harga emas dunia berada di level USD 4.553 per troy ounce, yang berpotensi menekan harga emas domestik ke kisaran Rp 2.638.000 per gram.
“Kalau seandainya turun lagi di support kedua di USD 4.488, ada kemungkinan harga logam mulia akan turun di Rp 2.560.000. Itu seandainya harga emas dunia turun,” kata Ibrahim dalam analisisnya, Minggu (18/1).
Di sisi lain, peluang penguatan dinilai lebih besar jika sentimen global kembali memanas. Resistance pertama emas dunia berada di level USD 4.655 per troy ounce dengan estimasi harga emas Antam di Rp 2.700.000 per gram.
“Kemudian di resistance kedua kemungkinan besar akan mengalami penguatan untuk harga emas dunia di USD 4.706 per troy ounce. Logam mulianya di Rp 2.820.000. Ingat, ada kemungkinan besar harga logam mulia itu di Rp 2.820.000,” jelas Ibrahim.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga menjadi faktor pendukung kenaikan harga emas. Berdasarkan analisis teknikal, Ibrahim memproyeksikan rupiah masih berisiko melemah pada pekan depan.
“Target pertama pelemahan rupiah berada di Rp 16.920. Bahkan pelemahan mata uang rupiah kemungkinan besar ya itu di minggu depan di Rp 17.100,” ungkapnya.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut menunjukkan bahwa intervensi Bank Indonesia serta kebijakan pemerintah sejauh ini belum mampu mendorong penguatan rupiah secara signifikan.
Lebih lanjut, Ibrahim membeberkan ada sejumlah faktor global yang membuat harga emas dunia dan logam mulia bergerak fluktuatif. Pertama, eskalasi perang dagang, salah satunya Uni Eropa pada Jumat pekan lalu menerapkan bea dumping terhadap produk alumina leburan asal Tiongkok sebesar 88,7 persen hingga 110,6 persen, yang berpotensi dibalas oleh Tiongkok pada pekan depan.
Kedua, Amerika Serikat berencana menerapkan biaya impor sebesar 20 persen terhadap produk Eropa, dipicu isu geopolitik terkait Greenland. Ketiga, situasi politik dalam negeri AS yang terus memanas, termasuk pemanggilan Ketua The Fed Jerome Powell oleh Jaksa Agung terkait pembangunan Bank Sentral AS.
Adapun faktor ke-empat adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang masih berlanjut, sementara faktor kelima berasal dari ketidakpastian kebijakan moneter global yang mendorong investor kembali mencari aset aman.
“Dengan kondisi seperti ini, emas masih menjadi pilihan lindung nilai utama. Selama ketidakpastian global dan pelemahan rupiah berlanjut, peluang emas Antam menembus Rp 2,8 juta sangat terbuka,” pungkas Ibrahim. (tro)













Discussion about this post