logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Home Disway

Kakak Sofwati

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 21 March 2022
in Disway
0
Doa Wadas

DISWAY

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Omon Kenyataan

Amang Waron

Reflek Radjimin

Gagal Sukses

Oleh

Dahlan Iskan

NAMA-nama tempat ini terus terngiang di telinga. Sejak remaja: OKU, Komering, Martapura, Jagaraga, Palembang.

Yang sering mengucapkannya orang luar Jawa pertama yang saya kenal: HuseinRoni. Ia pacar kakak saya: Sofwati. Kakak nomor dua di empat bersaudara kami.

Saya tidak tahu, tepatnya di kata yang mana Mas Husein lahir. Gak penting. Pokoknya ia dari Sumatera. Bukan Jawa.

Yang saya tahu: ia sedang kuliah di Universitas Islam Indonesia (UII) cabang Madiun. Itu setelah ia tamat Pondok Modern Gontor Ponorogo.

Mas Husein, kalau bicara, intonasi suaranya paling beda: logat luar Jawa. Ia bisa berbahasa Jawa tapi pengucapannya kacau sekali. Itu saya ketahui ketika ia berkomunikasi dengan ayah saya yang hanya bisa lancar berbahasa Jawa.

Yang sering diomongkan orang-orang di desa saya: Mas Husein selalu membawa badik yang ia slempitkandi pinggang. Seperti selalu siap berkelahi. “Pak Husein itu takut apa ya kok selalu bawa pisau,” begitu rerasan orang di desa saya. Mereka tidak tahu itulah kebiasaan orang suku Komering zaman itu.

Selama kuliah, Mas Husein aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Belakangan saya tahu ia menjabat ketua HMI Cabang Madiun.

Rupanya di HMI itulah ia mengenal kakak saya –-yang juga aktivis HMI. Kakak saya itu, rasanya, Ketua Korps HMI Wati (Kohati) Jawa Timur. Dari kelompok liberal. Kakak sering dipanggil sebagai ”agen NurcholishMadjid di Jatim”. Artinya: dia ikut dalam gerakan pembaharuan pemikiran Islam yang diprakarsai CakNur itu.

Saya memanggil pacar kakak saya itu dengan Mas Husein.  Mungkin ia sendiri geli dengan panggilan ”Mas” itu. Tapi di desa kami tidak ada panggilan Kak  atau Kakak. Mau dipanggil Pa’ ia masih sangat muda. Baru kelak, di tahun 2022, saya tahu panggilan Mas itu harusnya”Kiai”. Mas Huseinharusnya Kiai Husein. Di Jawa, kiai adalah panggilan tokoh agama yang jadi imam di masjid, bukan kakak.

MbakSofwati jarang pulang. Dia kuliah di IKIP Malang. Entah jurusan apa. Saya hanya bertiga di rumah: bapak, saya, dan Udin–adik bungsu saya. Ibu sudah lama meninggal. Kakak sulung, mbakKhosiyatun, sudah lama pula merantau ke Samarinda.

Saya belum paham apa itu pembaharuan pemikiran Islam. Yang saya tahu kakak saya itu pintar sekali. Kalau debat tidak mau kalah. Ia seperti Srikandi. Tangkas sekali. Pemberani. Rok-nya paling pendek di antara orang di desa –kalau lagi pulang. Ketika masih SMA (Muallimat) seragam sekolahnya kebaya, jarit, dan kerudung –yang kerudungnyi  lebih sering jatuh ke pundak.

Yang saya benci padanyi: dia tidak mau ber-bosokromoinggil pada ayah. Kromo biasa pun tidak mau. Kalau bicara dengan ayah dia selalu pakai bahasa ngoko–seperti bicara pada teman. Itu tercela di desa kami. Kakak tidak peduli.

Saya juga tidak suka ini: waktu saya pulang dari mondok sebulan di Kaliwungu, dekat Semarang, ia memeriksa kitab kuning yang saya bawa pulang. “Isi semua kitab ini bisa kamu pahami hanya dalam satu minggu, kalau bukunya berbahasa Indonesia,”katanyi. Saya tidak pernah lupa kata-katanyi itu.

Tidak banyak lagi yang saya tahu tentang kakak saya itu. Begitu jarang bertemu. Saya asyik dengan masa kanak-kanak saya sendiri: sebagai penggembala kambing.

Begitu tamat madrasah Aliyah (setingkat SMA) saya menyusul kakak sulung ke Samarinda. Putuslah hubungan dengan kakak kedua itu.

Dari kakak sulung saya mendengar mbakSofwati kawin dengan Mas Husein.

Di Samarinda saya kian terlibat di organisasi ekstra kampus. Ups, tidak saya sangka kakak kirim dokumen tebal lewat pos. Tumben. Saya buka kiriman itu. Isinya: materi pendidikan yang baru dia ikuti: pendidikan pers Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI). Saya disuruh masuk IPMI.

Diam-diam saya memang mengagumi kecerdasan dan keaktifan kakak saya itu. Saya pun bergabung ke IPMI. Lalu magang di media milik aktivis IPMI Samarinda, AlwiAlaydrus – -sekarang jadi ulama di Kaltim.

Suatu saat saya naik kapal laut: ikut pendidikan aktivis di Jawa. Sekalian mampir kampung, satu hari. Kakak senang saya menuruti keinginannyi masuk IPMI. Apalagi sudah magang di Mimbar Masyarakat Samarinda.

Kakak ternyata sudah punya anak:  satu, laki-laki. Namanya Andi. Saya gendongia. Saya ajak main ia. Hanya satu hari.

Saya juga bertemu Mas Husein. Masih juga selalu membawa badik. Saya pun kembali ke Samarinda. Putus hubungan lagi.

Kelak, dari kakak sulung saya dengar: Mas Husein diangkat jadi pegawai negeri dengan tempat tugas di Jambi.

MbakSofwati ditinggal dulu di Madiun –belum bisa ikut pindah karena terikat sebagai guru agama di SDN Negeri di Madiun.

Dari kakak sulung pula saya mendengar mbakSofwati meninggal dunia. Di Jambi. Kabar duka itu baru sampai ke Samarinda hampir sebulan kemudian. Surat lewat pos adalah satu-satunya alat komunikasi saat itu.

Sebenarnya ada juga telegram. Yang bisa sampai dalam sehari. Tapi saya tidak tahu mengapa hanya disampaikan lewat surat. Kalau pun ditelegram, toh tidak ada yang bisa melayat ke Jambi.

Kelak, lebih 30 tahun kemudian, saya ke Jambi. Bikin perusahaan di Jambi. Kepada teman-teman di Jambi saya ceritakan: saya punya kakak yang dimakamkan di Jambi. Tapi saya tidak tahu di mana.

“Suaminyi bernama HuseinRoni. Pegawai kantor agama,” kata saya. Tidak ada informasi lain lebih dari itu.

Ajaib. Teman-teman bisa menemukan makam kakak saya: di pinggir jalan besar menuju ke Bandara Jambi. Dalam kunjungan berikutnya ke Jambi, saya ziarah ke makam kakak saya itu.

Mas Husein sendiri –minggu lalu saya baru tahu– tidak lama di Jambi. Setelah kakak meninggal ia minta pindah tugas ke kampung halamannya di OKU. Ia pulang kampung dengan anak tunggalnya yang baru berumur 3 tahun.

Sampai puluhan tahun berikutnya kami tidak berhubungan lagi dengan Mas Husein. Dari DikUdin, saya dengar Andi menghilang dari rumah orang tua di OKU. Adik saya tahu itu.

Mas Husein menghubungi adik: apakah Andi yang masih remaja kecil itu lari ke Magetan. Tidak.

Pekan lalu, ketika saya diundang makan malam di rumah bupati OKU, saya kaget. Senang. Seorang staf protokol bupati berbisik ke saya: “Pak Husein, ipar bapak, mau bertemu”.

“Anda tahu beliau? Tinggal di kota ini?” tanya saya.

“Beliau di Simpang Duo, Kabupaten OKU Selatan. Tapi hanya dua jam dari Baturaja ini. Asal bisa bertemu beliau mau berangkat ke sini,” katanya.

Tentu saya mau sekali. Apalagi, putri beliau, dari istri sambungan, tinggal di Baturaja.

Keesokan paginya, seusai senam dan kuliah umum di Universitas Mahakarya, saya ke rumah putri Mas Husein itu. Beliau sudah di rumah itu. Menyambut saya di halaman.

Sebenarnya saya agak pangling dengan beliau. Tapi dari postur tubuhnya saya yakin itulah Mas Husein yang muda dulu. Saya peluk ia. Erat sekali. Lama sekali.

Mas Husein kini sudah berumur 74 tahun. Sudah lama pensiun. Tinggal di desa kelahiran di Jagaraga. Punya kebun karet. Ladang jagung. Jadi pemuka agama.

Dari cerita beliaulah saya baru tahu masa-masa akhir hidup kakak saya.

Inilah ceritanya: Setelah delapan bulan ditinggal ke Jambi, kakak berhasil mengurus surat pindah ke Jambi. Dari Madiun kakak naik bus ke Jakarta. Lalu naik bus lagi ke Lampung. Dari Lampung naik bus lagi ke Martapura (kini masuk Kabupaten OKU Timur).

Dari Martapura kakak naik kendaraan umum ke Simpang Duo. Lalu ke Jagaraga. Ke mertua. Itulah kali pertama kakak ke rumah  mertua. Sambil membawa cucu.

Dari Jagaraga kakak ke Palembang. Lalu ke Jambi, menyusul suami.

Di Jambi kakak mengajar agama di salah satu SD. Mas Husein bekerja di kantor agama kota Jambi.

Ternyata baru sebulan di Jambi kakak sakit. “Sakit maag,” ujar Mas Husein. Saya pun bertanya lebih detil tentang sakitnyi kakak. Mas Husein tidak terlalu tahu soal penyakit. Semua terserah dokter. Yang jelas kakak dimasukkan rumah sakit. Sampai satu bulan. Muntah darah. Lalu meninggal.

Berarti hanya dua bulan saja kakak hidup di Jambi – -itu pun yang sebulan di rumah sakit. Dari muntah darahnyi itu saya berkesimpulan: kakak sakit liver. Persis seperti yang saya alami di kemudian hari.

Saya bisa membayangkan betapa kakak harus menyesuaikan diri hidup di Jambi. Dari seorang aktivis yang sangat ‘kosmopolit’ menjadi guru SD di Jambi.

Dari Mas Husein pula, minggu lalu itu, saya bisa mendapat dua foto lama kakak saya. Begitu lama saya memandangi foto itu. (Dahlan Iskan)

Tags: Dahlan IskanDisway

Related Posts

Zohran Mamdani saat mengumumkan kebijakan barunya, kali ini soal ojek online di New York.--

Omon Kenyataan

Monday, 19 January 2026
--

Amang Waron

Tuesday, 13 January 2026
Ilustrasi kondisi seseorang vegetatif.--

Reflek Radjimin

Monday, 12 January 2026
Zohran Mamdani ke Bronx, menandatangani kebijakan di jalanan Sedgwick Avenue didampingi Tascha Van Auken.-crainsnewyork-

Gagal Sukses

Tuesday, 6 January 2026
Ilustrasi Robert Moses dan Jane Jacobs--Savingplaces

Jane Moses

Monday, 5 January 2026
Jumaane Williams (kiri) Zohran Mamdani dan Mark D. Levine.--

Tiga Serangkai

Sunday, 4 January 2026
Next Post
Pemkot Mampu Tumbuhkan Perekonomian

Pemkot Mampu Tumbuhkan Perekonomian

Discussion about this post

Rekomendasi

Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Sunday, 18 January 2026
Tiga pelaku kekerasan seksual di amankan Polres Bone Bolango, Kamis (15/1/2026) Foto: Natharahman/ Gorontalo Post.

Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

Friday, 16 January 2026
Irjen Pol Widodo

Kapolda Kaget PETI Dekat Mapolres, Picu Banjir di Pohuwato, Pastikan Penindakan

Thursday, 15 January 2026
Lodrik Dantene Kepala Desa Londoun, Kecamatan Popayato Timur, Kabupaten Pohuwato. Saat di wawancarai

Ekonomi Masyarakat Desa Londoun Meningkat, Tenaga Kerja Banyak Diserap PT BJA

Wednesday, 21 February 2024

Pos Populer

  • Ketua Yayasan Kumala Vaza Grup, Siti Fatimah Thaib, bersama pemilik dapur dan Kepala SPPG Pentadio Barat secara simbolis menyerahkan CSR kepada pihak SMP 1 Telaga Biru, Rabu (14/1/2026). (F. Diyanti/Gorontalo Post)

    Dukung Program Presiden, Yayasan Kumala Vaza Grup Salurkan CSR ke 20 Sekolah

    79 shares
    Share 32 Tweet 20
  • BREAKING NEWS: Gusnar Lantik 25 Pejabat Pemprov, Berikut Nama-namanya

    590 shares
    Share 236 Tweet 148
  • Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

    47 shares
    Share 19 Tweet 12
  • Kemendikdasmen Salurkan Laptop untuk Sekolah Dasar Dukung Digitalisasi Pembelajaran

    188 shares
    Share 75 Tweet 47
  • Kapolda Kaget PETI Dekat Mapolres, Picu Banjir di Pohuwato, Pastikan Penindakan

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.