Oleh:
Muchlis S. Huntua, S.Ag, M.Si
Menutup kalender tahun 2025, Provinsi Gorontalo menorehkan capaian membanggakan dalam transformasi digital pemerintahan, dimana Provinsi Gorontalo kembali mengukuhkan posisinya sebagai pionir transformasi digital di Kawasan Timur Indonesia.
Capaian ini patutlah kita syukuri bersama, karena ditengah dinamika pembangunan dan tantangan transformasi digital yang kian pesat juga kompleks, Provinsi Gorontalo berhasil mencatatkan prestasi membanggakan.
Artinya, diraihnya capaian ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan kerja kolektif, komitmen kuat, dan keberanian bertransformasi.
Berdasarkan hasil evaluasi terbaru dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Indeks Penerapan SPBE Provinsi Gorontalo berhasil menjadi yang tertinggi di Pulau Sulawesi dan secara gemilang menembus peringkat 10 besar nasional, Pemerintah Provinsi Gorontalo berhasil meraih indeks 4,13 dengan predikat Sangat Baik.
Capaian ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Provinsi lainnya di Pulau Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, seluruh Provinsi se Kalimantan dan Provinsi se Papua.
Bahkan Provinsi Sulawesi Selatan yang selama ini dijadikan sebagai barometer kemajuan di Pulau Sulawesi, ternyata kalah pamor dengan Provinsi Gorontalo yang hanya meraih indeks 3,94 dalam penerapan SPBE.
Sementara Sulawesi Utara 3,01, Sulawesi Tengah 2,91, Sulawesi Barat 3,70 dan Sulawesi Tenggara mendapatkan indeks 2,87.
Dengan capaian tersebut, secara nasional, Provinsi Gorontalo berada pada urutan ke-7 atau masuk dalam 10 besar sebagai daerah dengan indeks tertinggi dalam penerapan SPBE di Indonesia.
Dari raihan ini juga, dapat diperoleh gambaran, bahwa Gorontalo sudah mendekati penerapan layanan SPBE di Pulau Jawa dan Bali. Adapun Kesepuluh daerah dengan indeks tertinggi menurut Provinsi, adalah sebagai berikut :
1. Jawa Barat meraih indeks 4,73 dengan predikatiiiiiii memuaskan
2. Daerah Istimewa Jokyakarta meraih indeks 4,53 dengan predikat memuaskan.
3. Daerah Khusus Jakarta dengan indeks 4,46 atau predikat sangat baik.
4. Jawa Timur meraih indeks 4,43, predikat sangat baik
5. Jawa Tengah meraih indeks 4,42 predikat sangat baik
6. Bali meraih indeks 4,30, predikat sangat baik
7. Gorontalo dengan indeks 4,13, predikat sangat baik
8. Kepulauan Bangka Belitung meraih indeks 4,11, sangat baik
9. Lampung dengan indeks 4,09 atau sangat baik
10. Bengkulu meraih indeks 3,92, sangat baik.
Dalam beberapa tahun terakhir ini, Pemerintah Provinsi Gorontalo secara konsisten melakukan penguatan kebijakan SPBE, mulai dari perencanaan arsitektur sistem, integrasi aplikasi, peningkatan kualitas layanan digital, hingga penguatan keamanan informasi.
Langkah ini sejalan dengan apa yang menjadi visi pemerintah untukj menghadirkan birokrasi yang lincah, transparan, dan akuntabel. Layanan publik berbasis digital terus diperluas, sehingga masyarakat dapat mengakses layanan pemerintahan dengan lebih cepat, mudah, dan efisien.
Keberhasilan Gorontalo menjadi yang terbaik di Sulawesi mencerminkan keseriusan Pemerintah Provinsi Gorontalo saat ini dalam mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di seluruh perangkat daerah.
Dengan sumber daya yang terbatas, kita mampu bersaing di tingkat nasional melalui perencanaan yang tepat, kolaborasi lintas perangkat daerah, serta penguatan kapasitas aparatur sipil negara.
Digitalisasi bukan hanya telah membantu mempercepat layanan, bahkan lebih memperkuat kepercayaan publik.
Dengan demikian, digitalisasi tidak hanya berdampak pada pelayanan eksternal, tetapi juga meningkatkan efektivitas proses administrasi dan pengambilan keputusan di internal pemerintahan, lebih mudah dan bertanggungjawab.
Prestasi ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintahan Gusnar – Idah dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang modern, efektif, dan berorientasi pada pelayanan publik. Menurut istilah penulis, ini adalah lompatan signifikan menuju Pemerintahan Digital.
Dalam perspektif teori komunikasi dan difusi inovasi, istilah “lompatan signifikan” menuju pemerintahan digital merujuk pada percepatan adopsi teknologi yang tidak lagi bersifat bertahap, melainkan melompat dari pola komunikasi birokrasi konvensional ke sistem digital yang terintegrasi.
Perubahan ini menandai transformasi cara pemerintah berkomunikasi baik secara internal antar lembaga maupun secara eksternal dengan masyarakat.
Konsep ini dapat dijelaskan melalui Teori Difusi Inovasi yang dikemukakan oleh Everett M. Rogers yang menjelaskan bahwa organisasi yang berhasil melakukan adopsi inovasi secara cepat akan melewati fase early adoption menuju early majority dengan dukungan kepemimpinan, struktur organisasi yang adaptif, serta sistem komunikasi yang efektif.
Dalam konteks pemerintahan digital, SPBE menjadi medium utama yang mempercepat aliran informasi, mengurangi distorsi pesan, dan meningkatkan keterbukaan komunikasi publik.
Selain itu, istilah lompatan signifikan juga sejalan dengan gagasan “transformational change” dalam komunikasi organisasi yang dikemukakan oleh Karl Weick, yang menekankan bahwa perubahan besar terjadi ketika organisasi mengubah cara memaknai informasi (sensemaking) melalui teknologi.
Pemerintahan yang berbasis digitalisasi sangat memungkinkan dalam pengambilan keputusan berbasis data dan komunikasi real-time, sehingga birokrasi tidak lagi reaktif, melainkan proaktif dan produktif.
Dalam kajian pemerintahan modern, konsep ini diperkuat oleh pemikiran Manuel Castells melalui teori Network Society, yang menyebutkan bahwa kekuatan utama institusi publik di era digital terletak pada kemampuannya membangun jaringan komunikasi berbasis teknologi informasi.
Ketika pemerintah mampu mengintegrasikan sistem digital secara menyeluruh, maka yang akan terjadi adalah lompatan dari struktur hierarkis menuju sistem pemerintahan yang lebih kolaboratif dan responsif.
Dengan demikian, lompatan signifikan menuju pemerintahan digital dapat dipahami sebagai perubahan mendasar dalam sistem komunikasi pemerintahan dari yang lambat, terfragmentasi, dan tertutup, menuju komunikasi digital yang cepat, terintegrasi, transparan, dan partisipatif.
Masuknya Provinsi Gorontalo dalam 10 besar nasional Indeks SPBE, hal ini menegaskan bahwa daerah Gorontalo dengan wilayah relatif kecil tapi dapat mampu bersaing dan unggul di tingkat nasional.
Ini pula menunjukkan, bahwa keberhasilan SPBE tidak semata ditentukan oleh besarnya anggaran atau luas wilayah, melainkan oleh kepemimpinan yang visioner, perencanaan yang matang, serta kolaborasi lintas sektor yang solid.
Prestasi ini tentunya menjadi modal penting untuk melangkah ke tahun berikutnya. Tantangan ke depan tidak hanya mempertahankan peringkat, tetapi juga memastikan bahwa implementasi SPBE benar-benar memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Dengan memanfaatkan Inovasi digital, peningkatan jumlah kapasitas sumber daya manusia, dan penguatan budaya kerja berbasis data menjadi agenda strategis yang harus terus dikembangkan, menjadikan pemerintahan yang maju dan digdaya.
Akhir tahun 2025 ini akan menjadi momentum refleksi sekaligus penyemangat. Capaian Indeks SPBE ini adalah hasil kerja bersama seluruh jajaran pemerintah daerah, dukungan DPRD, serta partisipasi aktif seluruh masyarakat.
Dengan semangat kolaborasi dan inovasi berkelanjutan, prestasi SPBE ini akan menjadi kado akhir tahun yang manis bagi seluruh masyarakat Bumi Serambi Madinah, sekaligus bukti nyata bahwa Gorontalo kini menjadi rujukan transformasi digital dan berkelanjutan di Indonesia.
Memasuki tahun 2026, Pemerintah Provinsi Gorontalo kiranya akan lebih meneguhkan visi untuk memperkuat pemerintahan digital yang terintegrasi, berbasis data, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Dengan fokus meningkatkan kualitas layanan digital, memperkuat keamanan siber, mengembangkan talenta digital ASN, serta mendorong inovasi layanan yang berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan rakyat. (*)
Penulis adalah:
Pejabat Pelaksana Satpol PP Provinsi Gorontalo sebagai Kord. Tim Humas Infokom
Pendiri LPP Lokal Radio Suara Rakyat Hulondalo Tahun 2012
Pengajar (Dosen) Ilmu Pemerintahan, Kesos & Hukum di Universitas NU Gorontalo (UNUGo)











Discussion about this post