logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Biomasa
Home Headline

Puskesmas Jadi Panglima

Lukman Husain by Lukman Husain
Tuesday, 23 September 2025
in Headline
0
Hamim Pou

Hamim Pou

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Hamim Pou
Mantan Kepala Daerah

 

PAGI itu, di sebuah kelurahan di pinggir kota, seorang ibu muda menuntun anaknya yang pucat ke Puskesmas. Anak itu mengeluh perutnya melilit, matanya sayu, dan berat badannya tak pernah beranjak seperti teman-teman sebaya. Si ibu menyodorkan botol air minum isi ulang yang disimpan rapat; katanya, air ledeng di rumah sering keruh.

Petugas menerima mereka dengan ramah, lalu melakukan pemeriksaan sederhana. Tidak lama, lembar penyuluhan pun berpindah tangan: cacingan, diare berulang, dan anjuran perilaku hidup bersih yang terdengar biasa, tetapi di rumah mereka, air bersih dan sanitasi yang baik justru adalah barang mewah.

Related Post

Pemerintah Beri Jaminan, BBM Subsidi Tak Naik Sampai Lebaran

Malam Qunut, Tradisi Unik Berburu Kacang dan Pisang

Pabrik Gula Gorontalo Jual Gula Murah Stabilkan Harga Pasar

Adhan Kumpul Para Politisi, Tak Ada Sekat, Idah Serukan Harmonisasi

Di luar, seorang bapak menunggu giliran untuk menebus obat hipertensi. Ia bercerita pendek: “Kalau musim hujan, selokan cepat meluap. Anak-anak sering sakit.” Di ruang tunggu itulah, saya kembali diingatkan bahwa kesehatan selalu berangkat dari hulu—air, sanitasi, lingkungan, dan kebiasaan kecil di rumah—sebelum ia tiba di kamar rawat kelas berapa pun.

Tulisan Iqbal Mochtar di Media Indonesia, Senin 22 September 2025, mengingatkan kita pada paradoks menyakitkan: di satu sisi, kita merayakan fasilitas berteknologi tinggi dan rumah sakit megah; di sisi lain, anak-anak masih jatuh sakit bahkan wafat karena penyakit klasik seperti cacingan. Saya bersyukur tulisan tersebut mengusik kenyamanan publik.

Ia memantik sesuatu yang sudah lama saya rasakan sejak memimpin daerah: bahwa indikator keberhasilan pembangunan kesehatan bukan seberapa kinclong mesin yang dibeli, melainkan seberapa jarang keluarga kecil di kampung harus bolak-balik ke fasilitas kesehatan karena masalah yang sebenarnya bisa dicegah.

Data terbaru meneguhkan intuisi itu. Menurut BPS, akses rumah tangga terhadap air minum layak pada 2024 telah mencapai sekitar 92,64% secara nasional; sebuah kemajuan, namun sekaligus pengingat bahwa masih ada jutaan warga yang belum terlindungi. Pada waktu yang sama, rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak berada di kisaran 83,60% pada 2024; praktik buang air besar sembarangan (BABS) memang turun, tetapi masih sekitar 3,20% rumah tangga melakukannya—angka kecil dalam persentase, namun besar dampaknya bagi kesehatan lingkungan setempat. Semua angka ini mempertegas jurang kota–desa dan antardaerah: ada provinsi yang hampir mencapai universal, ada pula wilayah yang tertinggal jauh.

Di sisi keselamatan ibu, estimasi kelompok PBB (MMEIG) menempatkan rasio kematian ibu Indonesia sekitar 173 per 100.000 kelahiran hidup (2020, model); estimasi nasional berbasis Sensus Penduduk 2020 di angka 189. Kita masih berjalan, tetapi target SDGs di bawah 70 mengingatkan bahwa laju kita harus dipercepat.

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sendiri sudah menutup hampir seluruh penduduk—sekitar 98–99% per Agustus 2025—sebuah capaian besar yang mesti kita jaga. Namun, aliran belanjanya masih lebih ramah pada pengobatan. Laporan pemantauan 2024 menunjukkan porsi promotif–preventif baru sekitar satu koma sekian persen dari total beban jaminan, sementara klaim kuratif tingkat lanjutan mendominasi.

Ketika uang negara lebih banyak mengalir saat orang sudah sakit, pesan kebijakannya tersirat: “Datanglah ketika terlambat.” Kita perlu membalik pesan itu menjadi “Datanglah sebelum sakit”—dan itu berarti mengubah cara kita membayar dan mengukur keberhasilan.

Di lapangan, kita punya mesin perubahan yang tak selalu difoto: Puskesmas. Indonesia memiliki lebih dari sepuluh ribu Puskesmas hingga pelosok; jejaring sosial–kesehatan yang tak tertandingi. Di sini bidan mengenal ibu hamil satu per satu, sanitarian paham lorong-lorong rawan genangan, perawat berkeliling sekolah memantau kesehatan anak. Karena itu Puskesmas harus menjadi panglima pencegahan: command center kesehatan masyarakat yang memimpin edukasi, pemantauan perilaku, penataan lingkungan, skrining dini, dan rujuk-balik yang hidup.

Paradigma nasional sudah diarahkan melalui enam pilar Transformasi Kesehatan—kerangka yang benar—tetapi pilar layanan primer dan pembiayaan perlu “diarusutamakan” agar pencegahan benar-benar menjadi mesin utama.

Di Bone Bolango, pengalaman saya sederhana namun mengubah cara pandang. Kami mendorong Puskesmas berstatus BLUD untuk mengalokasikan pendapatan layanan menjadi operasi luar gedung: kelas ibu dan remaja putri, inspeksi sanitasi rumah tangga, verifikasi depot air minum isi ulang, dan kunjungan sekolah untuk deworming serta edukasi cuci tangan.

Pendekatan ini membuat lintasan hulu–hilir menjadi satu paket: skrining dini di sekolah dan posyandu, rujukan cepat ke RSUD bila perlu, lalu rujuk-balik untuk kontrol rutin di keluarga. Kami belajar bahwa keberhasilan bukan soal acara seremonial, melainkan konsistensi kunjungan, catatan risiko yang rapi, dan kehadiran tenaga kesehatan di tempat yang benar pada waktu yang tepat.

Isu cacingan—yang disorot dalam tulisan Iqbal—adalah contoh kuat mengapa hulu menentukan nasib hilir. Di wilayah dengan prevalensi sedang–tinggi, pedoman POPM menganjurkan pemberian obat cacing massal berkala, bahkan dua kali setahun, disertai perbaikan air dan sanitasi. Itu pekerjaan lintas sektor yang harus dipimpin dari Puskesmas, dieksekusi desa/kelurahan, dan dijaga kualitasnya oleh dinas teknis serta dunia pendidikan. Tanpa air minum aman dan sanitasi aman, ulang-alik anak ke Puskesmas akan terus terjadi, dan RSUD akan terus mengobati konsekuensi yang sebenarnya bisa dicegah di rumah dan sekolah.

Apa artinya semua ini bagi arsitektur kebijakan? Pertama, pagari belanja promotif–preventif di lini Puskesmas melalui BOK/DAK Nonfisik dan skema JKN berbasis kinerja; jangan sekadar menganjurkan, tetapkan ambang minimal agar pos ini tidak diutak-atik selera proyek tahunan. Kunci sebagian kapitasinya untuk operasi lapangan: kelas ibu dan remaja putri, inspeksi sanitasi rumah tangga, standardisasi depot air minum isi ulang, serta kontrol rutin penyakit kronis berbasis keluarga.

Kedua, ubah indikator keberhasilan Puskesmas agar benar-benar berorientasi hulu: cakupan air dan sanitasi aman di wilayah kerja, skrining TB laten, cakupan kontrol hipertensi/diabetes, cakupan skrining kanker serviks berbasis IVA/DNA-HPV, dan capaian POPM kecacingan—bukan semata jumlah kunjungan.

Ketiga, beri fleksibilitas manajerial yang nyata bagi Puskesmas (terutama BLUD) untuk mengonversi sebagian pendapatan menjadi operasi luar gedung yang lincah, terukur, dan akuntabel. Keempat, restrukturisasi peran RSUD dari gedung menjadi gerakan. Keunggulan RSUD tidak selalu berarti mesin termewah; keunggulan bisa hadir dari protokol yang dipatuhi, jejaring rujukan dua arah yang hidup, dan tim yang bertahan di daerah. RSUD dapat memilih unggulan berbasis beban penyakit—TB–DM, onkologi ginekologi berbasis skrining, kardiometabolik, stroke—dan memastikan jalur layanan yang utuh: skrining di Puskesmas, konfirmasi dan tata laksana di RSUD, rujuk-balik kontrol di komunitas.

Dengan begitu, belanja alat menjadi bermakna karena mengikat hasil, bukan sekadar menambah koleksi. Kelima, investasikan serius pada manusia. Pemerataan dokter spesialis perlu kontrak pendidikan berbasis kebutuhan wilayah melalui skema ikatan dinas yang adil, peluang karier, fasilitas riset sederhana, dan dukungan keluarga.

Tanpa ini, semua rancangan rontok. Kita sedang berlomba dengan waktu: setiap tahun yang kita tunda adalah jam belajar anak yang hilang, pendapatan keluarga yang merosot, dan anggaran kesehatan yang membengkak untuk kuratif yang seharusnya bisa dihindari.

Pada akhirnya, semuanya kembali pada cara kita memaknai kemewahan. Apakah kemewahan itu lobi rumah sakit yang berkilau dan mesin berharga miliaran, atau ibu yang tidak perlu lagi memilih antara membeli air galon dan obat untuk anaknya? Saya memilih yang kedua. Di situlah martabat kebijakan diuji: apakah ia sanggup membuat hal-hal paling mendasar menjadi mudah bagi yang paling rentan.

Mari kita jawab ajakan Iqbal Mochtar dengan tindakan yang setara keberanian: dorong pencegahan sebagai arus utama, arsiteki pembiayaan yang berpihak pada hulu, jadikan Puskesmas sebagai panglima gerakan, dan minta RSUD berpihak menjadi unggulan yang relevan—bukan monumen.

Sore itu, anak kecil tadi pulang dari Puskesmas sambil memegang buku saku cara cuci tangan dan jadwal minum obat. Petugas mengantar kader untuk meninjau sumber air dan jamban, memberi saran sederhana yang bisa dilakukan keluarga dan RT setempat. Tidak ada peresmian bangunan, tidak ada pita yang dipotong. Hanya percakapan, kunjungan, dan tindak lanjut.

Namun dari hal-hal yang tampak sepele itulah, angka sakit berkurang, jam belajar pulih, dan senyum kembali merekah. Jika kebijakan berorientasi hulu kita jalankan dengan tekun, esok pagi anak itu berangkat sekolah tanpa melilit perut; ibunya bisa menabung sedikit; dan Puskesmas menjadi tempat kita merayakan kesehatan yang sesungguhnya: bukan gedung yang memukau, melainkan gerakan yang menyelamatkan. (*)

Tags: Catatan HamimHamim PouTulisan Hamim Pou

Related Posts

Lapak pasar murah milik PT PG Gorontalo diserbu warga dengan penjualan gula murah Rp 16.000/kg. (Foto: Roy/Gorontalo Post).

Pabrik Gula Gorontalo Jual Gula Murah Stabilkan Harga Pasar

Friday, 6 March 2026
DISTRIBUSI ENERGI: Pimpinan Pertamina Patra Niaga Sulawesi mengecek langsung dan memastikan kelancaran distribusi BBM di Gorontalo (foto: dok-pertamina patra niaga sulawesi)

Pemerintah Beri Jaminan, BBM Subsidi Tak Naik Sampai Lebaran

Friday, 6 March 2026
15 RAMADAN: Lapangan Batudaa, Kabupaten Gorontalo dipadati ribuan warga untuk berburu kacang dan pisang pada tradisi malam qunut, Kamis (5/3). Masyarakat setempat mengemasnya dalam bentuk festival. (foto: Aviva Dinanti Lambalano/ gorontalo post)

Malam Qunut, Tradisi Unik Berburu Kacang dan Pisang

Friday, 6 March 2026
UNTUK GORONTALO - Pertemuan para politisi Gorontalo yang digagas Wali Kota Adhan Dambea berlangsung penuh kekeluargaan dan harmonis, Kamis (5/3) di Hotel Grand Q Kota Gorontalo. (foto: istimewa)

Adhan Kumpul Para Politisi, Tak Ada Sekat, Idah Serukan Harmonisasi

Friday, 6 March 2026
Gubernur Gusnar Ismail bersama Rektor UNG Eduart Wolok membunyikan alat musik tradisional Polo Palo tanda diluncurnya program studi pendidikan dokter spesial spesialis anestesiologi dan terapi intensif di Fakultas Kedokteran UNG di Ballroom UTC Damhil Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Selasa (3/3). (Foto : Bahrian/Pemprov)

Gubernur Gusnar Ismail Hadiri Peluncuran Prodi Dokter Spesialis dan Subspesialis di UNG

Thursday, 5 March 2026
Airlangga Hartarto

Cek Rekening THR so Cair, ASN/TNI/Polri Mulai Dibayarkan, Ojol Juga Dapat

Wednesday, 4 March 2026
Next Post
Rapat paripurna pengumuman pemberhentian Wahyu Moridu yang berlangsung kemarin (22/9).

Deprov Lebih Berani dari Senayan, Sikapi Kasus Wahyu, BK Tampil Garang, Proses PAW Super Kilat

Discussion about this post

Rekomendasi

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Gorontalo, Maruly Pardede, saat memberikan keterangan pers. Rabu (04/02), di Mapolda Gorontalo.(Foto: Natharahman/ Gorontalo Post)

Polda Gorontalo: Transaksi Emas Tambang Ilegal Bisa Berujung Bui 5 Tahun

Thursday, 5 March 2026
Prof. Eduart Wolok

Studi Dokter Spesialis so Ada di UNG

Wednesday, 4 March 2026
Lapak pasar murah milik PT PG Gorontalo diserbu warga dengan penjualan gula murah Rp 16.000/kg. (Foto: Roy/Gorontalo Post).

Pabrik Gula Gorontalo Jual Gula Murah Stabilkan Harga Pasar

Friday, 6 March 2026
Pihak BRI Gorontalo saat melakukan pendaftaran perkara gugatan sederhana, di Kejari Kota Gorontalo. (F. Istimewa)

Ratusan ASN Kredit Macet, BRI Gandeng Kejaksaan Tempuh Jalur Hukum

Friday, 22 August 2025

Pos Populer

  • Prof. Eduart Wolok

    Studi Dokter Spesialis so Ada di UNG

    92 shares
    Share 37 Tweet 23
  • 10 Karyawan Perusahaan di Pohuwato Positif Narkoba

    61 shares
    Share 24 Tweet 15
  • Polda Gorontalo: Transaksi Emas Tambang Ilegal Bisa Berujung Bui 5 Tahun

    64 shares
    Share 26 Tweet 16
  • Audiensi Strategis: Investor Jepang Gali Informasi Legalitas dan Dampak Sosial PT BJA

    57 shares
    Share 23 Tweet 14
  • Menjembatani Visi-Misi Kepala Daerah dan Kerja Birokrasi

    55 shares
    Share 22 Tweet 14
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.