gorontalopost.co.id Siang hari duduk di bangku kuliah, malam hari berkutat dengan kerja. Inilah realita hidup Eka Safitri (20), mahasiswi Jurusan Terapi, Fakultas Kesehatan, Universitas Nahdlatul Ulama Gorontalo, yang harus membagi waktu antara kuliah dan kerja, demi bertahan hidup serta membantu biaya sekolah adiknya. Di tengah jadwal kampus yang kerap berubah mendadak, Eka kerap dipaksa memilih: hadir di kelas atau tetap bekerja.
Di balik ramainya Citimall Gorontalo, Eka tampak sibuk meracik minuman hingga pukul 23.00 WITA. Mahasiswi asal Makassar ini telah bekerja sebagai karyawan part time bagian bar/minuman di Pizza Hut Citimall Gorontalo sejak April 2025. Keputusan bekerja bukan untuk gaya hidup, melainkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Setiap harinya, Eka menjalani rutinitas padat. Pagi hingga siang ia mengikuti perkuliahan, lalu sore hingga malam bekerja sebanyak tiga hingga empat kali dalam seminggu. Di hari libur, ia memilih mengambil jadwal kerja tambahan. Adapun tugas-tugas kuliah dikerjakan pada malam hari sepulang kerja, ketika tubuh sudah kelelahan.
“Kalau istirahat itu curi-curi waktu saja. Kadang kalau dosen tidak masuk atau ganti jadwal, hari itu saya pakai untuk istirahat,” ujar Eka saat ditemui Sabtu, 20 Desember, di Citimall Gorontalo.
Tantangan terberat Eka bukan hanya soal lelah fisik, melainkan jadwal kuliah yang kerap berubah secara mendadak. Perubahan tersebut sering berbenturan dengan jam kerjanya yang tidak bisa diganti seenaknya. Dalam kondisi tertentu, Eka terpaksa meminta izin ke tempat kerja hanya untuk mengikuti satu mata kuliah, atau bahkan harus bolos kuliah.
Situasi paling pahit dialaminya ketika dosen yang sebelumnya dikabarkan tidak masuk, tiba-tiba hadir di kelas. Saat itu, Eka baru datang dari tempat kerja dan tidak mengenakan seragam kampus. Meski nekat mengikuti perkuliahan dengan seragam kerja yang ditutupi cardigan, ia akhirnya diminta keluar dari kelas dan harus merelakan satu mata kuliah terlewat.
“Rasanya sakit, tapi mau bagaimana lagi,” katanya.
Ironisnya, sikap sebagian dosen dinilai Eka kurang memahami kondisi mahasiswa pekerja. Izin kerap tidak diterima dengan alasan urusan kerja bukan tanggung jawab dosen. Kondisi ini membuat Eka sering berada di posisi serba salah.
Tekanan tersebut membuat Eka sering ingin menyerah dan berhenti bekerja. Ia merasa tidak enak kepada manajer karena terlalu sering izin atau meminta penyesuaian jadwal. Apalagi ketika pulang kerja larut malam dan tugas kuliah menumpuk belum terselesaikan.
Namun, satu hal membuatnya tetap bertahan: tanggung jawab hidup.
Eka tidak seberuntung anak seusianya, orang tuanya memilih berpisah sejak ia duduk di kelas 3 SD, dan kini masing-masing telah memiliki keluarga baru. Sebagai anak pertama, Eka merasa tidak pantas terus meminta biaya hidup. Ia bahkan memiliki tekad untuk membantu biaya sekolah adiknya.
“Kalau bukan saya yang biayai diri sendiri dan bantu adik saya, siapa lagi?” ucapnya.
Saat ini, Eka juga menumpang tinggal di rumah keluarga dari pihak ayahnya, kondisi yang semakin menguatkan tekadnya untuk mandiri. Meski harus membagi waktu antara kuliah dan kerja, Eka menegaskan bahwa IPK-nya tetap terjaga. Menurutnya, bekerja tidak menghambat prestasi akademik, justru melatih kedisiplinan dan tanggung jawab.
Ia bersyukur karena pihak tempat kerja sangat mendukung pendidikannya dan memberi toleransi agar kuliah tetap menjadi prioritas. “Bekerja sambil kuliah itu bukan keinginan siapa pun. Semua pasti ingin fokus kuliah. Tapi keadaan yang memaksa,” katanya.
Dari kondisi keluarga dan realita kuliah sambil kerja, Eka mengaku belajar banyak tentang arti kemandirian. “Mandiri itu mampu mengurus diri sendiri dan bertanggung jawab atas hidup tanpa bergantung pada orang lain,” ujarnya. Eka berharap, ke depan pekerjaan dan rezekinya dilancarkan, serta dipermudah dalam menyusun skripsi hingga wisuda. “Saya ingin lulus dengan baik dan membuktikan bahwa semua perjuangan ini tidak sia-sia,” tutupnya. (mg-13)











Discussion about this post