Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Pemerintah akan melaksanakan program makan bergizi gratis (MBG) mulai , Senin (6/1) hari ini. Program yang menjadi salah satu janji kampanye pemerintahan Presiden Prabowo Subianto itu menyasar anak sekolah.
Dengan menyediakan paket makanan senilai Rp 10.000. Tapi menu yang akan diberikan bervariasi sesuai dengan bahan pokok yang tersedia di setiap daerah. Gorontalo sebagai daerah sentra jagung akan menjadikan Jagung sebagai salah satu menu yang akan menyuplai karbohidrat dalam program makan bergizi gratis.
Juru Bicara Kantor Komunikasi Kepresidenan (Presidential Communication Office/PCO) Dedek Prayudi mengatakan, saat kick off program MBG akan ada sekitar 3,2 juta-3,3 juta siswa yang menerima makanan gratis. “Jadi kita targetkan kurang lebih ada 3,2 juta atau 3,3 juta lah yang akan menerima manfaat makan bergizi gratis ketika kick off nanti tanggal 6 Januari,” ujar Dedek.
Program MBG akan langsung diberikan setiap hari kepada siswa selama hari masuk sekolah. Pemberian makanan dilakukan di jam sekolah menurut tingkat satuan pendidikan, yakni mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD), TK, SD, SMP dan SMA Lalu menu apa saja yang akan tersedia dalam program makan bergizi gratis?
Juru Bicara Kantor Komunikasi Kepresidenan Adita Irawati mengatakan, dengan nilai paket makanan Rp 10.000, pemerintah tetap mempertimbangkan angka kecukupan gizi. Nilai itu juga di luar unsur produksi dan jasa dalam program MBG.
Menurutnya, menu yang akan disediakan kepada setiap siswa dalam program ini bervariasi, sebab menyesuaikan dengan bahan pokok yang tersedia di tiap daerah. “Untuk menu bisa disesuaikan dengan daerah masing-masing. Sesuai situasi daerah setempat,” ujar Adita dalam keterangannya, Kamis (2/1/2025).
Di sisi lain, Mantan Direktur Pengembangan Bisnis dan Manajemen Portofolio ID FOOD Dirgayuza Setiawan, sempat membocorkan menu makanan untuk program makan bergizi gratis (MBG).
Menurut penulis buku “Pangan Indonesia” yang juga orang dekat Prabowo Subiantoini itu, menu makanan pada program makan bergizi gratis akan menyesuaikan bahan pokok yang diproduksi di tiap daerah.
Artinya, menu makanan di tiap daerah bakal bervariasi. “Menu lain di Indonesia bakal berbeda, akan menyesuaikan dengan produksi di daerah masing-masing,” ujarnya.
Misalnya, tidak semua daerah akan mendapatkan menu karbohidrat utama berupa nasi. Untuk daerah yang tidak memproduksi beras, akan diganti dengan bahan makanan berkarbohidrat lain yang tersedia di daerah tersebut.
Maka dari itu, dalam studi yang dilakukan Badan Pangan Nasional, menu makan bergizi gratis dibagi menjadi 11 wilayah. Komposisi menu dari masing-masing wilayah terdiri dari karbohidrat, lauk, buah, dan sayur yang berbeda tergantung bahan makanan yang diproduksi di tiap daerah.
Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkapkan 190 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) alias dapur siap beroperasi mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai Senin (6/1) hari ini. SPPG merupakan unit pelaksana program MBG yang bertugas memasok makanan untuk para penerima manfaat program.
“Ini data 190 lokasi SPPG yang siap operasional per tanggal 6 Januari 2025,” ucap Kepala Biro Hukum dan Humas BGN Kombes Pol Lalu Muhammad Iwan Mahardan dalam keterangannya, Ahad (5/1/2025).
Mengutip data yang dibagikan oleh BGN, sebanyak 190 SPPG itu tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Adapun, Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah SPPG paling banyak, yakni 57 lokasi. Kemudian disusul oleh Jawa tengah dengan 36 titik dan Jawa Timur 31 titik.
Selain Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, SPPG juga tersebar di Aceh, Bali, Banten, DI Yogyakarta, Jakarta, Gorontalo, dan Kalimantan Selatan. Kemudian, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kepulauan Riau, Lampung, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, dan Papua Selatan.
Selanjutnya, dapur pemasok Makan Bergizi Gratis itu juga tersebar di Riau, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sumatra Barat, serta Sumatra Utara. Program Makan Bergizi Gratis memang bakal diluncurkan mulai Senin (6/1/2025).
Adapun, 190 dapur yang disiapkan ini sejatinya lebih sedikit dibandingkan rencana awal. Sebelumnya, BGN mengeklaim akan menyiapkan 937 titik dapur di seluruh penjuru Indonesia untuk mendukung program prioritas Presiden Prabowo Subianto tersebut.
Kepala Biro Hukum dan Humas BGN Lalu Muhammad Iwan Mahardan mengatakan bahwa pihaknya akan mendorong keberadaan dapur di setiap kabupaten dan kecamatan di Tanah Air.
Dia menegaskan sebaran dapur untuk mendukung program MBG tidak hanya terpusat di Pulau Jawa. Nantinya, keberadaan 937 dapur ini justru akan mendominasi di luar Pulau Jawa.
“Tanggal 6 rencananya [akan ada] 937 dapur di seluruh Indonesia. Yang banyak di luar Jawa, daerah yang masih kekurangan gizi yang masih kategori miskin dan perlu dibantu, itu sasarannya,” kata Lalu saat ditemui di Kantor BGN, Jakarta, Kamis (2/1/2025) lalu.
Lebih lanjut, dia juga menjelaskan, untuk tahap awal, setiap dapur ditargetkan untuk bisa memproduksi sebanyak 3.000–3.500 porsi paket makan bergizi. Adapun, sasaran pemenuhan gizi ini ditargetkan untuk 3 juta orang di tahap awal.
Perinciannya, untuk peserta didik, mulai dari SD, SMP, SMA Sederajat, dan santri. Di samping itu, program makan bergizi gratis ini juga menyasar anak-anak yang berusia di bawah 5 tahun, serta ibu hamil dan menyusui.
Menteri Kooperasi Budi Arie Setiadi mengungkapkan arahan Prabowo dalam program tersebut agar menggunakan bahan baku yang bersumber dari desa dan dalam negeri untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Jadi arahan presiden, (MBG) ini harus bahan bakunya harus dari Indonesia, dari desa, sehingga bisa menggerakkan ekonomi masyarakat. Bukan impor,” kata Menteri Koperasi, Budi Arie Setiadi, dalam keterangannya yang dikutip pada Minggu 5 Januari 2025.
Budi menyebut bahwa pihaknya bakal melibatkan ribuan koperasi untuk menyukseskan program unggulan pemerintah. Dirinya juga mengaku telah mendata sebaran desa yang memproduksi beragam komoditas untuk menyokong MBG.
“Ada 1.923 koperasi yang siap menampung, siap berkontribusi dalam penyelenggaran makan bergizi gratis,” ujar Budi. “Itu termasuk koperasi telur berapa, koperasi sayur, beras, koperasi ikan, dan sebagainya,” sambungnya.
Selain itu, Budi juga menyebut desa berkontribusi menghasilkan berbagai kebutuhan seperti jagung, ikan nila, hingga melon. Hal tersebut, kata dia, masuk dalam 20% dana desa yang dianggarkan untuk ketahanan pangan.
“Tapi yang pasti, tadi untuk ketahanan pangan makan bergizi itu dari dana desa. Tadi saya sampaikan, saya laporkan 20% dari Rp 71 triliun dana desa tahun 2025 untuk ketahanan pangan,” jelas Budi. (rmb/net/ disway)










