Gorontalopost.co.id, GORONTALO – Luapan sungai bone, pada Selasa 13 Agustus 2024 lalu, meninggalkan kesan duka bagi keluarga Yunus Ibrahim.
Luapan sungai ketika itu, membuat Yunus, dan keluarganya kehilangan tempat tinggal. Rumah mereka ambruk diterjang abrasi sungai. Beruntungnya, musibah itu tidak menelan korban jiwa.
Sudah hampir sebulan, Yunus bersama istri dan anak-anaknya, tinggal di pengungsian, yakni di tenda yang didirikan tim tanggap darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), juga tak jauh dari bantaran sungai.
Dari tempat mengungsi Yunus dan keluarganya itu, tak jauh dari pusat perkantoran pemerintah, termasuk di kantor DPRD Provinsi Gorontalo yang hari ini akan ada pelantikan anggota dewan untuk periode 2024-2029.
Saat didatangi Gorontalo Post, sorot mata Yunus tampak kosong, duduk beralaskan terpal, laki-laki berusia 65 tahun itu tak bisa menyembunyikan sedihnya.
Ia tak pernah menduga akan kehilangan ‘istana’ yang dibangun dari jerih payahnya dengan begitu cepat, padahal bangunan tersebut baru sekitar tiga tahun selesai dibangun. Mengenakan kaus berkerah warna kuning, dia sangat hemat berbicara.
“Sedih, karena memang kami merasakan susahnya saat membangun rumah itu yang dulunya dari triplek tapi sudah jadi bangunan tembok batu, itu saya dan istri yang kerjakan hanya berdua,” katanya lalu menundukkan kepala. Pria yang rambutnya lurus itu galau karena tak bisa membangun rumah dalam waktu singkat.
Maryam Ali, yang juga istrinya pun menceritakan ulang peristiwa yang mereka alami saat kejadian tersebut. Rumah yang dibangun dengan cara dicicil itu, ditempati tujuh orang. Selain dirinya dan suami, ada anak dan juga cucunya yang berumur dua tahun dan tujuh bulan.
Sebelum ambruk, dirinya dan anak-anak sempat bisa menyelamatkan beberapa barang, namun dikembalikan lagi kedalam rumah, karena keadaan sudah dilihat agak membaik, selain itu, Yunus yang saat itu baru selesai operasi tidak diperbolehkan untuk masuk angin sehingganya mereka berpikir untuk kembali kedalam rumah.
“Tapi tidak berapa lama, anak saya teriak kalau bagian dapur sudah ada yang runtuh, sehingganya kami berusaha untuk menyelamatkan diri,” jelasnya. Yunus, yang mendengar istrinya bertutur meneteskan air mata. Ia seperti tidak sanggup mengingat kejadian yang telah melenyapkan rumahnya. Semuanya rusak begitu pula perabotan lainnya.
Lanjut Yunus mengatakan, hampir sebulan tinggal di pengungsian dirinya dan keluarga selalu khawatir saat hujan tiba, karena tenda yang mereka tempati akan basah, karena air hujan yang masih bisa tembus, bahkan saat siang dalam tenda terasa sangat panas. Kesulitan lainya pun mereka rasakan, saat akan buang air maupun mandi. Mereka harus rela turun ke sungai pada subuh dan malam hari.
“Kami ini sudah ada bantuan untuk banguna rumah, tapi harus ada lahan dan itu belum ada. Sudah ada beberapa tawaran harga dari orang-orang, dan kami belum sanggup untuk bayar dengan harga seperti itu, apalagi saat ini saya belum bekerja, sedangkan istri saya sudah tidak jualan lagi karena habisa modal,” pungkas Yunus.
Terakhir dirinya hanya bisa berdoa semoga bisa segera mendapatkan rezeki agar bisa segera kembali menepati rumahnya sendiri dan tidak lagi mengungsi ditempat itu lagi. (Tr-76)











Discussion about this post