Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Ada hal yang lucu dan menjadi bahan tertawaan ketika Koordinator Lapangan (Korlap) Hamzah Kaiko yang memimpin aksi unjuk rasa di PT Pabrik Gula Gorontalo (PGG) Rabu, (15/1/2024). Pasalnya, pria yang juga bertindak sebagai orator itu mengaku sebagai seorang wartawan.
“Kalau cuma mobilang saya juga ini wartawan sebenarnya. Kita mo kase ID Card ngoni. Saya ini wartawan,”ujar HK berulang-ulang mengaku dirinnya sebagai seorang jurnalis.
Hanya saja pemimpin massa aksi yang mengatasnamakan Aliansi Gerakan Mahasiswa dan Rakyat Kapitalisme (GERAM) Provinsi Gorontalo itu enggan menunjukan ID Card miliknya yang membuktikan bahwa dirinnya sebagai seorang wartawan.
Hal ini praktis mengundang reaksi ratusan karyawan pabrik gula bahkan ada yang berteriak dan menertawakan aksi Hamzah yang mengaku sebagai kuli tinta tersebut.
“Wuuuu, mangaku-ngaku wartawan, mana ngana punya ID Card? tidak kan!. Jangan kurang samua jo yang ngana mangaku akan ini, bikin malu jo napa ada wartawan asli yang meliput pa ngana mangaku wartawan, tidak gampang jadi wartawan itu boss,”teriak salah seorang karyawan melalui pengeras suarannya.
Mendengar hal itu Hamzah langsung mengalihkan orasinya ke materi yang lain dengan menyampaikan sejumlah tuntutannya yang dianggap tidak jelas oleh pihak perusahaan.
Sementara itu ketika wartawan koran ini menelusuri kejelasan identitas kewartawanan ke sejumlah WhatssApp Grup wartawan se Gorontalo, tidak ada satupun anggota grup yang mengaku bahwa pria bernama Hamzah Kaiko itu adalah wartawan.
Lukman Polimengo salah satu wartawan Gorontalo yang juga Redaktur Pelaksanadi salah satu media elektronik di Gorontalo menyangangkan jika ada seorang aktivis yang mengaku-ngaku sebagai wartawan saat melakukan aksi demo.
“Ya, kalaupun dia wartawan tidak bisa merangkap sebagai aktivis yang melakukan demo bukan untuk kepentingan memperjuangkan hak-hak wartawan. Kalau dia melakukan demo untuk kepentingan golongan tertentu itu bukan wartawan lagi tapi Warles (wartawan LSM),”ungkap Lukman.
Dia berharap agar antara profesi wartawan dan aktivis atau LSM harus dipisah, tidak bisa merangkap seperti itu. Sebab diakui Lukman, bahwa wartawan merupakan profesi yang mulia dan bersifat netral. “Perlu dipertanyakan dia wartawan dari media mana, jangan hanya asal bgaku-ngaku sebagai wartawan,”tandas Lukman. (roy)










