logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Daging Ayam Lab

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Monday, 12 April 2021
in Disway
0
Daging Ayam Lab
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Perjudian Besar

Kanan Dalam

Neo Pop

Lewat Pasrah

Oleh:
Dahlan Iskan

PETERNAKAN ayam tanpa kandang segera jadi kenyataan. Lokasinya di Singapura. Mungkin akan jadi peternakan ayam terbesar di dunia.

Peternakan ayam itu bentuknya sebuah laboratorium. Ia akan membesarkan ayam tanpa bulu, tanpa tulang, tanpa kepala, tanpa ceker, dan tanpa kulit.

Di laboratorium itulah satu biji sel ayam beneran–yang hanya bisa dilihat oleh mikroskop–diternakkan. Sel itu lantas tumbuh membesar di lab yang bersih dan steril. Sel itu pun menjadi daging ayam –hanya daging ayam, tanpa tulang dan lain-lain tadi.

Hanya perlu 14 hari. Satu sel ayam tadi sudah bisa membesar menjadi daging seberat seekor ayam. Tidak perlu sampai 45 hari seperti memelihara ayam di kandang. Juga tidak perlu repot seperti memelihara ayam beneran.

Tahun ini daging ayam jenis itu sudah dijual di Singapura. Saya pun segera menghubungi tiga orang teman saya di sana. Untuk dicarikan di supermarket mana daging itu dijual. Lalu mengirimkannya ke Surabaya.

Rupanya daging ayam itu baru dijual di satu restoran: Klub 1880. Di Jalan Nanson No.1 Singapura. Di lantai 3. Tentu daging ayam di situ sudah dalam bentuk makanan siap lahap. Bentuknya menu chicken nugget. Lihatlah gambarnya. Yang saya ambil dari menu di restoran itu.

Hanya member Klub 1880 yang boleh ke restoran itu. Kalau pun bukan member masih bisa, tapi harus diundang oleh member di situ. Seorang member hanya boleh mengundang tiga teman non-member.

Di Singapura memang banyak klub seperti itu. Ada yang orientasinya Western–yang anggotanya kebanyakan orang bule atau yang kebarat-baratan. Ada yang orientasinya Chinese. Sesuka yang mendirikan. Klub 1880 itu kelihatannya sangat Western. Nama pendirinya: Marc Nicholson. Jangan-jangan sudah ada sejak zaman penjajahan Inggris dulu.

Di Hongkong juga banyak klub seperti itu. Atau London. Atau kota-kota besar di dunia. Tentu saya pernah makan di klub-klub seperti itu. Misalnya di Press Club Hongkong. Atau di Cricket Club Singapura. Atau di Mercantile Club di Jakarta.

Di Surabaya juga pernah berdiri klub seperti itu. Satu-satunya. Tapi hanya berumur pendek. Iurannya dianggap terlalu mahal –untuk ukuran Surabaya. Harga makanannya juga lebih mahal dari restoran termahal –dengan rasa yang tidak lebih istimewa.

Klub 1880 Singapura itu kini terkenal di dunia. Gara-gara menu ayam nugget hasil peternakan lab itu. Tapi seorang teman saya Singapura –yang punya beberapa Ferrari– tidak tahu itu. Padahal saya berharap ia salah satu anggotanya. Lalu bisa mengundang saya untuk makan di situ –terutama ingin tahu yang itu.

Teman lain yang pernah ajak saya makan di Cricket Club ternyata juga bukan member di situ. Di Singapura memang banyak klub seperti itu. Bisnis klub merupakan lahan yang menggiurkan.

Di Singapura Anda bisa mendirikan klub seperti itu. Asal Anda punya ide bisnis yang brilian. Kalau punya nama baik. Dipercaya.

Anda bisa mengajak banyak orang untuk bersama-sama mendirikan klub. Lalu membangun fasilitas eksklusif untuk anggota saja. Di situ bisa dibangun sekaligus: kolam renang, restoran, karaoke, bar, salon, dan apa saja.

Dengan cara itu maka orang bisa memiliki kolam renang sendiri, restoran sendiri, salon sendiri. Yang dimaksud ”sendiri” adalah sejumlah anggota yang ada di situ.

Biaya membangun dan membeli tanahnya dari Anda. Atau dari bank. Biaya pemeliharaan, operasi dan cicilan banknya dari iuran bulanan –plus hasil bisnis yang ada di situ.

Pernah ada orang mendirikan klub eksklusif baru di Singapura. Belakangan anggota klub di situ menggugat ke pengadilan. Penyebabnya: klub menerima anggota terlalu banyak. Sampai 10.000 orang. Bagaimana disebut eksklusif kalau anggotanya 10.000 orang. Penggugat pun menang. Teman saya tadi adalah salah satu yang menggugat itu.

Sebenarnya perusahaan ”peternakan” ayam tadi bukan perusahaan Singapura. Eat Just, perusahaan itu, dari San Francisco.

Eat Just melihat Singapura bisa dijadikan ”pusat” ayam lab di dunia. Antara lain karena BPOM di sana sangat nasionalis.

Singapura akhirnya memang memberi izin itu. Akhir tahun lalu. Maka menjelang Natal 2020, dilakukanlah penjualan pertama ayam lab itu. Dalam bentuk makanan siap lahap. Di restoran Klub 1880 tadi.

Hari itu 40 orang diundang untuk mencicipi. Semuanya anggota klub –atau relasi mereka. Kesaksian para pencicip semuanya memuji. Tidak ada yang mencela –mungkin sungkan, mungkin memang tidak ada yang perlu dicela.

“Rasanya benar-benar ayam murni,” ujar salah satu dari mereka. “Kami bisa makan ayam tanpa merasa bersalah,” katanya. Misalnya, tidak perlu sambil makan ayam membayangkan bagaimana sakitnya ayam disembelih.

Acara cicip-cicip itu memberi kepercayaan diri bagi Klub 1880. Maka sejak Januari lalu menu ayam lab itu pun dipermanenkan di situ.

Untuk sementara chicken nugget tadi dibuat di Singapore Polytechnic’s Food Innovation and Resource Centre. Yang satu hari baru bisa membuat 48 chicken nugget. Itulah sebabnya harga menu chicken nugget di Klub 1880l masih mahal. Satu porsinya Rp 300 ribu.

Kelak mereka akan mendirikan pabrik besar. Termasuk di Amerika dan Eropa. Agar harga daging ayam lab itu lebih murah dari hasil peternakan asli.

Sebenarnya sudah lama Eat Just –perusahaan San Francisco itu– ingin bergerak di daging non hewan. Sejak tahun 2011. Mereka melihat kebutuhan daging dan ayam terus meningkat. Di seluruh dunia. Sampai-sampai ayam dipaksa besar dengan kimia. Agar bisa disembelih di umur 45 hari.

Produk pertama Eat Just adalah telur ayam. Yang tidak ditelurkan oleh ayam. Yang diprotes besar-besaran di Amerika. Terutama oleh asosiasi peternakan ayam petelur.

Eat Just akan terus mengembangkan jenis daging lab itu. Daging apa saja: ayam, sapi, babi, dan kambing. Sesuai dengan perkembangan lab mereka. Mereka menjual daging itu atas nama merek ”Good Food”.

Siapa tahu kelak orang Islam pun bisa makan babi –setelah ditemukan rasa daging babi yang asalnya bukan dari babi.(*)

Tags: Catatan DahlanDaging Ayam LabDahlan IskanDiswaygorontalogorontalo post

Related Posts

Ilustrasi pertaruhan masa depan ekonomi Indonesia di antara berbagai sistem ekonomi.--

Perjudian Besar

Wednesday, 10 June 2026
Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi menkeu. Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya dapat tugas baru sebagai gubernur Bank Indonesia. Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi menteri keuangan di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya. Mereka sama-sama ekonom Universitas Indonesia tapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra). Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas di akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang. Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Jokowi ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD5.000. Merosotnya jumlah kelas menengah itu sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh. Kalau benar Chatib Basri akan menjadi menteri keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo yang tampak sekarang. Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat –khususnya di kurs rupiah dan bursa saham? Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori "jebakan kelas menengah". Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan. Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam –bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu. Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar. Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tapi berdiskusi. Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik –yang diberitakan kian kurus badannya. Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter. Tapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual --salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya. Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu. Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah. Siapa tahu muncul ''kemenangan baru'': keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat. Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu. Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik di zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear. Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara.(

Kanan Dalam

Tuesday, 9 June 2026
--

Neo Pop

Monday, 8 June 2026
Lewat Pasrah

Lewat Pasrah

Saturday, 6 June 2026
--

Agus Deyang

Thursday, 4 June 2026
Bambang, tengah, usai makan malam.--

Jago Cimory

Thursday, 4 June 2026
Next Post
Komisi I Tantang Media Massa Berani Kritis

Komisi I Tantang Media Massa Berani Kritis

Discussion about this post

Rekomendasi

PENAS XVII: Dikbudprov Libatkan Masyarakat Siapkan Ribuan Polopalo, Aleg Deprov Femmy Udoki Beri Apresiasi

PENAS XVII: Dikbudprov Libatkan Masyarakat Siapkan Ribuan Polopalo, Aleg Deprov Femmy Udoki Beri Apresiasi

Wednesday, 10 June 2026
Ilustrasi--

Harga Pertamax Naik

Wednesday, 10 June 2026
Antusias Ikut PENAS XVII Gorontalo, Kontingen Jambi Tempuh Jalur Darat dan Laut

Antusias Ikut PENAS XVII Gorontalo, Kontingen Jambi Tempuh Jalur Darat dan Laut

Thursday, 11 June 2026
BERGENGSI- Siswa memaparkan hasil inovasinya pada AHM Best Student 2025. Kegiatan ini kembali dibuka dan memberi kesempatan kepada semua siswa di Gorontalo. (foto: dok-ahm)

Pendaftaran AHM Best Student Dibuka, Ajak Pelajar Ubah Ide Jadi Inovasi untuk Negeri

Wednesday, 10 June 2026

Pos Populer

  • PENAS XVII: Dikbudprov Libatkan Masyarakat Siapkan Ribuan Polopalo, Aleg Deprov Femmy Udoki Beri Apresiasi

    PENAS XVII: Dikbudprov Libatkan Masyarakat Siapkan Ribuan Polopalo, Aleg Deprov Femmy Udoki Beri Apresiasi

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Harga Pertamax Naik

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • Resahkan Warga, Pasutri Berantem Diamankan Polisi

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • PENAS Gorontalo Kamar Hotel Full Booking

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.