logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Dua Lagi

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Wednesday, 2 December 2020
in Disway
0
Dua Lagi
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Perjudian Besar

Kanan Dalam

Neo Pop

Lewat Pasrah

Oleh:
DahlanIskan

KETEGANGAN kini pindah ke hasil Pemilu untuk Senat. Partai Republik mendapat 50 kursi. Partai Demokrat  mendapat 48 kursi.Tinggal dua kursi lagi yang masih harus diperebutkan. Dua-duanya di dapil 6 negara bagian Georgia.

Di Pemilu 3 November lalu,dapil ini gagal menemukan pemenang. Tidak ada caleg yang mendapat suara lebih 50 persen.

Caleg Republik yang kaya raya  hanya mendapat suara 25,9 persen: Kelly Loeffler. Wanita, cantik, 51 tahun. Kelly adalah salah satu terkaya di Georgia.

Caleg di Georgia terlalu banyak. Dua kursi di dapil itu diperebutkan oleh 20 caleg. Pemenangnya sendiri Raphael Warnock, Demokrat, hanya mendapat 29,9 persen.

Maka perlu Pileg ulang: tanggal 5 Januari 2020. Pesertanya dua besar itu tadi.

Pun kalau suara semua caleg dari Republik di babak pertama beralih ke Kelly, perolehan suara Kelly baru akan menjadi 49 persen.

Sebaliknya, kalau semua suara caleg Demokrat di babak pertama ke Warnock juga hanya mendapat suara 49 persen.

Maka sumber kemenangan di babak dua nanti hanya dari suara calon independen di babak pertama. Ada empat  calon independen dan satu calon dari Partai Hijau yang ikut di Pileg pertama. Secara total mereka mendapat 2 persen suara.

Atau dari sumber lain: mereka yang di babak pertama lalu masih golput.

Serunya bukan main.

Kalau dua kursi di Dapil 6 Georgia itu bisa direbut Demokrat, maka Joe Biden bikin sejarah: menjadi Presiden Amerika yang paling mudah mendapat persetujuan legislatif.

Posisi kursi di Senat menjadi 50-50.

Itu baik bagi Biden karena mayoritas kursi di DPR tetap dipegang Partai Demokrat –meski jumlah kursinya berkurang.

Maka Partai Republik juga all out untuk merebut sisa dua kursi itu. Agar raihan yang sudah 50 kursi itu menjadi 52. Dengan 52-48 berarti Republik  tetap memegang mayoritas di Senat –meski penguasaan kursinya juga berkurang.

Hari-hari ini adalah hari yang seru di Georgia. Kemarin-kemarin seru karena tipisnya perbedaan perolehan suara Joe Biden dan Donald Trump. Sampai harus dihitung ulang. Yang hasilnya baru ketahuan hari ini –pun meski Trump bisa membalik keadaan tidak akan mengganggu kemenangan Biden secara nasional.

Kini suasana panas di Georgia beralih ke perebutan dua kursi Senat itu.

Dua kursi itu, yang satu diperebutkan antara Kelly dan Warnock tadi. Kelly itu sangat Trump. Warnock sangat Obama. Kulit putih lawan kulit hitam. Pengusaha lawan pendeta. Kaya lawan miskin.

Satu kursi lagi tidak kalah serunya. Diperebutkan antara incumbent dari Partai Republik dengan wartawan muda dari Demokrat.

David Perdue (70 tahun) lawan Jon Ossoff, 33 tahun.

Perdue sangat Trump. Termasuk sangat anti Obama. Ia pengusaha besar juga. Pernah jadi eksekutif Reebok dan Dollar General, jaringan supermarket terkenal di Amerika.

Jon Ossoff pernah nyaleg di tahun 2017. Ia menang di babak pertama, tapi belum 50 persen. Lawannya hanya mendapat 19 persen. Tapi ia kalah di babak kedua.

Ossoff mendapat 48,2 persen. Lawannya, Karen Handel mendapat 51,8. Rupanya suara 16 caleg Republik di babak pertama hijrah ke Handel semua.

Di tahun 2020 ini hanya ada tiga caleg: David Perdue, Jon Ossoff dan satu nama dari Partai Libertarian. Di babak pertama 3 November Perdue dapat 49,7 persen. Ossoff dapat 47,9 persen. Sisanya untuk calon ketika tadi, 2,3 persen.

Akan ke mana suara calon ketiga itu di putaran kedua 5 Januari depan?

Rupanya perbedaan tipis itu bikin penasaran. Pengawas Pemilu juga meningkatkan kewaspadaan. Kemarin lembaga itu bikin berita besar di media lokal: lagi menyelidiki kasus kemungkinan ”impor” pemilih dari negara bagian lain.

Yang lagi dicurigai adalah tiga organisasi di luar tim resmi para caleg. Di Amerika banyak organisasi seperti itu. Ada yang khusus untuk membuat seorang calon bisa menang. Ada yang ingin seorang calon harus kalah. Ada juga yang mengajak pemilih datang ke TPS –tanpa mengajak milih siapa pun.

Di Pilpres tahun ini yang paling terkenal adalah organisasi Lincoln Project. Yang didirikan oleh para aktivis Partai Republik. Yang misinya satu:  jangan sampai Trump terpilih lagi. Lembaga ini berhasil meraih dana masyarakat hampir Rp 1 triliun. Tepatnya 78 juta dolar. Agar Trump gagal jadi presiden lagi. Agar demokrasi Amerika kembali aman.

Hasilnya, kata seorang tokohnya, “Insya Allah demokrasi pulih kembali di Amerika.” Kata insya Allah kini kian populer di Amerika. Terutama setelah kata itu diucapkan Joe Biden di debat Capres yang lalu.

Waktu itu Trump berjanji akan menyerahkan laporan pajaknya. Sejak dulu ia selalu bilang begitu. Tapi tidak pernah mau memastikan: kapan.

Maka ketika di debat itu Trump mengulangi janjinya untuk menyerahkan laporan pajak itu  Biden menyela. Sambil sedikit menyindir: “Kapan? Insya Allah?”(*)

Tags: Dahlan IskanDiswayDua Lagi

Related Posts

Ilustrasi pertaruhan masa depan ekonomi Indonesia di antara berbagai sistem ekonomi.--

Perjudian Besar

Wednesday, 10 June 2026
Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi menkeu. Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya dapat tugas baru sebagai gubernur Bank Indonesia. Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi menteri keuangan di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya. Mereka sama-sama ekonom Universitas Indonesia tapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra). Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas di akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang. Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Jokowi ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD5.000. Merosotnya jumlah kelas menengah itu sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh. Kalau benar Chatib Basri akan menjadi menteri keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo yang tampak sekarang. Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat –khususnya di kurs rupiah dan bursa saham? Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori "jebakan kelas menengah". Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan. Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam –bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu. Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar. Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tapi berdiskusi. Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik –yang diberitakan kian kurus badannya. Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter. Tapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual --salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya. Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu. Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah. Siapa tahu muncul ''kemenangan baru'': keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat. Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu. Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik di zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear. Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara.(

Kanan Dalam

Tuesday, 9 June 2026
--

Neo Pop

Monday, 8 June 2026
Lewat Pasrah

Lewat Pasrah

Saturday, 6 June 2026
--

Agus Deyang

Thursday, 4 June 2026
Bambang, tengah, usai makan malam.--

Jago Cimory

Thursday, 4 June 2026
Next Post
Hari AIDS Sedunia : Penularan di Gorontalo Turun

Hari AIDS Sedunia : Penularan di Gorontalo Turun

Discussion about this post

Rekomendasi

Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

Saturday, 13 June 2026
Ridwan Monoarfa

Berpikir Strategis di Tengah Dunia yang Bergejolak: Refleksi Pembangunan Gorontalo

Saturday, 13 June 2026
Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

Friday, 12 June 2026
Hendri Cahyo Dwi Safitri

Kebangkitan Ekonomi Gorontalo

Friday, 12 June 2026

Pos Populer

  • PENAS XVII: Dikbudprov Libatkan Masyarakat Siapkan Ribuan Polopalo, Aleg Deprov Femmy Udoki Beri Apresiasi

    PENAS XVII: Dikbudprov Libatkan Masyarakat Siapkan Ribuan Polopalo, Aleg Deprov Femmy Udoki Beri Apresiasi

    56 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

    38 shares
    Share 15 Tweet 10
  • Antusias Ikut PENAS XVII Gorontalo, Kontingen Jambi Tempuh Jalur Darat dan Laut

    41 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Harga Pertamax Naik

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.