Oleh:
Basri Amin
TRADISI menulis jejak keluarga besar Gorontalo di beberapa kota utama di Indonesia secara reguler, sepertinya bermula sejak awal 1980-an. Dimulai dari upaya K.H. Ibrahim Nento. Disebutkan oleh banyak sumber bahwa beliau memiliki hubungan-hubungan khusus dengan tokoh-tokoh nasional terpandang Gorontalo. Termasuk dikenal sangat dekat dengan Prof. B.J. Habibie dan keluarganya.
Pada Juli 1982, Ibrahim Nento menyatakan bahwa “Buku Petunjuk Alamat Pos Keluarga Besar Gorontalo” adalah terbitannya yang ke-4 di atas kertas HVS 80 gram. Tiga terbitan sebelumnya hanya bersifat stensil saja. Saya tidak menemukan terbitan-terbitan tersebut, kalau-kalau di antaranya sudah muncul di akhir 1970-an.
Direktori alamat ini sangat penting artinya untuk sejarah migrasi dan diaspora nasional dan global masyarakat Gorontalo yang kini sudah mencapai generasi kesekian yang semakin mondial. Dengan itulah pula kita bisa belajar tentang “sumberdaya” awal yang dimiliki Gorontalo sehingga berhasil membentuk daya dorong warganya untuk berpindah tempat tinggal. Kendati sudah bisa kita duga penyebab umumnya: perbaikan pendidikan, penghidupan, pengobatan, pernikahan, dan perubahan pekerjaan.
Dalam keadaan tertentu, pemicunya bisa juga karena alasan “kecewa” dan “konflik” mengenai sesuatu. Termasuk dendam karena tekanan partikuler (kemiskinan, persaingan keluarga, perbedaan aspirasi politik, tekanan feodalisme, bencana, dst).
Di luar itu, peristiwa sejarah yang mendesak sikap-sikap berbeda juga sering mewadahi aspirasi di mana seseorang, bahkan keluarga, memilih berpindah secara bersama. Dan tentu saja banyak lagi kemungkinan lainnya. Oleh sarjana ternama Mochtar Naim (2013 [1973]) menyebutnya sebagai gejala “merantau” –-demi mencapai sukses dan prestise diri di kampung halaman–, terutama bagi masyarakat Minangkabau dan sepertinya juga bagi orang Bugis (Pelras, 2021 [1996]: 370—377).
Mulia betul upaya Ibrahim Nento ini karena berhasil menggerakan jejaring alamat keluarga besar Gorontalo di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan, Ujung Pandang, Maluku dan Irian Jaya. Kita sulit membayangkan bagaimana taktik Ibrahim Nento mengerjakan komunikasinya agar bisa menghasilkan sebuah “direktori nasional” alamat pos keluarga Gorontalo di awal 1980-an itu. Dan berapa lama ia mengerjakannya? Dengan cara apa?
Ia juga menjaga kerincian keterangan dan rasa kekeluargaan, misalnya bagi perempuan Gorontalo yang menikah dengan yang bukan ber-“fam Gorontalo”, Ibrahim Nento punya cara yang unik, yakni tetap mendahulukan fam (nama marga) sang perempuan itu lalu menuliskan di baris kedua (bawah) nama lengkap suaminya.
Misalnya, Gobel,- Fatimah, lalu di bawah namanya ditambahkan: (Ny. Drs. Harrun Arrasyid). Jika punya anak, sekalian disusun tulisannya: Gobel, Marwan Harrun Arrasyid (anak). Menurutnya, dengan cara begini, keluarga akan lebih mudah saling-mengenal, demikian juga bagi keluarga lainnya untuk saling menambahkan pengetahuan kekeluargaannya.
Terasa sekali motif dasar Ibrahim Nento, yakni “mengintimkan pengetahuan” kekeluargaan (Gorontalo) secara lengkap. Setidaknya dalam ukuran tahun, karena bukankah setiap saat ada saja kelahiran anak yang baru, perkawinan antar anggota keluarga, demikian juga dengan kematian yang potensial ‘menghilangkan’ alamat sekaligus. Mungkin karena alasan itulah Ibrahim Nento jauh-jauh hari sudah nyatakan bahwa “buku alamat” ini akan diterbitkan sekali dalam dua tahun. Maka bisalah juga dikira-kira bahwa sepanjang itulah pula ia “mengumpul alamat” dan mengerjakan pembaruan informasinya.
Untuk edisi tahun 1982, ia mengakui sudah terlambat “empat tahun” penerbitannya. Dari indikasi ini kita jadi tahu bahwa menjelang pertengahan 1970-an dan berlanjut di periode 1977/1979 ia sudah menerbitkan direktori “Keluarga Gorontalo” secara konsisten.
Di halaman-halaman awal, saya langsung ketemu dengan sejumlah “fam” Gorontalo yang akrab (misalnya, Abdussamad, Adam, Akase, Akilie, Ali, Abas, Abdul, Abdullah, Albar, Alhadar) dan langsung juga bersua fam yang kurang akrab di mata saya selama ini (Ajub, Albakir). Demikian juga ketika loncak kebagian “I”, saya menemukan yang sudah lama familier selama ini, contoh: Ilahude, Ismail, Igirisa, Ibrahim, Isa, Inaku, Ishak, dll).
Tetapi, di bagian lain, ketemu lagi yang tidak begitu akrab di mata saya, misalnya: Kacung, Mayer, Mataihu, Naula, Satilu, Saloewa, Talawo, Tahune). Maaf, ini tak bermaksud membuat kategori fam yang “popular” atau menilai kurang bobot sejarah sosial-nya, melainkan hanya sebatas batas-batas pengetahuan saya saja sejauh ini.
Harus saya akui, sekian puluh tahun saya tertakdirkan lebih akrab dengan fam Monoarfa, Datau, Olii, Wartabone, Tangahu, Mooduto, Unonongo, Jassin, Kaluku, Pedju, Tuloli, Niode, Pakaya, Uno, Katili, Botutihe, Polontalo, Badjeber, Gobel, Bobihoe, Naki, Abdul, Dambea, Usman, Habibie, Mbuinga, Dungga, Otoluwa, Alhadar, Baga, Dako, Arbie, Akili, Alamri, Dama, Ismail, Paramata, Paneo, dll).
Satu hal yang menarik dari Direktori Keluarga Gorontalo edisi 1982, bahwa Ibrahim Nento juga berhasil mendaftar nama-nama “penghuni awal” Asrama HPMIG Jaya di Salemba Tengah 29 Jakarta Pusat: A.K. Baga, A. Mozin, A. Monoarfa, B. Abdulkarim, F. Badjeber, F. Alamri, Ekananda, L. Bukamo, M. Ali, M. Saboe, N. Nurmantu, R. Duhengo, R. Polontalo, S. Mano, S. Husain, T. Latjuba, U. Gobel, Yansen Amu dan Yusuf Arkani. Mereka adalah golongan terpelajar di masanya yang mungkin kita kenali kiprah penting mereka di kemudian hari.
Pada edisi tahun 1988, daftar tersebut sedikit berubah, tetapi mulai ketahuan bahwa anak-anak pelajar/mahasiswa Gorontalo sedang belajar teknik di UI, ISTN, juga sastra, administrasi, hukum, ekonomi (Univ. Trisakti, Univ. Pancasila, SETIAMI) dan ada juga di bidang dakwah (Habib Bahmid di IPRIJA). Di Bandung, pada tahun 1988 tercatat mahasiswa Gorontalo di Asrama Gorontalo Jln. Cihampelas 88, antara lain: Abdurrahman Musa (ITB), Mokotampi Ilahude (ITN), Fahmi Monoarfa (ekonomi di Univ. Pasundan), Syarif Olii (Teknik), Sonny Pidu (Hukum di STH Bandung), David Ibrahim (Pertanian di Univ. Bandung Raya), dll.
Terkesan bahwa semua edisi tahun 1980-an, Direktori keluarga Gorontalo didukung sepenuhnya oleh kantor pusat PT. Gobel Dharma Nusantara dan jelas pula dua alamat utamanya: Jl. Saharjo No. 191 Jakarta dan di Jl. Dewi Sartika Cawang – II. Kita juga bisa menyimak bahwa di tahun 1988, PT. Gobel sudah punya dua puluhan cabang dan service nasional, tersebar di Denpasar, Palu, Padang, Palembang, Lampung, Jambi, Medan, Lhokseumawe, Ujung Pandang, Manado, Ambon dan Pontianak. Selain itu tentu saja hadir di semua kota utama di pulau Jawa.
Banyak hal yang dimuat oleh Direktori Ibrahim Nento ini, bahkan memuat tokoh-tokoh Gorontalo di Surabaya tahun 1980-an beserta pengurus Ikatan Keluarga Gorontalo (IKG) di Surabaya yang dipimpin oleh Alex Sato Bya, Ismed PoU, M. Niode dan Aty Otoluwa.
Edisi terakhir yang bisa saya simak adalah tahun 1994. Selajutnya, adalah Lamahu yang tampaknya meneruskan usaha besar ini, tetapi lebih memilih berjudul “Himpunan Alamat Keluarga Gorontalo Se-Jawa”. Sejak edisi millennium tahun 2000, di mana Taufik A. Wumu bertindak sebagai penyusunnya, –kendati tanpa penjelasan terbuka tentang ‘sejarah buku kumpulan alamat” Gorontalo sejenis ini jauh sebelumnya telah dikerjakan oleh K.H. Ibrahim Nento.– Edisi 2000 diterbitkan oleh Koperasi Lamahu Indah Gorontalo Cabang Jakarta.
Di dalamnya, Ketua Lamahu 1996—1999, Rachmat Gobel, memberikan sambutan khusus. Sejak 2010, hak cipta (©) buku Direktori Keluarga Gorontalo Se-Jabotabek dipegang oleh Pak Taufik A.Wumu, seorang penulis senior dan punya jaringan media nasional yang luas. Sejak itu, Direktori semakin tampil lengkap, bermitra dengan banyak pihak, punya ‘iklan’, dan menampilkan profil tokoh-tokoh nasional dan lokal Gorontalo di berbagai panggung pengabdian kepada bangsa. Pola ini terus berkembang baik sampai edisi 2022 (edisi terakhir di koleksi saya!).
Gorontalo adalah sebuah keluarga (bangsa) besar. Sudah seharusnya diaspora keluarga dan keunggulan “manusia Gorontalo” tergerakkan sedemikian rupa untuk sebuah obesi kemajuan dan emosi masa depan bersama yang bermakna dan adil bagi generasi berikutnya. ***
Penulis adalah bekerja di Universitas Negeri Gorontalo.
Surel: basriamin@gmail.com












Discussion about this post