logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Biomasa
Home Headline

Guru Merdeka yang Memerdekakan 

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Friday, 20 October 2023
in Headline
0
Komite 12 Delapan Puluh Tahun Lalu

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh :
Basri Amin
Ketua Lembaga Kajian Sekolah & Masyarakat (LeKSEMA)

 

BAGI mereka yang tidak (pernah) punya Guru, mereka tidak akan pernah sungguh-sungguh mengenal “hari esok”. Jika ada pekerjaan yang hendak menjawab semua harapan kita tentang hari esok, maka itulah pekerjaan seorang Guru. 

Gurulah yang terdepan “menggenggam” semua cita-cita sebuah bangsa dan membawanya di dalam ruang-ruang kelas mereka. Hampir semua bahasa harapan, keluhuran hidup, dan prinsip-prinsip kebaikan menghidupi kerja-kerja mereka sehari-hari. Dengan itulah Guru menjadi merdeka dan memerdekakan.

Related Post

Gubernur Gusnar Ismail Hadiri Peluncuran Prodi Dokter Spesialis dan Subspesialis di UNG

Studi Dokter Spesialis so Ada di UNG

Cek Rekening THR so Cair, ASN/TNI/Polri Mulai Dibayarkan, Ojol Juga Dapat

Cap Go Meh, Semarak Digelar Usai Tarawih

Begitulah yang saya rasakan (kembali) selama sekian hari menyimak Inspirasi keGuruan di kota Pahlawan, Surabaya, 17-19 Oktober 2023, untuk sebuah kegiatan yang amat bermakna menjelang tahun 2023 berakhir. Jelang akhir tahun lalu, saya menyerap hal serupa setelah hadir dalam dialog “Literasi Poros Pendidikan” yang digerakkan oleh Balai Guru Penggerak (BGP) provinsi Gorontalo (13/11/2022). 

Adalah Kepala BGP Gorontalo, Pak Eky A. Punu, Kepala Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo, beberapa penulis muda-terpilih Gorontalo dan “Isal Gorapu” berhasil menegaskan bahwa daerah ini butuh banyak aktor dan metode, komunitas dan profesi, dan penggerak literasi di sektor pendidikannya. Dasarnya sederhana: “kondisi pendidikan kita terkesan masih sedang–sedang saja progresinya!”. 

Bagaimana di alam nyata?

Pada akhir abad ke-13, kata Guru atau “teacher’ dalam bahasa Inggris sudah dikenal dengan pengertian yang unik. Kata ini bahkan bersumber dari bahasa klasik Jerman. Dengan kata teacher itu, yang dituju adalah: “seseorang yang mengajak dan yang memengaruhi; kegiatan menampilkan sesuatu: melatih, menguji, mengarahkan, dan menandai. Hanya saja, sejak awal abad ke-19, pengertiannya semakin identik dengan “seorang yang mengajar di sekolah…” (Harper, 2001-2022). Dari sanalah mulai ada reduksi dan praktikalisasi. 

Pembebasan inspirasi, akses, dan praksis keGuruan kini semakin kita butuhkan. Dengan itulah pemerdekaan yang sesungguhnya bisa bergerak dan menembus tembok-tembok yang membungkam kreativitas Guru.

GURU demikian dekat dengan “keabadian” tertentu karena dari perannyalah kemanusiaan kita dan kehidupan yang kita jalani menyuguhkan arti-arti tertentu yang terus bertambah. Di tahap awal, kesadaran kita tentang tahu dan tidak tahu, tentang latihan dan percobaan, tentang kesalahan dan kebenaran, tentang proses dan pencapaian, semuanya hadir sambung-menyambung. 

Di tengah-tengah prosesnya kita membangun pengalaman, mengoleksi pengetahuan dan mendayagunakan minat-bakat kita. Terkadang hasilnya menakjubkan. Seorang anak yang tadinya kelihatan polos ternyata adalah manusia multi-talenta yang luar biasa. Sering pula kita saksikan bagaimana daya manusia demikian kaya, dalam hal: membaca, menghitung, menulis, menggambar, olah-ragawi, dst. 

Proses pendidikanlah yang membuat manusia “berbeda nasibnya”. Pendidikanlah yang membuat sekolah didirikan. Tapi, dalam faktanya, semua itu tidaklah otomatis bahwa pendidikan bermutu terselenggara paripurna di sekolah. 

Dalam banyak keadaan, maaf, justru sekolah yang secara tidak langsung “menyingkirkan” makna pendidikan itu sendiri, yakni ketika anak didik hanya boleh memilih satu kondisi –yakni hanya “diajar” dengan cara-cara sepihak. Padahal, mereka mestinya harus lebih membutuhkan ruang & sikap merdeka dalam perkara “belajar”. 

Kita membutuhkan Guru sejati! 

Edukator ternama, Dr. Montessori, menegaskan bahwa guru harus memihak kepada kepentingan tumbuh dan “kepentingan belajar” yang hakiki bagi anak-anaknya, yakni ruang-ruang bagi hidupnya spontanitas, percobaan, pengulangan-pengulangan, dan kegembiraan yang tak pernah berhenti dan lelah (Standing, 1957).

Guru terlahir dari “rahim kebudayaan” sebuah bangsa. Selanjutnya, derajat kepahlawanan Guru sangat ditentukan oleh masyarakat di mana ia mengabdi dan bagaimana ia menanamkan cita-cita kepada anak-anak bangsanya. 

Seorang guru bahkan terkadang tidak memulai pekerjaannya dengan “mengisi” otak dan hati anak-anaknya dengan tumpukan ‘mata pelajaran’, melainkan dengan terlebih dahulu menemukan “derita” terpendam yang melilit dan “harapan” yang mengurung kehidupannya. Selanjutnya, seorang guru –masih menurut Montessori—, kemudian meletakkan ruang “tumbuh” bagi anak-anaknya di setiap keadaan. 

Guru seperti itukah yang kita lahirkan dan saksikan dewasa ini? Jawaban bisa beragam, bahkan tak sedikit yang menyakitkan dan memilukan kita. Memuliakan pendidikan bukankah pekerjaan yang mudah. Hampir semua publikasi internasional, hingga kini, masih menempatkan mutu pendidikan kita di ‘papan bawah’. 

Kita bisa marah dan kesal, tapi langkah nyata jangan terbiasa berhenti di retorika media dan pasal-pasal kebijakan yang rutin di meja-meja birokrasi (pendidikan) kita. Kita mudah menghasilkan beragam konsep dan jargon yang indah setinggi langit, tetapi rentan kehilangan daya gebrak di alam nyata. Kita pernah akrab dengan jargon revolusi mental tetapi kita cenderung lemas membangun “mental revolusi” dalam dunia pendidikan kita.

Sebelum perkara (mutu) pendidikan bangsa diurai ujung-pangkalnya, pada kapasitas gurulah percakapan serius mestinya dimulai. Jika urusan anak bangsa tidak bisa lepas dari tanggung jawab masyarakat, tetapi untuk urusan guru, pembahasannya tidak akan pernah sederhana. 

Ia harus benar-benar diletakkan dalam spektrum yang mendasar, yakni tentang pemahaman dan tindakan kita yang utuh dalam menghadapi seluk-beluk kapasitas tumbuh manusia. Tanpa pandangan yang jernih tentang manusia cita Indonesia, kita akan kehilangan arah dan akan tersesat berulang-ulang dalam mencerdaskan (kehidupan) bangsa.

Di depan kelas dan di sekolah, guru cenderung dikepung banyak pengaturan, hirarki, teknologi, dan administrasi. Pergaulan dengan murid-muridnya nyaris hanya tampak di dalam kelas –dengan pola instruksional-pedagogis–. 

Selebihnya, keadaan yang banyak melilit kemerdekaannya adalah pengaturan-pengaturan rutin dan kepungan administrasi yang meminggirkan faktor-faktor kontekstual dalam menghasilkan interaksi pembelajaran yang mencerahkan dan yang mengisi aspirasi-aspirasi otentik murid-muridnya. 

Bobot “percakapan” dan “pemahaman” tentang manusia yang tengah tumbuh (baca: murid) dengan kegairahan yang meluap-luap masih jarang dijembatani dan dipacu perkembangannya dengan konsistensi tinggi. Ruang untuk pencapaian itu bahkan disederhanakan melalui ruang-ruang ujian (reguler) saja, sesekali dalam bentuk pertandingan/perlombaan, misalnya olimpiade, anugerah, dan kompetisi-kompetisi ini dan itu, dst. Semua ini tentu tidak salah, tetapi belum utuh menegaskan arah yang menjanjikan.

Guru harus mampu melihat gambar besar kehidupan (global) dewasa ini dan menempatkan dunia atau bumi ini -–dimana Indonesia kita yang besar ini berada di dalamnya—. Guru menentukan pembentukan posisi kesadaran dan peran kita -–sebagai bangsa— dalam peta besar tersebut. 

Di ruang belajar itulah, karakter, mentalitas, visi perbaikan, kemajuan, dan derajat “Guru Merdeka” digerakkan. Gorontalo tengah bergerak ke arah sana!?. ***

Penulis adalah Fellow di Lembaga Kajian Sekolah & Masyarakat (LekSEMA).
Surel: basriamin@gmail.com 

Tags: basri aminCatatan basri aminguruguru merdekaGuru PenggerakLekSEMApendidikan

Related Posts

Gubernur Gusnar Ismail bersama Rektor UNG Eduart Wolok membunyikan alat musik tradisional Polo Palo tanda diluncurnya program studi pendidikan dokter spesial spesialis anestesiologi dan terapi intensif di Fakultas Kedokteran UNG di Ballroom UTC Damhil Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Selasa (3/3). (Foto : Bahrian/Pemprov)

Gubernur Gusnar Ismail Hadiri Peluncuran Prodi Dokter Spesialis dan Subspesialis di UNG

Thursday, 5 March 2026
Airlangga Hartarto

Cek Rekening THR so Cair, ASN/TNI/Polri Mulai Dibayarkan, Ojol Juga Dapat

Wednesday, 4 March 2026
Prof. Eduart Wolok

Studi Dokter Spesialis so Ada di UNG

Wednesday, 4 March 2026
CAP GO MEH: Ribuan warga memadati kompleks Klenteng Tulus Harapan Kita Gorontalo, menyaksikan perayaan Cap Go Meh tahun baru Imlek 2577 di Gorontalo, Selasa (3/3) malam. (foto: Aviva Dinanti Lambalano/Gorontalo Post)

Cap Go Meh, Semarak Digelar Usai Tarawih

Wednesday, 4 March 2026
Logo Majelis Ulama Indonesia

MUI Desak RI Keluar dari BoP, Kecam Serangan Amerika-Israel ke Iran

Monday, 2 March 2026
Purbaya

THR Tunggu Presiden Pulang, Menkeu Sebut Presiden yang Umumkan

Friday, 27 February 2026
Next Post
Mantan Pejabat Gorut Terancam 15 tahun Penjara

Mantan Pejabat Gorut Terancam 15 tahun Penjara

Discussion about this post

Rekomendasi

Prof. Eduart Wolok

Studi Dokter Spesialis so Ada di UNG

Wednesday, 4 March 2026
Buyer Jepang Tinjau Langsung Operasional PT Biomasa Jaya Abadi di Pohuwato

Audiensi Strategis: Investor Jepang Gali Informasi Legalitas dan Dampak Sosial PT BJA

Wednesday, 4 March 2026
BNNK Pohuwato saat melakukan test urine terhadap pimpinan dan karyawan PT LIL dan PT STN Pohuwato.

10 Karyawan Perusahaan di Pohuwato Positif Narkoba

Tuesday, 3 March 2026
Airlangga Hartarto

Cek Rekening THR so Cair, ASN/TNI/Polri Mulai Dibayarkan, Ojol Juga Dapat

Wednesday, 4 March 2026

Pos Populer

  • Prof. Eduart Wolok

    Studi Dokter Spesialis so Ada di UNG

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • 10 Karyawan Perusahaan di Pohuwato Positif Narkoba

    59 shares
    Share 24 Tweet 15
  • Audiensi Strategis: Investor Jepang Gali Informasi Legalitas dan Dampak Sosial PT BJA

    48 shares
    Share 19 Tweet 12
  • Menjembatani Visi-Misi Kepala Daerah dan Kerja Birokrasi

    54 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Petir Ngambek

    43 shares
    Share 17 Tweet 11
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.