logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Bandara dan Kemajuan yang Timpang

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 25 March 2024
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Profesi-Profesi Hebat

Dari Desa Andaleh ke Gorontalo: Mengakhiri Ilusi Peternakan Berbasis Bantuan

Kota Gorontalo, ‘298’ Tahun? (Catatan Terbuka kepada Wali Kota)  

Oleh:
Basri Amin

 

DALAM sebuah acara bersama dengan mahasiswa, seorang mahasiswa baru mengaku belum pernah naik pesawat udara. Suatu ketika saya dikunjungi sepupu dari Maros dan mengaku karena kunjungan itulah sehingga dia naik pesawat untuk kali pertama. Suatu waktu, seorang kenalan bercerita tentang pengalamannya mendampingi ratusan guru ke luar daerah dengan menggunakan pesawat udara. Ketika itu cukup banyak dari peserta rombongan (guru) tersebut yang baru kali pertama naik pesawat udara.

Tiga penggalan cerita ‘naik pesawat’ seperti ini relatif sama. Setiap orang punya ‘sebab’ dan cerita masing-masing untuk bisa menggunakan atau memanfaatkan mode transportasi canggih bernama pesawat udara itu. Dalam hal ini, uang menjadi penting, tapi tidaklah mutlak. Tak heran kalau ada orang yang punya uang banyak tapi tidaklah setiap saat kita lihat wajahnya di bandara. Ada juga orang yang sebenarnya adalah ‘orang biasa’, tapi karena jenis pekerjaannyalah yang membuat dia setiap saat naik pesawat ke mana-mana.

Kalangan pejabat, pengusaha dan profesional merupakan kelompok yang paling lincah menggunakan transportasi udara. Mereka bahkan bisa memilih berbagai layanan, kelas dan jenis pesawat yang dipakainya.

Bagi mereka, ada-ada saja urusan yang harus mereka kerjakan di luar daerah, kebanyakan di Jawa. Pada beberapa kasus, mereka bahkan sengaja membuat kegiatan di Pulau Batam agar lebih mudah menyeberang ke Singapore meskipun hanya untuk beberapa jam –untuk sekadar melampiaskan rasa takjub di negara-kota maju itu. Dan akan bangga pulang membawa cerita dan ole-ole untuk kerabat, plus foto-foto yang segera dipamer di media sosial-nya.

Kebanggaan dan kebahagian hidup di era modern rupanya bukan hanya harus ditopang secara material, tapi juga makin mensyaratkan faktor kultural. Simbol, gaya dan status menjadi bagian penting. Seseorang membutuhkan mobilitas dan kebiasaan tertentu untuk bisa menempatkan dirinya sebagai warga dari “kelas utama” di masyarakat.

Makin tinggi status seseorang biasanya dia makin sering “terbang” kemana-mana, dengan berbagai alasan dan tujuan. Terkadang tujuan tidak terlalu penting tapi mereka (terlanjur) sudah terbiasa “membuat alasan” sedemikian rupa guna membenarkan mobilitasnya. Gaya orang pun makin berubah: makin suka dilayani!.

Hasrat untuk menjadikan “santai” sebagai gaya dan kesadaran semakin mengemuka.

Negara maju memang sering ditandai dengan melihat bagaimana kesibukan dan infrastruktur bandara-bandaranya. Sejak 2003, saya termasuk beruntung karena bisa menyaksikan dan mencermati beberapa airport besar di beberapa negara maju. Mobilitas orang demikian tinggi dengan arus tujuan, aliran modal dan bisnis jasa yang demikian pesat di setiap bandara itu. Banyak bandara yang bahkan tak terasa sebagai bandara, tapi sebagai “tempat belanja”.

Satu hal yang sering dilupakan bahwa bandara adalah juga simbol pencapaian budaya sebuah bangsa atau masyarakat. Bandara, pertama-tama adalah karya arsitek dan teknologi yang menopang ekonomi. Selanjutnya, bandara akan segera berubah menjadi sebuah simbol dan citra harga diri ketika kecanggihan (fasilitas), sistem manajemen, budaya pelayanan, rasa aman dan perilaku yang terbentuk “di bandara” memediasi terciptanya kenyamanan dalam berbagai urusan dan kebutuhan.

Kita sering tidak menyadari bahwa airport sesungguhnya menjadi cermin banyak hal. Kita akan segera tahu perkembangan kemakmuran dan kelas-kelas sosial yang terbentuk di sebuah daerah dengan melihat bandaranya. Di lapangan parkir, variasi kendaraan yang berjejer dan di dalam bandara bagaimana jenis-jenis orang yang datang dan pergi adalah gambaran sederhana bagaimana roda budaya dan ekonomi sedemikian rupa bekerja.

Untuk kita di Gorontalo dan juga di beberapa wilayah di tanah air, kehadiran pesawat khusus (baca: pesawat kargo) nyaris belum terlihat. Ini sebagai pertanda bahwa arus barang belum sepenuhnya mengandalkan airport. Ini juga menjadi tanda bahwa unsur kecepatan (speed) pengadaan, permintaan dan distribusi barang dalam kehidupan ekonomi kita masih terbatas.

Dalam jangka waktu panjang, bandara tidak sekadar sebagai tempat untuk “pergi” dan “datang” –baik barang dan orang—(people and goods), tapi akan segera menjadi ruang di mana isu kenyamanan (leisure), kemakmuran (prosperity) dan keamanan (security) akan berjumpa satu-sama lain dalam sebuah dinamika yang sangat tinggi.

Khusus untuk soal keamanan, saat ini sudah harus menjadi perhatian serius, termasuk di Gorontalo. Jaringan obot-obatan dan narkoba, termasuk jenis pengorganisasian terorisme, tak bisa lepas dari posisi dan peran bandara. Kita sudah sangat tahu bahwa isu keamanan dan kenyamanan penerbangan adalah isu internasional. Sangat mudah menjadi isu publik dan  karena itu akan mudah pula memberi dampak di tingkat lokal.

Visi baru butuh kita ciptakan percepatannya. Masyarakat kita makin tidak gagap dengan kecanggihan dan terbukanya moda transportasi udara yang kian intensif. Bahwa masih banyak warga kita yang tak punya pengalaman terbang di udara dan menggunakan transportasi udara guna mendukung mobilitas hidupnya, itu bukanlah alasan untuk kita abai dengan budaya transportasi ini.

Kelas menengah sudah semakin besar. Pendapatan orang di berbagai kelompok makin meningkat. Tentu tidak semua orang adalah “orang penting” dan punya “urusan penting” untuk harus ke luar daerah. Sehingga, yang penting dibentuk adalah membuka budaya baru dalam menjalani kehidupan, sebut saja “budaya wisata”. Sebagai akibatnya, tawaran-tawaran paket perjalanan dan pemasaran agen-agen perjalanan harus mampu menggarap peluang pasar (baru) bernama traveling di masyarakat kita. Silahkan digerakkan. ***     

Penulis adalahDirektur Eksekutif Pusat Analisis Regional (PuSAR) Indonesia
Bekerja di Universitas Negeri Gorontalo Anggota Indonesia Social Justice Network (ISJN)
E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminpersepsispektrum sosialTulisan Basritulisan persepsi

Related Posts

Ridwan Monoarfa

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Friday, 17 April 2026
Basri Amin

Profesi-Profesi Hebat

Monday, 13 April 2026
Ridwan Monoarfa

Dari Desa Andaleh ke Gorontalo: Mengakhiri Ilusi Peternakan Berbasis Bantuan

Saturday, 11 April 2026
Basri Amin

Kota Gorontalo, ‘298’ Tahun? (Catatan Terbuka kepada Wali Kota)  

Monday, 6 April 2026

Mengulik Variabel Identitas, Norma, dan Reproduksi Permusuhan Pada Konflik Iran-Israel-Amerika Serikat

Thursday, 2 April 2026
Yusran Lapananda

Kemandirian Fiskal Daerah Sebuah Keharusan

Thursday, 2 April 2026
Next Post
Pj Gubernur Ismail Pakaya didampingi Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo dan Kepala Bank Indonesia Gorontalo, Dian Nugraha, saat melakukan operasi pasar guna meninjau harga-harga bahan pokok yang ada di Pasar Tradisional Limboto, pada Kamis (21/3). (Foto – Mila/diskominfotik)

Pj Gubernur Ismail Pakaya Seriusi Penanganan Inflasi, Evaluasi Setelah Turun Langsung ke Pasar

Discussion about this post

Rekomendasi

Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pohuwato resmi melaksanakan penyerahan tersangka dan barang bukti (Tahap II) dalam perkara dugaan pemalsuan surat kepada Kejaksaan Negeri Pohuwato, Senin (13/4/2026).

Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

Thursday, 16 April 2026
Polda Gorontalo Limpahkan Kasus Pelanggaran Hak Cipta ke Kejaksaan, Ka Kuhu Diangkut Mobil Tahanan

Polda Gorontalo Limpahkan Kasus Pelanggaran Hak Cipta ke Kejaksaan, Ka Kuhu Diangkut Mobil Tahanan

Thursday, 16 April 2026
Penahanan Oknum Kepala Desa di salah satu desa di Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato berinisial KR.

Oknum Kades di Pohuwato Dibui, Diduga Jadi Pemodal PETI Buntulia

Thursday, 16 April 2026
Oknum Kades di Pohuwato saat diperiksa sebagai tersangka, dan dilakukan penahanan terkait dengan dugaan aktivitas PETI. (foto: istimewa)

Jadi Bos PETI Oknum Kades Dibui, Kerahkan Eskavator Keruk Material Tambang di Sungai Alamutu

Wednesday, 15 April 2026

Pos Populer

  • Basri Amin

    Profesi-Profesi Hebat

    123 shares
    Share 49 Tweet 31
  • Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

    77 shares
    Share 31 Tweet 19
  • Putra Gorontalo Calon Wali Kota Jaksel

    89 shares
    Share 36 Tweet 22
  • Edan! di Halte Kampus UNG, Pria Ini Pamerkan ‘Anunya’ di Hadapan Mahasiswi

    40 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Oknum Pegawai BSG Bobol Brankas, Kerugian Rp 13,1 Miliar, Termasuk Kuras Rekening Dormant

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.