Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Semangat pengabdian lintas negara terus diperkuat kalangan perguruan tinggi. Hal itu tercermin dari partisipasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO) dalam program Kuliah Kerja Nyata Kemitraan Internasional (KKN KI) di Malaysia.
Salah satu peserta, Givania Soreas Bento, mahasiswa asal Timor Leste, menjadi representasi praktik pendidikan global yang mengedepankan nilai toleransi dan kolaborasi lintas budaya. Ia tergabung bersama empat mahasiswa lainnya dalam program pengabdian selama 28 hari.
Dalam kegiatan tersebut, para mahasiswa ditempatkan di Sanggar Bimbingan (SB) untuk mendampingi anak-anak Warga Negara Indonesia (WNI). Fokus kegiatan meliputi penguatan literasi, pendidikan dasar, hingga pembinaan sosial dan keagamaan.
Program KKN KI merupakan agenda rutin jaringan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA) yang berorientasi pada pengabdian internasional. Selain memperluas wawasan akademik, program ini juga mendorong mahasiswa memiliki kepekaan sosial di tengah komunitas diaspora Indonesia.
Bagi Givania, pengalaman tersebut menjadi ruang belajar yang melampaui batas akademik. Ia mengaku mendapatkan pengalaman berharga terkait praktik toleransi dalam kehidupan nyata.
“Saya sangat bersyukur bisa ikut program ini. Meski berbeda keyakinan, saya diterima dengan hangat. Kami saling menghormati dan bekerja untuk tujuan yang sama, membantu anak-anak Indonesia di Malaysia,” ujar Givania. Ia juga mengungkapkan pengalamannya saat pertama kali mengenakan hijab selama kegiatan berlangsung.
“Awalnya saya merasa canggung karena belum pernah memakai hijab. Tapi teman-teman banyak membantu dan memberi dukungan. Saya memakainya sebagai bentuk penghormatan, dan dari situ saya belajar tentang empati serta saling menghargai,” tuturnya.
Selama menjalankan pengabdian, ia bersama tim aktif mengajar membaca dan menulis, serta terlibat dalam berbagai aktivitas sosial bersama anak-anak WNI.
“Pengalaman ini membuka wawasan saya tentang kehidupan WNI di luar negeri. Saya juga belajar bersabar, beradaptasi, dan berkomunikasi dengan latar belakang budaya yang berbeda,” tambahnya.
Keikutsertaan mahasiswa asing dalam program ini menjadi gambaran arah masa depan pendidikan tinggi yang semakin inklusif dan kolaboratif. Perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat akademik, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan nilai kemanusiaan.
Dari Gorontalo hingga Malaysia, mahasiswa UMGO menunjukkan bahwa pendidikan masa depan tidak hanya berbicara tentang kompetensi, tetapi juga tentang toleransi, empati, dan kebersamaan dalam keberagaman. (Tr-76)













Discussion about this post