Gorontalopost.co.id — Sejumlah warga di Desa Kaliyoso, Kecamatan Dungaliyo, Kabupaten Gorontalo atau Kampung Jawa, mulai disibukkan dengan persiapan jelang perayaan ketupat yang akan digelar pada Sabtu mendatang.
Salah satu tradisi yang tetap dipertahankan adalah pembuatan dodol, sajian khas yang selalu hadir untuk menyambut para tamu sekaligus menjadi buah tangan bagi pengunjung. Aktivitas pembuatan dodol tampak mulai meningkat beberapa hari terakhir.
Warga setempat memanfaatkan momen ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi juga melayani pesanan dari masyarakat yang ingin menikmati kuliner khas tersebut. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan setelah hari raya Idul fitri di wilayah tersebut.
Rasyid Patamani, salah satu warga pembuat dodol mengaku telah memulai proses produksi sejak jauh hari. Ia merupakan pembuat dodol yang telah menekuni usaha ini selama puluhan tahun.
Menurutnya, permintaan dodol selalu meningkat menjelang perayaan ketupat, sehingga persiapan bahan baku dan tenaga menjadi hal yang sangat penting. “Setiap tahun kami sudah terbiasa memproduksi dodol dalam jumlah besar. Selain untuk konsumsi sendiri, banyak juga pesanan dari warga lain dengan berbagai varian rasa,” ujarnya saat ditemui, Rabu (25/3)
Ia menjelaskan, dodol yang diproduksi tidak hanya memiliki rasa original, tetapi juga dikembangkan dengan tambahan bahan seperti kacang dan durian untuk memberikan variasi cita rasa. Inovasi tersebut dilakukan guna memenuhi selera konsumen yang semakin beragam.
Dalam proses pembuatannya, bahan dasar yang digunakan antara lain beras ketan, santan kelapa, dan gula merah. Seluruh bahan tersebut dimasak secara perlahan dengan teknik tradisional hingga menghasilkan tekstur khas dodol yang legit dan kenyal.
Rasyid menuturkan, hampir setiap tahun memproduksi hingga lebih dari 100 kilogram dodol dalam beberapa kali proses. Dari jumlah tersebut, dapat dihasilkan sekitar 400 hingga ribuan bungkus, tergantung ukuran kemasan yang digunakan. Produksi dalam skala besar ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan saat perayaan berlangsung.
Lebih dari sekadar makanan, dodol memiliki makna sosial yang kuat bagi masyarakat setempat. Hidangan ini menjadi simbol kebersamaan dan keramahan, terutama saat warga menggelar tradisi open house. Para tamu yang datang tidak hanya disuguhi makanan di tempat, tetapi juga diberikan dodol untuk dibawa pulang sebagai tanda penghormatan.
Menariknya, sebagian besar dodol tersebut dibagikan secara cuma-cuma kepada para tamu. Hal ini menjadi bentuk kearifan lokal yang mencerminkan nilai gotong royong dan kehangatan dalam menyambut silaturahmi antarwarga.
Meski terlihat sederhana, proses pembuatan dodol membutuhkan waktu yang cukup lama, yakni sekitar tujuh hingga delapan jam. Proses ini menuntut ketelatenan dan kesabaran tinggi, mulai dari pengadukan hingga mencapai tingkat kematangan yang sempurna. “Prosesnya memang panjang dan cukup melelahkan, tetapi sudah menjadi tradisi yang kami jalani setiap tahun,” tambahnya.(tha)











Discussion about this post