Gorontalopost.co.id, TOLANGOHULA — Aksi unjuk rasa jilid II dari masa yang mengatasnamakan Aliansi Gerakan Mahasiswa dan Rakyat Kapitalisme (GERAM) Provinsi Gorontalo di PT Pabrik Gula Gorontalo (PGG) berakhir ricuh, Rabu, (15/1/2024). Kericuhan ini diduga akibat pernyataan salah satu orator yang tidak pantas sehingga memicu reaksi para karyawan perusahaan.
Pantauan Gorontalo Post, aksi yang digelar sekitar pukul 10.00 Wita itu awalnya berjalan aman dan damai meskipun para masa aksi aliansi Geram disambut oleh masa tandingan dari para karyawan dan buruh pabrik gula.
Disebut masa tandingan, pasalnya para karyawan dan buruh pabrik tersebut juga telah menyiapkan sound system dengan suara yang menggelegar untuk sahut-sahutan suara dengan orasi dari massa aksi.
Selain itu ada juga yang memegang spanduk dan Pamflet layaknya massa aksi yang sedang melakukan demo. Hal ini praktis membuat para massa aksi aliansi Geram menjadi lebiih geram.
Namun, situasi masih tetap terkendali ketika Hamzah Kaiko selaku Koordinator Lapangan (Korlap) yang menjadi orator. Aksi anjuk rasa tersebut blunder Ketika terjadi pergantian orator dari Hamzah Kaiko kepada orator lainnya.
Dimana, oknum orator tersebut diduga mengeluarkan kalima-kalimat yang kurang pantas sehingga secara tidak langsung menyinggung perasaan dari para karyawan dan buruh pabrik.
Spontanitas hal ini menuai reaksi para karyawan dan buruh pabrik beramai-ramai langsung mendatangi orator yang sedang berorasi di atas mobil dengan bak terbuka.
Tak ingin terjadi sesuatu dengan dirinnya, sang orator langsung turun dari mobil bak terbuka untuk mengamankan diri. Reaksi karyawan perusahaan ini juga mendapat reaksi dari massa aksi sehingga hal ini praktis membuat kedua pihak terlibat aksi saling dorong.
Untung saja situasi ini langsung terkendali setelah aparat kepolisian gabungan dari Polsek Tolangohula, Polsek Paguyaman, Polres Gorontalo dan Polres Boalemo dengan cepat mengamankan aksi saling dorong kedua pihak tersebut.
Nampak pula Kapolsek Tolangohula berdiri di tengah masa yang saling dorong itu sambil menenangkan kedua pihak sehingga situasi langsung mencair.
Orasi kembali dilanjutkan dengan orasi yang disuarakan Hamzah Kaiko dengan sejumlah tuntutan seperti masalah lahan, sapi milik warga yang mati mendadak, serta sejumlah tuntutan lain.
Hamzah Kaiko juga mengaku bahwa dirinnya dan salah satu masa aksi sempat mendapat kekerasan fisik. Namun, Hamzah tidak bisa menujuk siapa orang yang memukulnya serta rekannya saat aksi saling dorong.
Hamzah hanya menyebut nama dengan inisial B dan mengancam akan melaporkan hal ini ke pihak berwajib. Demo jilid II ini berakhir dan masa aksi kembali dengan aman Karena tak berhasil ketemu dengan pimpinan perusahaan.(roy)










