logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Life Wife

Lukman Husain by Lukman Husain
Tuesday, 12 May 2026
in Disway
0
Life Wife

Dari kiri ke kanan: James, Erick, dan Lia bersama pasien di rumah sakit.--

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

oleh:
|Dahlan Iskan

 

Ketika Disway pagi ini terbit, pemakaman James F. Sundah sedang berlangsung di New York. Upacara itu berlangsung dua jam, berarti selesai pukul 06.00 pagi ini. Itu sudah termasuk kebaktian secara Kristen selama setengah jam di awal acara.

Yang paling istimewa tentu acara terakhir: semua pelayat menyanyikan lagu Lilin Lilin Kecil ciptaan James. Anda bisa mengikuti semua itu secara live. Kalau belum punya link-nya, ini dia (funeraweb.tv/diffusions/123811).

Related Post

Wani El-Tri

Sel Janin

Bagi Hasil

Perjudian Besar

Sebelum itu, doa lima agama dipanjatkan: Kristen Protestan (agama James F. Sundah), Katolik (agama Lia, istrinya), Yahudi, Islam, dan Buddha (sahabat-sahabatnya). Yang dari Islam akan dibawakan oleh ustad Jaya dari masjid Al Hikmah New York.

Selama ini James sering ikut ke gereja Katolik dan Lia sering ikut ke gereja Kristen. Erick, anaknya, sering juga ke gereja bapaknya tapi selalu lupa: di akhir doa ia menggerakkan tangan ke tiga arah sebagaimana praktik doa di Katolik.

Yang akan ditunggu pelayat adalah eulogy. Saya sering mendengarkan eulogy tokoh-tokoh Amerika ketika mereka menghadiri pemakaman sahabat.
Isi eulogy itu biasanya sangat menarik: penilaian dari si pembawa eulogy mengenai tokoh yang akan dimakamkan. Dalam pidato itu begitu sering sisi-sisi lucu almarhum disebutkan. Maka di acara pemakaman seperti itu sangat biasa terdengar tawa yang meriah dan tepuk tangan yang riuh.

Salah satu yang saya suka adalah eulogy yang disampaikan Presiden Bill Clinton di hari pemakaman petinju Mohamad Ali. Itu tahun 2016. Di Louisville. Saya sedang di sana saat itu. Lucu sekali.

Kadang, di satu pemakaman, yang memberikan eulogy sampai lima orang. Tapi karena menarik semua, tidak sampai membosankan. Di acara Mohamad Ali itu yang membawakan eulogy empat orang. Yang tidak lucu hanya satu: Imam Zaid Zakir. Isinya lebih banyak khotbah tentang Islam.

Di pemakaman James F. Sundah pagi ini yang membacakan eulogy satu orang: Lia, istrinya. Lia sendiri yang menuliskannya. Itu tidak sulit bagi Lia yang pianis, aktivis, dan pengacara di New York. Yang sulit bagi Lia adalah bagaimana bisa menahan tangis di tengah eulogy itu. “Saya harus latihan membaca sambil menahan tangis,” ujar Lia tadi malam.

Lia sudah menyelesaikan naskah eulogy untuk James itu tapi masih dia pikir lagi apakah ada yang kurang. Kalau pun nanti Lia tidak kuat menahan tangis sudah disiapkan Erick yang bisa meneruskannya.

Pasti Lia juga akan menguraikan segala aspek kehidupan James yang bukan hanya musisi, tapi juga orang yang punya prinsip: di musik tidak boleh hanya memikirkan aspek bisnis. Soal keterbukaan, keadilan, dan fairness harus dijunjung tinggi.

Mengapa pelayat yang menghadiri pemakaman James dianjurkan pakai baju berwarna ungu, merah, biru, atau oranye? Mengapa mereka diharapkan tidak pakai ”baju duka” hitam putih?

“Itu warna-warna kesukaan James,” ujar Lia. Terutama warna ungu.
Lia sendiri akan pakai baju apa?

“Saya pakai baju yang dibelikan James terakhir,” ujar Lia.

Baju itu dibeli James untuk ulang tahun Lia. Tahun lalu. Yakni sehari setelah James kali pertama menjalani kemo untuk kanker parunya.

Baju itu buatan Carmanita. Anda sudah tahu siapa Carmanita: desainer baju dan pembatik. Dia cucu pencipta lagu yang Anda pasti suka ketika Anda masih anak-anak dulu: Ibu Soed.

Sedang para staf Lia di kantor pengacaranyi sudah siap semua: berseragam warna ungu.

Sebenarnya saya ingin melihat Lia main piano saat pelayat menyanyikan Lilin Lilin Kecil. Tapi saya tidak pernah melihat ada piano di rumah mereka. Selama di New York saya juga tidak pernah mendengar Lia bicara soal piano.

Padahal Lia sampai belajar piano di sekolah musik Berklee, di Boston. Sejak sekolah di Santa Ursula Jakarta pun bakat piano Lia sangat menonjol. Kalau toh ada yang sedikit ”mengecewakan” James adalah: Lia terlalu fokus ke lagu lagu klasik.

James sebagai guru musik di Santa Ursula pernah minta agar Lia mencoba lagu lain selain klasik. Harapan James, Lia akan memainkan lagu pop. Ternyata Lia memainkan jazz. “Padahal beralih dari klasik ke jazz itu lebih sulit,” ujar James saat saya di rumahnya kala itu.

Musik telah menyatukan James dan Lia. Saya melihat sendiri kehidupan suami-istri itu. Mesra setiap hari. Itu sesuai dengan motto Lia: happy life, happy wife. (*)

Tags: Catatan DahlanDahlan IskanDiswayharian diswayLife Wife

Related Posts

Wani El-Tri

Wani El-Tri

Saturday, 27 June 2026
--

Sel Janin

Monday, 15 June 2026
--

Bagi Hasil

Monday, 15 June 2026
Ilustrasi pertaruhan masa depan ekonomi Indonesia di antara berbagai sistem ekonomi.--

Perjudian Besar

Wednesday, 10 June 2026
Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi menkeu. Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya dapat tugas baru sebagai gubernur Bank Indonesia. Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi menteri keuangan di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya. Mereka sama-sama ekonom Universitas Indonesia tapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra). Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas di akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang. Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Jokowi ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD5.000. Merosotnya jumlah kelas menengah itu sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh. Kalau benar Chatib Basri akan menjadi menteri keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo yang tampak sekarang. Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat –khususnya di kurs rupiah dan bursa saham? Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori "jebakan kelas menengah". Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan. Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam –bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu. Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar. Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tapi berdiskusi. Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik –yang diberitakan kian kurus badannya. Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter. Tapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual --salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya. Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu. Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah. Siapa tahu muncul ''kemenangan baru'': keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat. Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu. Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik di zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear. Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara.(

Kanan Dalam

Tuesday, 9 June 2026
--

Neo Pop

Monday, 8 June 2026
Next Post
Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo Masuk Empat Besar Nasional, Sulut Tak Masuk 10 Besar

Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo Masuk Empat Besar Nasional, Sulut Tak Masuk 10 Besar

Discussion about this post

Rekomendasi

Daya Auto Sahabat Digital Konsumen Honda, Akses Kebutuhan Sepeda Motor dalam Genggaman

Daya Auto Sahabat Digital Konsumen Honda, Akses Kebutuhan Sepeda Motor dalam Genggaman

Tuesday, 30 June 2026
Crosser binaan PT Astra Honda Motor (AHM), Ivan Valrossi Tertia Wahyumaniadi menaklukkan sirkuit Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Motocross 2026. (foto: dok-AHM)

Valrossi dan CRF250R, Raih Podium Perdana, Melesat di Kejurnas Motocross

Tuesday, 30 June 2026
AYAH WAJIB HADIR - Sekda Provinsi Gorontalo Sofian Ibrahim bersama jajaran BKKBN melepas balon pada peringatan Hari Keluarga Nasional ke 33t tingkat Provinsi Gorontalo, senin (29/6). (foto: dok/pemprov)

Sekdaprov Sofian Ibrahim Irup Hari Keluarga Nasional Tingkat Provinsi Gorontalo

Tuesday, 30 June 2026
Honda DAW Bagikan Tips #Cari_Aman, Riding Boleh Stylish Keselamatan Tetap Prioritas

Honda DAW Bagikan Tips #Cari_Aman, Riding Boleh Stylish Keselamatan Tetap Prioritas

Monday, 29 June 2026

Pos Populer

  • Eks Lokasi PENAS XVII Akan Dijadikan Destinasi Agrowisata Gorontalo

    Eks Lokasi PENAS XVII Akan Dijadikan Destinasi Agrowisata Gorontalo

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Sekdaprov Sofian Ibrahim Irup Hari Keluarga Nasional Tingkat Provinsi Gorontalo

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • In Memoriam Irwan Hamzah, Birokrat, Juga Seniman ‘Dunia Dipo Kiama’

    63 shares
    Share 25 Tweet 16
  • Rasakan Langsung Keunggulan Honda PCX Melalui Test Ride Point to Point di Manado

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Perkuat Inovasi Pojok Kasih Sayang Puskesmas Gentuma Gandeng Prodi Psikologi UNG

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.