Gorontalopost.co.id, JAKARTA — Kursi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) kosong, setelah Juda Agung mengundurkan diri. Kini, posisi itu segera terisi setelah Presiden Prabowo Subianto mengusulkan tiga nama ke DPR RI untuk menjadi calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
Salah satu nama yang diusulkan Presiden Prabowo adalah ponakanya sendiri, yakni Thomas Djiwandono yang kini menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan RI.
Pria yang akrab disapa Tommy itu juga pernah menjabat posisi strategis di Partai Gerindra yakni sebagai Bendahara Umum Partai. Partai Gerindra adalah partai politik yang didirikan Prabowo Subianto.
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun di Kompleks DPR RI, Senin (19/1/2026), membenarkan adanya usulan calpn Deputi Gubernur Bank Indonesia itu, setelah menerima Surat Presiden (Surpres) dan telah dibicarakan di Badan Musyawarah Dewan Perwakilan Rakyat.
Selain Tommy, Misbakhun menyebut dua nama lain yang berasal dari internal Bank Indonesia, yakni Dicky Kartikoyono dan Solihin M Juhro. “Pak Thomas Djiwandono terus Diki Kartikonyono sama Solihin M Juhro,” kata Misbakhun.
DPR setelahnya akan menindaklanjuti Surpres tersebut dengan menjadwalkan agenda uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) terhadap para calon Deputi Gubernur BI. Komisi XI kemudian bakal menggelar rapat internal untuk menentukan jadwalnya.
“Surpresnya sudah tadi dibicarakan di BAMUS dan ditugaskan kepada Komisi XI. Besok Komisi XI akan melakukan rapat internal mengatur jadwal fit and proper test,” ujar dia.
Thomas Djiwandono, yang biasa dipanggil Tommy, lahir di Jakarta, 7 Mei 1972. Tommy adalah anak pertama dari pasangan Soedradjad Djiwandono dan Biantiningsih Miderawati.
Ayahnya adalah mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang kini mengajar di Nanyang Technological University (NTU), Singapura. Sedangkan ibunya Bianti adalah kakak kandung Prabowo Subianto pendiri Partai Gerindra.
Tommy juga merupakan cicit R.M Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank BNI 46. Thomas sudah menikah dan dikaruniai tiga orang anak. Dalam pendidikan, Thomas Djiwandono pernah bersekolah di SMP Kanisius, Menteng, Jakarta.
Kemudian, ia menyelesaikan kuliahnya di bidang studi sejarah di Haverford Colloge, Pennsylvania, Amerika Serikat dan mengambil master di bidang International Relations and International Economics di Johns Hopkins University School of Advanced International Studies, Washington, Amerika Serikat.
Dalam kariernya, Tommy bergelut di bidang ekonomi dan politik. Bahkan keduanya, tak pernah jauh dari perusahaan dan partai yang didirikan oleh keluarganya.
Kariernya dimulai sebagai wartawan magang di Majalah Tempo pada tahun 1993 dan pada tahun 1994 di Indonesia Business Weekly. Selain itu, Tommy pun pernah berkerja sebagai analisis keuangan di Whetlock NatWest Securities, Hong Kong.
Pada tahun 2006, kariernya terus meningkat saat pamannya Hashim memintanya untuk membantu di Arsari Group dan ia menjabat sebagai Deputy CEO Arsari Group, perusahaan agrobisnis.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons munculnya nama Thomas Djiwandono sebagai kandidat Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Menurut Purbaya, pencalonan tersebut justru menjadi hal positif, terutama untuk memperkaya pengalamannya dari sisi moneter. “Ya bagus lah,” ujar Purbaya saat ditemui wartawan di Kompleks DPR RI, Jakarta, Senin (19/1).
Purbaya mengaku mendukung atas masuknya Thomas Djiwandono dalam bursa calon Deputi Gubernur BI itu. Salah satu alasannya, agar Wamenkeu yang kerap disapa Tommy bisa memperluas pengalamannya.
Jika di Kemenkeu dia sudah belajar soal fiskal, sedangkan di Bank Sentral Indonesia, kata Purbaya, Tommy bisa mengetahui hal-hal di bidang moneter. “Biar Pak Thomas punya pengalaman lebih luas lagi. Sekarang kan sudah di fiskal, kalau masuk ke moneter kan bagus,” jelas Purbaya. (jp/tro)













Discussion about this post