Gorontalopost.id – Untuk kesekian kalinya, Kota Manado, Sulawesi Utara, kembali diterjang banjir bandang dan tanah longsor. Hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi sejak Jumat (27/1) dini hari hingga siang hari, membuat sebagian besar wilayah di Kota Manado terendam banjir. Di beberapa wilayah ketinggian air bahkan mencapai atap rumah. Di saat yang sama, bencana longsor dan pohon tumbang juga ikut terjadi.
Berdasarkan data yang dihimpun Gorontalo Post dari berbagai sumber, ada 38 kelurahan yang tersebar di 10 kecamatan yang terdampak banjir dan tanah longsor. Wilayah tersebut yakni kecamatan Sario, Singkil, Malalayang, Wanea, Tuminting, Wenang, Bunaken, Mapanget, Wori dan Tikala.
“Kurang lebih ada sekitar 3.866 kepala keluarga yang terdampak banjir dan tanah longsor, dengan total kurang lebih 1.582 warga yang harus dievakuasi ke lokasi yang lebih aman,” kata Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Jules Abraham Abast.
Bencana banjir dan tanah longsor di Manado kali ini menelan lima korban jiwa.
Kabid Penanganan Darurat BPBD Manado Angelina J Bajodo mengaku, ada dua warga yang sempat terseret arus banjir di Kelurahan Pandu. Satu orang berhasil diselamatkan, namun satu lainnya meninggal dunia.
“Korban hanyut di (Kelurahan) Pandu yang selamat Billy Makaontol, sementara satu meninggal bernama Agus Manumpil,” ucapnya.
Sementara empat korban jiwa tertimbun longsor diketahui merupakan warga di Kelurahan Kairagi Weru Lingkungan 2, Kecamatan Paal 2. Keempat korban masing-masing bernama Stansye Tomas (70), pria bernama Jemmy Moniaga (56), dan wanita bernama Magdalena Soda (67), serta bocah Frizenli Arabaan (8).
“Total korban meninggal dunia (akibat banjir dan longsor) lima orang,” tambah Angelina.
Keprihatinan atas bencana yang menerjang Kota Manado mengalir dari pemerintah daerah di Gorontalo. Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo menyerahkan bantuan bahan kebutuhan pokok dan makanan siap saji kepada masyarakat korban banjir di wilayah Manado, Sulawesi Utara.
“Saya mengunjungi langsung lokasi banjir di Ketang Baru, dapur umum dan Mahawu,” ucap Nelson.
Menurut Nelson, walau dalam keadaan duka karena bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi, tapi kebersamaan dan gotong royong antar masyarakat tetap terjalin.
“Saya bangga dengan masyarakat Manado, mereka saat terjadi bencana bersatu dan bergotong royong membersihkan sisa-sisa banjir. Kita dapat menyelesaikan masalah kalau kita bersama dan bersatu,” ujar Nelson.
Ia mengatakan dalam jangka panjang persoalan banjir di daerah itu dapat diselesaikan sambil memberikan bantuan solusi jangka pendek untuk kebutuhan mendasar.
Ia menyerahkan bantuan jangka pendek, seperti makanan siap saji sebagai kebutuhan mendasar. Kedua, tentunya jangka panjang yang harus dilakukan dimana mencari penyebab banjir itu apa dan itu yang diselesaikan.
“Saya kira pemerintah provinsi maupun kota Manado sudah tahu itu. Berikut bagi korban dampak perlu dibantu baik pemerintah di sini maupun kami Pemerintah Kabupaten Gorontalo,” kata dia.
Bupati Nelson ia berada di Manado karena ada kegiatan dan tugas dalam rangka kerjasama terkait pengelolaan dan penyimpanan rekening kas umum daerah (RKUD) tahun anggaran 2023.
Serta penggunaan aplikasi layanan pembayaran gaji dan tunjangan lainnya Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kantor pusat PT Bank Sulutgo Manado.
“Sehingga sebelum pulang Gorontalo saya meluangkan waktu mengunjungi korban dampak banjir. Kebanyakan mereka adalah saudara-saudara kita, masyarakat Gorontalo yang ada di Manado juga masyarakat di sini, sehingga saya datang memberikan semangat dan kebahagiaan kepada mereka,” kata Nelson. (net/rmb)












Discussion about this post