Gorontalopost.co.id, POHUWATO -– Pihak Kepolisian tidak hanya melakukan penertiban di lokasi Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI), akan tetapi suplay solar ke lokasi PETI, turut digagalkan. Dengan demikian, para pelaku yang menggunakan alat berat akan kesulitan.
Data yang dirangkum Gorontalo Post, sejak Januari-Februari 2026 ini, sudah ada kurang lebih 17.425 liter bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang berhasil disita oleh personel Polres Pohuwato. Pengungkapan pertama dilakukan pada 29 Januari 2026 sekitar pukul 21.00 Wita, di Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato.
Pada saat itu, satu unit kendaraan jenis Toyota Hilux berwarna hitam metallic, dengan nomor Polisi DM 8934 DB, berhasil disita dengan muatan sebanyak 35 jergen BBM ukuran 35 liter jenis solar.
Pengemudi yang bernama A (46), warga Desa Sumber Jaya, Kecamatan Lelembuu, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara, langsung diamankan dan ditetapkan sebagai tersangka serta dtelah dilakukan penahanan.
Polisi pun mengamankan barang bukti berupa satu buah STNK, satu buah kunci kendaraan, 35 jergen ukuran 35 liter yang diduga BBM solar dan satu lembar terpal warna orange.
Hanya berselang kurang lebih satu jam lamanya, Kamis (29/1) sekitar pukul 22.15 Wita, seorang lelaki bernama CAP (21), warga Desa Padengo, Kecamatan Dengilo, Kabupaten Pohuwato diamankan oleh pihak Kepolisian, beserta barang bukti berupa 37 jergen BBM jenis solar ukuran 35 liter, yang dimuat di mobil Daihatsu Grand Max warna silver metallic, dengan nomor Polisi DB 8792 LJ.
CAP diamankan di Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia, ketika hendak menuju ke lokasi PETI. Selain kendaraan dan BBM, Polisi juga menyita satu buah STNK dengan nomor Polisi DM 8421 EC, satu buah kunci kendaraan dan satu lembar terpal warna hijau.
Selanjutnya, pada Rabu (11/2) sekitar pukul 23.00 Wita, pihak Kepolisian mengamankan lelaki bernama SDL (26) warga Desa Pontolo, Kecamatan Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara, yang saat itu mengendarai mobil jenis Daihatsu Grand Max warna hitam, dengan nomor Polisi DM 8398 FC.
Saat diamankan, SDL tidak sendiri melainkan bersama rekannya yakni HP (28), warga Desa Tolango, Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara. Keduanya saat itu memuat 75 jergen berukuran 35 liter BBM jenis solar, yang akan dibawa ke lokasi PETI, namun berhasil dicegat di Desa Teratai, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato.
Terakhir, penangkapan dilakukan pada Kamis (12/2) sekitar Pukul 03.00 Wita, di Desa Teratai, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato. Di mana satu unit mobil tangki merek Isuzu warna biru putih, dengan nomor Polisi DB 8070 CK, berukuran 8.000 liter memuat BBM jenis solar, yang diduga hendak didistribusikan ke lokasi PETI, berhasil diamankan.
Mobil itu dikendarai oleh JMM (21), warga Desa Bitung Timur, Kecamatan Maesa, Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Selain itu, ada pula dua rekannya yakni JJTM (25), warga Desa Bitung Timur, Kecamatan Maesa, Kota Bitung, serta RJT (21), warga Kelurahan Sagerat Weru Dua, Kecamatan Matuari, Kota Bitung, Sulut. Selain 8.000 liter, Polisi juga berhasil mengamankan delapan jergen ukuran 35 liter yang diduga berisi solar, serta satu buah handphone.
Kapolres Pohuwato, AKBP H. Busroni,S.I.K.,M.H. melalui Kasat Reskrim, AKP Khoirunnas,S.I.K.,M.H. mengatakan, perkara dugaan penyalahgunaan BBM jenis solar untuk aktivitas PETI, sampai dengan saat ini masih berproses. Untuk tersangka A (46) dan tersangka CAP (21), prosesnya sudah tahap satu atau telah dilakukan pengiriman berkas kepada pihak Kejaksaan Negeri Pohuwato. Apabila berkas sudah dinyatakan lengkap, maka akan ditindaklanjuti dengan tahap dua atau penyerahan tersangka beserta barang bukti.
“Untuk kedua tersangka saat ini masih di tahan di Rutan Polres Pohuwato. Keduanya dikenakan Pasal 40 angka 9 Undang-Undang nomor 2 tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi undang-undang atas perubahan ketentuan pasal 55 undang-undang RI nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (Migas). Dengan ancaman hukuman pidana maksimal 6 tahun dan denda Rp 60 milyar,” ungkapnya.
Sedangkan untuk tersangka SDL (26), HP (28), JMM (21), JJTM (25) dan RJT (21), saat ini prosesnya masih berlanjut. Di mana penyidik masih akan melakukan pemeriksaan ahli dari pihak Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) di Jakarta dalam waktu dekat ini.
Setelah itu, akan dilakukan pemberkasan dan tahap satu ke pihak Kejaksaan. Untuk para tersangka, saat ini masih di tahan di Rutan Polres Pohuwato dan barang buktinya pun masih diamankan.
“Untuk para tersangka kami jerat dengan Pasal 40 angka 9 Undang-Undang nomor 2 tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi undang-undang atas perubahan ketentuan pasal 55 undang-undang RI nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (Migas) Junto Pasal 20 huruf C KUHPidana.
Dengan ancaman hukuman pidana maksimal 6 tahun dan denda Rp 60 milyar. Pada dasarnya perkara masih sementara berproses. Dan kami terbuka kepada public untuk setiap proses maupun tahapan pemeriksaan yang kami lakukan. Selanjutnya, perkembangan berikut akan diinformasikan kembali,” pungkas mantan Kasat Narkoba Polres Bone Bolango ini. (kif)













Discussion about this post