Gorontalopost.id – Kementerian keuangan mencatat posisi utang pemerintah pada akhir Agustus 2022 sebesar Rp 7.236,61 Triliun atau naik Rp 73,3 triliun dari posisi bulan sebelumnya.
Presiden Joko Widodo berpesan pada Menteri Keuangan Sri Mulyani agar berhati-hati dalam menggunakan dana dari APBN. Kementerian Keuangan mencatat pada Agustus 2022 utang Indonesia mencapai Rp 7.236,61 triliun, angka ini naik 73,49% dari bulan Juli 2022.
Kementerian keuangan menyebut peningkatan ini masih dalam batas aman, wajar, dan terkendali. Sementara realisasi pembiayaan utang 3 31 Agustus 2022 mencapai Rp 331,2 triliun atau turun 40% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2021.
“Pembiayaan utang tahun ini sampai 31 Agustus 331,2 triliun ini menurun tajam dibandingkan tahun lalu yang mencapai R[ 552,6 triliun. Turunnya itu 40,1%,” terang Menteri Keuangan Sri Mulyani. “Bayangkan kalau kita lihat dalam hal ini kondisi di mana sektor keuangan pasar, keuangan pasar obligasi, mengalami guncangan yang sangat besar, dan bertubi-tubi,” imbuhnya.
“Maka strategi menurunkan pembiayaan utang menjadi sangat sesuai dan sangat tepat waktunya maupun dari sisi strateginya,” jelas Sri Mulyani.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) berperan pada Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati agar berhati-hati dalam memanfaatkan APBN.
Sri Mulyani diminta untuk memastikan, apapun yang dibiayai APBN harus produktif. “Selalu saya sampaikan kepada Menteri Keuangan, kalau punya uang, APBN kita dieman-eman (Disayang-sayang) itu bahasa Inggris lho,” kelakar Jokowi. “Dieman-eman, dijaga, hati-hati mengeluarkannya, harus produktif, harus memunculkan reborn yang jelas,” tegas Presiden. Jokowi juga mendorong seluruh kepala daerah untuk mengajak masyarakat agar berwisata di dalam negeri.
Hal tersebut penting dilakukan untuk menjaga agar sektor pariwisata tidak mengalami defisit dan menjaga stabilitas devisa di tengah krisis global.
Ini disampaikan oleh Presiden Jokowi dalam pengarahannya kepada seluruh menteri, kepala lembaga, kepala daerah, pimpinan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), panglima daerah militer, kepala kepolisian daerah, dan kepala kejaksaan tinggi di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, pada Kamis, 29 September 2022.
“Ajak masyarakat kita ini kita bisa defisit wisata kita, yang datang ke sini belum banyak, yang keluar malah banyak sekali. Hati-hati devisa kita bisa lari lagi kalau caranya kita tidak rem,” ujar Presiden.
Menurut Presiden, Indonesia memiliki daerah-daerah tujuan wisata yang baik. Presiden memerinci beberapa daerah: Bali, Labuan Bajo, Wakatobi, Danau Toba, Raja Ampat, Bromo, Jogja, Bangka Belitung (Babel), hingga Jakarta.
“Hati-hati, sekali lagi, tolong masyarakat diajak, Pak Gubernur, Pak Bupati, Pak Wali Kota, ajak masyarakat untuk berwisata di dalam negeri saja,” imbuhnya.
Kepala Negara menyayangkan, di tengah situasi krisis global saat ini, justru banyak pihak yang memilih untuk berkunjung ke luar negeri. Presiden menilai bahwa hal tersebut seharusnya bisa dibatasi.
“Kenapa dalam situasi krisis global seperti ini malah berbondong-bondong ke luar negeri? Dipamer-pamerin di Instagram, apalagi pejabat,” kata Presiden.
Oleh karena itu, Presiden Jokowi meminta jajarannya untuk dapat membatasi kegiatan kunjungan ke luar negeri, dan mengajak masyarakat untuk berwisata di dalam negeri.
Presiden sendiri mengaku sangat selektif dalam memilih kunjungan ke luar negeri dan hanya memilih kunjungan yang akan memberikan manfaat signifikan.
“Saya diundang ke luar negeri itu mungkin setahun bisa lebih dari 20 undangan. Saya datang paling dua atau tiga karena betul-betul saya rem. Ini ada manfaat konkret enggak sih? Karena juga keluar uang kita itu. Jadi hal-hal yang seperti itu rem. Rakyat juga kita beri tahu, gunakan untuk wisata di dalam negeri saja,” ujar Presiden,
Sementara itu politisi Partai Gerindra, Arief Poyuono menyebut, dengan utang, Pemerintah perlu mewaspadai posisi belanja utang itu sendiri.
“Total belanja pemerintah pusat yang makin besar, tingginya tingkat suku bunga pemerintah, ini juga akan menjadi beban bagi APBN kita,” jelas Arief Poyuono kepada Disway.id Jumat 30 September 2022. “Karena, porsi belanja bunga utang, terhadap total belanja pemerintah pusat pada tahun ini sebesar 17% bisa membengkak pada tahun depan. Banyak yang memperkirakan bisa 19,8%,” rincinya. “Maka Pemerintah perlu mengantisipasi agar tidak semakin terbebani di masa depan,” pungkas Arief Poyuono. (disway)













Discussion about this post