gorontalopost.co.id – Booth coffee milik pelaku UMKM berjejer di depan Kantor Bupati Kabupaten Gorontalo, tepatnya di Taman Budaya Limboto, Kelurahan Kayubulan, Kecamatan Limboto. Kawasan ini kini menjadi salah satu ruang publik yang ramai dikunjungi masyarakat. Aktivitas pengunjung terlihat cukup tertib dan beragam, seperti pada Rabu 17 Desember 2025 malam. Pengelola kawasan tersebut, Roy Shandy Umar (45), warga Limboto, menjelaskan bahwa lokasi ini sebelumnya merupakan tempat nongkrong yang gelap dan kerap dijadikan arena balap liar. Kini kawasan ini dilabeli dengan nama baru, Limboto Coffee Street.
Roy mengungkapkan, perubahan kawasan tersebut bermula saat pihaknya menghadap langsung Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi, untuk menyampaikan kondisi lokasi yang dinilai tidak produktif. Bupati Gorontalo kemudian merespons dengan menyatakan bahwa kawasan tersebut harus diramaikan dan diberi fungsi yang lebih positif. Atas arahan tersebut, pengelola mengubah area di depan Kantor Bupati Gorontalo menjadi kawasan booth UMKM sebagai upaya memajukan pelaku usaha lokal, khususnya yang berasal dari Limboto. Seluruh pelaku UMKM yang berjualan di lokasi tersebut merupakan warga setempat karena pengelola mengutamakan UMKM lokal terlebih dahulu.
Menurut Roy, dukungan Bupati Gorontalo diberikan karena dampak positif yang ditimbulkan, antara lain tidak adanya lagi aktivitas balap liar, kawasan yang sebelumnya sunyi menjadi lebih hidup, serta berkembangnya usaha mikro kecil dan menengah. Sebelum berjualan, para pelaku UMKM terlebih dahulu didata oleh pengelola. Lokasi ini dipilih karena jalan di depan Kantor Bupati Gorontalo tidak terdapat permukiman warga, sehingga dinilai layak untuk dijadikan pusat aktivitas UMKM. Pengajuan penggunaan kawasan dilakukan pada 20 November dan diresmikan bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Gorontalo. Hingga memasuki minggu keempat operasional, kondisi kawasan dinilai tertib, dengan pelaku UMKM dan pengunjung yang saling menjaga ketertiban.
Pengunjung di kawasan tersebut berasal dari berbagai kelompok usia dan tidak hanya didominasi generasi Z. Kerabat dari para pelaku UMKM menjadi salah satu kelompok yang paling meramaikan lokasi. Salah satu pengunjung, Nabila Priliani Kelo (21), warga Pulubala, mengaku datang ke booth coffee depan Kantor Bupati Gorontalo untuk mencoba pengalaman baru. Ia menilai makanan dan minuman yang dijual memiliki harga yang sepadan dengan rasa, meskipun sebagian pelaku UMKM masih belum berpengalaman dan bahkan ada yang masih berstatus pelajar.
Ia juga menyukai suasana lokasi yang dinilai nyaman dan tidak terlalu bercahaya. Sementara itu, Candra Sudin (21), warga Hunggaluwa, menyebutkan bahwa alasan ia nongkrong di lokasi tersebut karena dekat dari rumahnya, meskipun ia sedikit keberatan dengan tata letak kawasan yang sebelumnya merupakan jalan umum. Dari sisi pelaku usaha, salah satu UMKM di Taman Budaya Limboto, yakni Booth Coffee Recovery, mengaku baru dua minggu beroperasi. Booth tersebut menjual menu umum seperti booth coffee pada umumnya, dengan menu best seller berupa coffee butter scotch dan pandan latte, serta minuman non-kopi seperti green tea dan cokelat.
Karena masih baru dibuka, pendapatan yang diperoleh belum terlalu besar dan biasanya ramai pada waktu tertentu seperti malam Minggu dan malam Kamis. Alasan membuka booth berawal dari rasa gabut, namun berlanjut karena penghasilan yang dinilai cukup. Persiapan yang dilakukan meliputi pendaftaran sebagai UMKM resmi, dengan booth milik pribadi dan anggaran persiapan sekitar Rp5 juta.
Pemilik Booth Coffee Recovery, Fikriyansyah Tongkodu (23), warga Hunggaluwa, menyampaikan bahwa ini merupakan pengalaman pertamanya membuka booth coffee. Ia terinspirasi dari teman, belajar secara mandiri melalui tutorial di TikTok, serta sering bertanya kepada teman yang lebih berpengalaman, dengan dukungan utama dari ibunya.
Pengunjung di Booth Coffee Sejalan juga menyatakan sering nongkrong di lokasi tersebut karena dekat dari rumah dan sekaligus membantu teman yang berjualan. Ia menilai harga yang ditawarkan masih standar dan sesuai kantong, dengan rasa yang sepadan, meskipun suasana sedikit terganggu oleh suara musik dari berbagai arah. Sementara itu, Fahmi Stion (25), warga Bolaang Mongondow, menilai fasilitas di kawasan tersebut masih kurang. Menurutnya, sebagai Taman Budaya, lokasi ini seharusnya tidak hanya diisi booth UMKM, tetapi juga dilengkapi fasilitas yang dapat memperkenalkan kebudayaan Gorontalo kepada pengunjung, mengingat letaknya yang strategis di pinggir jalan. (mg-21)













Discussion about this post