logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Tim Sukses

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 13 May 2024
in Disway
0
Menu makanan dan fasilitas di pesawat ANA yang membawa Dahlan Iskan dari Haneda menuju New York, Amerika Serikat.--

Menu makanan dan fasilitas di pesawat ANA yang membawa Dahlan Iskan dari Haneda menuju New York, Amerika Serikat.--

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

 

INI seperti khas pesan orang tua untuk orang tua: “Anda ini akan terbang 13 jam. Di penerbangan jarak jauh waspadai DVT, ” ujar Robert Lai pada saya.

Malam itu saya pamit padanya. Sudah mau take off dari bandara Haneda (Tokyo) ke John F Kennedy, New York. Memang sekitar 13 jam penerbangan.

Related Post

Neo Pop

Lewat Pasrah

Agus Deyang

Jago Cimory

Sendirian.

Istri ke Samarinda –ponakannyi meninggal.

Robert jaga Dorothy di Singapura.

Tiffany mulai kuliah S-2 di Shanghai.

Janet tunggu visa suaminyi yang belum keluar.

Annie Wong lagi di Korea.

Meiling sibuk dengan bisnis barunya di Harbin dan Chengdu.

Kami pun gagal reuni lima tahunan di rumah John Mohn di Kansas. Untung ada Lia di New York. Juga suami Lia: James Sundah, si pencipta lagu ‘Lilin-lilin Kecil’. Lia yang akan menjemput saya di bandara.

Robert berpesan agar saya banyak bergerak di atas pesawat. Disuruh mondar-mandir. Agar tidak terkena deep vein thrombosis.

Malam sudah pukul 22.00 waktu Tokyo. Begitu naik pesawat sudah waktunya tidur. Maka saya tidak akan mau menunggu makan malam. Lebih baik langsung tewas.

Saya pilih makan sebelum naik pesawat. Toh di lounge ANA Haneda ini pilihan makanannya banyak sekali. Lounge-nya juga sangat luas.

Mau pilih di kursi model apa saja ada: model sofa, model kantor, model kursi makan, model bar, kafe semua ada.

Saya lihat ada jagung manis di prasmanan saladnya. Ini di Jepang. Pasti jagungnya enak. Saya ambil agak banyak. Balas dendam yang di lounge Jakarta. Tambah selada, tomat, timun dan asinan zaitun. Sausnya pilih thousand island.

Setelah itu masih ambil nasi dibungkus rumput laut goreng. Lalu sushi. Ayam goreng. Daging burger. Terakhir ambil nasi putih di mesin. Nasi putih Jepang.

Mesin nasi itu sebesar kulkas satu pintu. Setelah saya letakkan piring di bagian bawah mesin itu layarnya menyala.

Ada tiga pilihan di layar: 85 gram, 150 gram atau 250 gram.

Saya tekan yang pertama: plok. Seonggok nasi putih jatuh ke piring.

Nasi itu saya makan dengan kare ayam Jepang. Kenyang. Naik pesawat bisa langsung tidur.

“Saya tidak mau dibangunkan untuk makan malam,” pesan saya pada pramugari.

Saya pun langsung mengamati kode-kode di sekitar tempat duduk: mana lampu baca, lampu meja, cara melihat TV, global WiFi, dan terutama cara merebahkan kursi jadi tempat tidur.

Pulas.

Ketika bangun sudah pukul 4 subuh waktu Tokyo. Mungkin sudah hampir di atas Alaska.

Ternyata pramugari menaikkan penutup di sebelah kursi saya. Juga menutup pintu geser sebelah tumpuan kaki saya.

Sedang pembatas dengan kursi sebelah sudah dinaikkan  sebelum saya masuk pesawat. Jadilah tempat duduk saya seperti kamar kecil: 2×1 meter.

Saya tidak tahu siapa di sebelah: cewek atau cowok.

Setelah ke kamar kecil, gosok gigi dan tayamum, saya kembalikan tempat tidur menjadi tempat duduk. Lalu minum air putih satu botol.

Saya pun ingat pesan orang tua: bergerak.

Semua penumpang masih tidur.

Semua biliknya masih gelap.

Kalau saya mondar mandir di lorong pun tidak akan ada yang melihat. Lorong ini seperti koridor apartemen yang pintunya ditutup semua.

Tapi mondar-mandir kurang bebas bergerak. Saya kembali ke tempat duduk. Tutup pembatas. Saya punya ide lain. Cari musik di layar TV. Bergerak sambil duduk. Ikuti irama musik.

Dari banyak pilihan video di layar saya lihat ada musikal Michael Jackson. Panjangnya 111 menit. Hampir dua jam. Ini dia. Bukan rock. Bukan sweet. Pas untuk menggerakkan badan dan kaki.

Judul musikal itu simpel: Michael Jackson This Is It. Saya belum pernah menontonnya. Itu semacam show nostalgia sepanjang karier Michael Jackson. Itu show setelah 10 tahun tidak manggung.

Maka lagu-lagunya masih saya ingat. Setidaknya nadanya. Gerak kaki, tangan dan badan saya tinggal ikuti musiknya. Sekalian mengenang lagu-lagunya. Ada Black or White, Smooth Criminal, History, Thriller dan seterusnya.

Betapa perkara Michael Jackson di balik sosoknya yang terlihat kurus, kecil dan lemah.

Betapa keras latihan fisiknya.

Betapa kejam Michael Jackson ‘menyiksa’ dirinya.

Di balik semua kemajuan yang hebat ternyata ada kekejaman di dalamnya. Kemajuan Singapura pun (Disway: Nilai 95) begitu bukan?

Sambil sedikit berkeringat saya juga memperhatikan para dancer di show This Is It itu. Betapa keras latihan mereka untuk bisa diikutkan sebagai penari latar. Begitu banyak yang ikut audisi. Dari seluruh dunia. Seleksi babak akhirnya saja 1200 orang. Hanya dipilih 10 terbaik. Persaingan begitu keras. Kemajuan diperoleh lewat persaingan terbuka yang sangat keras.

Melihat ‘kekejaman’ yang terjadi di balik sukses Michael Jackson itu saya maklum: mengapa banyak yang memilih rebahan saja. Kalau perlu uang kan bisa dengan mudah menjadi tim sukses.(*)

Tags: Catatan Harian DahlanDahlan IskanDiswayHarian Dahlanharian diswayTulsian Dahlan

Related Posts

--

Neo Pop

Monday, 8 June 2026
Lewat Pasrah

Lewat Pasrah

Saturday, 6 June 2026
--

Agus Deyang

Thursday, 4 June 2026
Bambang, tengah, usai makan malam.--

Jago Cimory

Thursday, 4 June 2026
Jago Comory

Jago Comory

Wednesday, 3 June 2026
Pet Byar

Pet Byar

Saturday, 30 May 2026
Next Post
Suasana SMA Terpadu (SMAT) Wira Bhakti Gorontalo yang siswinya kabur dari asrama sekolah.

30 Siswi SMA Wirabakti Kabur dari Asrama

Discussion about this post

Rekomendasi

Basri Amin

Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

Monday, 8 June 2026
Gubernur Gusnar Ismail pada peresmian Gorontalo menjadi tuan rumah Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan. (foto: dok-pemprov)

PENAS Gorontalo Kamar Hotel Full Booking

Monday, 8 June 2026
Polsek Wonosari bergerak cepat menangani peristiwa meninggalnya seorang masyarakat yang diakibatkan tersengat aliran listrik.

Warga Wonosari Tewas Tersengat Listrik

Monday, 8 June 2026
Rapat persiapan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Aula Rumah Jabatan Gubernur, Jumat (5/6/2026). (Foto : Valen)

Gusnar-Idah Pimpin Rapat Evaluasi Persiapan PENAS XVII Gorontalo

Monday, 8 June 2026

Pos Populer

  • Basri Amin

    Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • PENAS Gorontalo Kamar Hotel Full Booking

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Warga Wonosari Tewas Tersengat Listrik

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Gusnar-Idah Pimpin Rapat Evaluasi Persiapan PENAS XVII Gorontalo

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • In Memoriam Mohammad Kilat Wartabone, Pendiri Pondasi Bone Bolango

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.