logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Biomasa
Home Disway

Tirta Marah

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Tuesday, 19 January 2021
in Disway
0
Tirta Marah
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

SAYA ingin sekali bisa berbuat seperti dokter Tirta. Yang bisa marah-marah sepuas-puasnya. Seperti yang di Instagram itu. Yang juga Anda ikuti itu.

Saya juga sangat jengkel kepada yang antivaksin. Sampai ubun-ubun. Baik karena mereka merasa mampu bayar denda atau yang karena meragukan keampuhannya. Apalagi yang yang karena agama.

Tapi saya bukan dokter. Juga bukan relawan Covid. Juga belum mampu berbuat banyak. Maka saya wakilkan saja kemarahan itu kepada dokter Tirta. Yang bisa marah 1 jam tanpa minum. Dengan ekspresi yang terus serius. Dan serius terus. Hanya karena ganteng maka ia tidak terlihat memuakkan. Marahnya tetap keren.

Jarang lho ada orang seberani dokter Tirta. Tidak ada beban. Dituduh cari popularitas ia bisa melawan dengan tangkas. Dituduh bisnis, apalagi. Ia bisa tolak dengan sadis. Apalagi ia pakai Instagram. Bukan YouTube. Tidak bisa dituduh mencari penghasilan dari medsos.

Related Post

Bom Suci

Petir Agrinas

Petir Ngambek

Petir India

Saya sendiri pernah  meyakinkan teman baik. Yang juga anti vaksin. Setiap sanggahannya saya jelaskan. Tapi dengan cara yang halus. Tidak dengan marah-marah seperti dokter Tirta. Nyatanya saya gagal meyakinkannya.

Memang perlu ada satu orang yang “gila” seperti dokter Tirta. Agar yang gila di sebelah sana punya lawan. Dikira mereka saja yang bisa gila. Dokter Tirta juga bisa! Toh, ini untuk kepentingan umum lintas SARA.

Pernah diancam orang?

“Sering,” katanya.

Saya memang menghubungi dr Tirta kemarin. Setelah saya puas mengikuti marahnya yang terakhir. Saat saya telepon itu ia lagi setir mobil dalam perjalanan dari Jogja ke Jakarta.

Saya juga terharu mendengar alasan kemarahannya. “Coba, kalau bukan vaksin, apa jalan keluarnya?” tanyanya. “Saya ini satu tahun hanya bisa bertemu anak saya dua kali. Saya ingin selalu bersama mereka. Gara-gara Covid tidak bisa. Kapan Covid selesai? Terutama kalau kalian antivaksin seperti ini?” katanya.

Tirta punya dua anak: umur lima tahun dan dua tahun. Ditinggal di Jogja. Ia sibuk jadi relawan Covid. Yang punya jaringan 1.000 orang. Di 27 provinsi. Se Indonesia.

Istrinya juga dokter. Praktik di Jogja. Kini lagi memperdalam spesialis kebidanan. Seperti bapaknyi. Yang juga dokter kandungan. Yang dinasnya di kota Ngawi.

Tirta dan istri dan mertua sama-sama lulusan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sang mertua seangkatan dengan dr Terawan. Tapi Tirta tidak sungkan mengkritik Terawan yang menjabat menteri kesehatan (saat itu).

“Toko saya yang di Makassar sampai dirusak,” katanya. “Yang di Solo diobrak-abrik. Tapi tidak ada barang yang hilang,” tambahnya.

Itulah toko jasa sepatu. Yakni jasa cuci sepatu. Termasuk pertama di Indonesia. Kini punya jaringan hampir 100 toko.

Tirta mulai bisnis ketika kuliah di kedokteran. Itu karena orang tuanya tinggal di Solo. Ibunya Tionghoa, ayahnya Jawa. Ayahnya bekerja di sebuah bank BPR di Solo. Di kota itu pula Tirta menyelesaikan SMA-nya: SMA Katolik Regina Pacis.

Seru sekali ketika Tirta marah-marah ke anggota DPR yang menyatakan tidak mau vaksin. Pilih bayar denda. Bersama seluruh keluarganya.

Yang membuat Tirta naik pitam penolakan vaksinasi itu diucapkan sehari sebelum program dimulai. Padahal dulunya justru mereka minta vaksinasi harus begini harus begitu.

Tirta layak marah seperti itu. Ia lulus cum laude saat jadi dokter. Karena itu ia kelihatan cerdasnya. Misalnya ketika menjelaskan sisi baik vaksin Sinovac yang efikasinya “hanya” 65,3 persen. “Risiko Sinovac itu hanya 0,1 – 1. Bandingkan dengan Pfizer yang risikonya 1,5 persen. Dan Moderna sampai 4 persen,” katanya.

Memang begitu, katanya. Efikasi itu berbanding lurus dengan risiko. Tirta tampak jengkel dengan orang yang menolak vaksinasi tapi sebenarnya tidak tahu ilmunya.

Tirta punya daftar apa saja kegilaan yang beredar di medsos. Lalu ia marahi satu persatu.

Tirta juga masih ingin kuliah lagi. Entah kapan. Ia ingin meraih master untuk bidang kesehatan masyarakat.

“Kan bidang itu tidak bisa untuk cari uang?” tanya saya.

“Tapi kecocokan saya kelihatannya di situ,” jawabnya.

“Lho Anda kok fasih mengucapkan istilah-istilah Islam?” tanya saya lagi.

“Saya kan ngaji di masjid dekat Monjali Jogja itu,” jawabnya.

Bukan di zaman Covid ini saja Tirta jadi relawan. Mulainya saat mahasiswa. Waktu ada tanah longsor di Wates, Jogja. Lalu menjadi relawan pendidik kesehatan di sekitar Puskesmas.

Saat Covid mulai marak, ia menjadi relawan bagi makanan. Yakni di daerah-daerah merah Covid. Lalu melebar ke relawan Covid secara umum. Termasuk pernah bersama Bonek Persebaya memasyarakatkan masker.

Selain Tirta, ada juga orang marah dengan halus tapi telak. Cara Jogja juga. Yakni yang dilakukan Ir KPH. Bagas Pujilaksono Widyakanigara MSc LicEng PhD.

Bacalah surat terbukanya: telak banget. Beliau insinyur nuklir UGM, S-2 metalurgi ITB dan S-3 metalurgi Swedia. Kini dosen UGM.

Dari gelar kebangsawanannya ia keturunan Prabu Brawijaya Majapahit dan Kerajaan Mataram. Tapi gaya suratnya seperti surat orang Eropa –mungkin karena lama di sana.

“Saya dari keluarga terhormat, dari garis ayah saya, adalah cucunya Brawijaya V dari Kebo Kanigara.  Sedangkan raja-raja Mataram yang bertakhta saat ini, dari garis adik kandungnya Kebo Kanigara yaitu Kebo Kenongo,” tulisnya.

Ia terlihat begitu jengkel ada orang di DPR punya pikiran seperti itu. Ia seperti ingin mengingatkan begitu banyak orang yang lebih pintar –hanya nasib saja yang tidak bisa membuat yang pintar itu menjadi anggota DPR.

Tapi Tirta-lah yang kini menjadi corong paling keras untuk melawan kegilaan di sekitar vaksinasi.

Meski Tirta pakai gaya marah, tapi yang melihatnya tetap bisa terhibur. Itulah jenis marah yang berkarakter.

Saya pernah mencoba cara marah seperti Tirta itu. Sambil mencari kesibukan di kamar saya di RS ini.

Tapi gagal.

Mungkin karena Tirta ganteng. Masih 29 tahun. Kulitnya bersih.

Sedang saya sudah 70 tahun, berkulit hitam, dan terkena Covid pula. (*)

Tags: Dahlan IskanDiswayTirta Marah

Related Posts

Ilustrasi Joao Angelo de Sousa Mota dan misi besarnya untuk Koperasi Desa Merah Putih.--

Petir Agrinas

Monday, 2 March 2026
Ilustrasi penyerangan Israel-Amerika Serikat ke Iran.--

Bom Suci

Monday, 2 March 2026
dr Joao Angelo De Sousa Mota --

Petir Ngambek

Friday, 27 February 2026
Agrinas terlanjur memesan Mobil Pikap Impor Pabrikan Mahindra asal India dan 1.000 unit di antaranya telah berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara-Istimewa-

Petir India

Thursday, 26 February 2026
Dwi Sasetyaningtyas.--LinkedIn Dwi Sasetyaningtyas

WNI WNI

Wednesday, 25 February 2026
--

Kolegium MK

Tuesday, 24 February 2026
Next Post
Guru, Insan Cendekia  dan Panggilan Pengabdian

Hari Patriotik 23 Januari 1942 dan Komitmen Kemanusiaan Kita  

Discussion about this post

Rekomendasi

Dedy S. Palyama, SE. M.Si

Menjembatani Visi-Misi Kepala Daerah dan Kerja Birokrasi

Tuesday, 3 March 2026
Truk odol saat diamankan petugas karena melanggar ketentuan angkutan barang.

Kapolda Gorontalo Amankan Truk ODOL, Cegah Potensi Kecelakaan dan Kerusakan Infrastruktur

Monday, 2 March 2026
Ridwan Monoarfa

Perang, Damai, dan Arsitektur Hegemoni Amerika

Tuesday, 3 March 2026
Basri Amin

Jejak “Islam Gorontalo” di Nusantara

Monday, 2 March 2026

Pos Populer

  • Ilustrasi--

    Kasus PETI Saripi Jadi ‘Bola Pingpong’, Berkas Perkara Dikembalikan Kejati ke Polda

    44 shares
    Share 18 Tweet 11
  • Menjembatani Visi-Misi Kepala Daerah dan Kerja Birokrasi

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Petir Ngambek

    43 shares
    Share 17 Tweet 11
  • THR PPPK-PW, Dana Cukup, Pemda Boleh Cairkan

    40 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Adhan Ancam Tinggalkan Gerindra, Terkait BSG Sesalkan Fraksi di Deprov Tak ‘Bertaji’

    54 shares
    Share 22 Tweet 14
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.