logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
Pemkot Gorontalo

Home Persepsi

Perjumpaan Budaya di Utara Nusantara

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Monday, 10 July 2023
in Persepsi
0
Generasi (Terbaik) Gorontalo

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Pilkada Langsung dan Makna Kedaulatan Rakyat

Mahasiswa Merdeka

Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Dari Street Justice menuju Digital Justice

Oleh :
Basri Amin
Parner di Voice-of-HaleHepu

KAWASAN Utara Sulawesi memberi kita banyak pengalaman berharga tentang jaringan niaga dan perjumpaan budaya di negeri ini. Dan Manado adalah salah satu titik sentrum-nya. Demikian pula dengan Maluku Utara sebagai “dunia” yang sekian abad menggoyang imajinasi Barat tentang rempah-rempah dan “jalur sutera” sebagai jaringan niaga tersibuk di dunia sejak abad ke-17.

Tahun lalu saya kembali berada di Manado, setelah sekian tahun tak pernah melihat denyut kota ini dari dekat. Kota ini demikian dikenang dan bermakna bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang pernah tinggal dan mengecap pendidikan di sana. Tak heran kalau di Maluku Utara misalnya, “jaringan alumni Manado” demikian berperan dan menguasai banyak posisi-posisi strategis.

Demikian juga di daerah seperti Gorontalo yang relatif dekat dengan Manado, hubungan saling-pengaruh jelas sangat terasa. Sebagai kota yang berperan sebagai ‘pusat pendidikan’ tinggi di Sulawesi, Manado telah melahirkan banyak SDM di Gorontalo. Di antara mereka, sudah tertanam banyak nostalgia dan cita-cita, jaringan organisasi dan kepentingan.

Manado berasal dari kata “mana-rou” atau “manan-dou”, yang artinya “tempat yang jauh”. Konon hal ini merujuk jarak perjalanan dari pedalaman Minahasa ketika mereka melakukan perjalanan dagang di masa lalu. Bisa juga merujuk bahasa Tombulu “manoir” yang merujuk pada “tempat berkumpul dan berunding” di pesisir barat Minahasa (Parengkuan, 1986: 2-3).

Konfigurasi masyarakat di Manado, dilihat dari komposisi agama dan etnik, penduduknya jelas merupakan mosaik pluralisme Indonesia yang nyaris sempurna. Histori Manado sebagai kawasan pelabuhan dan bagian penting dari lintasan dari hegemoni kolonial dimasa lalu –-sebagai bagian dari kekuasaaan VOC dan pemerintah kolonial Belanda di Maluku– jelas telah memfasilitasi jenis mobilitas dan sebaran penduduk di Kawasan Timur Indonesia. Hasilnya adalah sebuah struktur masyarakat plural seperti yang ada saat ini.

Pola pemukiman yang berkembang pun turut menjadi indikasi dari berkembangnya sebuah penduduk yang multikultur. Tak heran kalau titik-titik penyebaran penduduk Manado turut pula menandai bagaimana proses penyebaran keragaman sosial itu terbentuk seperti terlihat dari pola dan lanskap perkampungan yang ada. Pendapat bahwa Manado memang mempunyai histori dan struktur sosial yang relatif “tahan banting” terhadap pergesekan antar kelompok, pada tingkat tertentu bisa dibenarkan. Banyak faktor yang memberi pengaruh: latar sejarah, kondisi sosial ekonomi, komposisi masyarakat, peran elite, media, posisi geografis dan institusi keamanan.

Periode Reformasi sebenarnya telah mengintroduksi banyak pertukaran gagasan dan menyediakan banyak sekali tema percakapan tentang keragaman sosial kita sebagai bangsa. Manado termasuk kota yang produktif dalam merespons perkembangan ini. Sebagai kota yang cukup lama diidentikkan dengan Minahasa, dan selanjutnya menjadi representasi simbolik komunitas Kristiani di timur Indonesia, masyarakat Manado jelas mempunyai citra dan narasi sendiri dengan kotanya.

Bahasa Melayu-Manado cukup bisa memberi gambaran atas karakter orang-orang Manado. Citra egaliter, terbuka, berwawasan hiburan, citra wisata dan sebagai daerah pesisir, pelabuhan dan persilangan transportasi di Sulawesi adalah gambaran paling jelas tentang kota ini. Meski belakangan kesan sebagai kota konsumtif sepertinya mengemuka. Bahasa Manado sendiri termasuk golongan ‘bahasa persuasif’ dan karena itulah terasa lebih impresif dan egaliter. Bahasa Melayu-Manado dengan mudah menyebar dan diterima oleh beberapa wilayah sekitarnya.

Ketika provinsi Gorontalo berdiri (2001), terjadi suatu perkembangan baru karena ke-Sulawesi Utara-an itu berubah suasananya. Suasana ‘berpisah’ sepertinya bukan hanya menjadi fakta politik/administratif, tapi sekaligus menegaskan fakta psikologis. Secara sosial, sepertinya memunculkan ‘beban’ tertentu bagi warga Gorontalo –yang identik dengan komunitas Islam Sulawei Utara–. Berhubung karena penduduk Manado yang berasal dari Gorontalo jumlahnya sangat signifikan, maka identitas (kultural) keGorontaloan dan identitas (sosial-ekonomi) keManadoan menjadi tergugat. Ada pemahaman dan peran ganda di sini.

Di satu sisi lapisan memori sosial ekonomi mereka adalah ‘orang Manado’, tetapi secara genetis-kultural, mereka jelas adalah ‘orang Gorontalo’. Beban lainnya, karena mereka juga merupakan komunitas yang terlanjur melekat pada dirinya sebagai ‘representasi’ masyarakat Islam, meskipun komunitas masyarakat Islam lainnya tetap berperan di level yang sama –yaitu sebagai representasi–, tetapi tingkat pencitraan dan bobot perannya relatif lebih terbatas karena Gorontalo mempunyai wilayah yang relatif luas dengan jumlah penduduk besar, dengan sebaran jumlah elite yang sangat signifikan perannya dalam sejarah nasionalisme di Utara Sulawesi.

Apa yang terjadi di Manado atau di  kawasan Utara Sulawesi pada umumnya adalah sebuah pelajaran berharga bahwa setiap kelompok di masyarakat multikultur akan mengalami masa-masa ketegangan tertentu, yang seringkali menimbulkan benturan keras (separasi), dan bukan adaptasi dan penyesuaian (asimilasi).

Kini tantangannya adalah bagaimana memelihara multikulturalisme itu sebagai kenyataan hidup di satu sisi, tapi sekaligus menjadikannya sebagai kekuatan inspiratif di sisi lain. Jangan sampai kapasitas kita untuk saling belajar dan mengenali identitas satu sama lain makin tertinggal jauh dan kita lebih terbiasa merayakan tabiat benar-sendiri dan mengabaikan hak komunitas lain untuk sama-sama mencapai kebajikan bersama.***

Parner di Voice-of-HaleHepu
E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminPerjumpaan Budaya di Utara Nusantarapersepsispektrum sosial

Related Posts

Ridwan Monoarfa

Pilkada Langsung dan Makna Kedaulatan Rakyat

Monday, 19 January 2026
Basri Amin

Mahasiswa Merdeka

Monday, 19 January 2026
Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Sunday, 18 January 2026
Ahmad Zaenuri

Dari Street Justice menuju Digital Justice

Wednesday, 14 January 2026
Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo   

Menelusuri Jejak Akomodasi Budaya dalam Simbolisme Masyarakat Gorontalo  

Wednesday, 14 January 2026
Ridwan Monoarfa

Pemilihan Kepala Daerah dan Arah Demokrasi Kita

Monday, 12 January 2026
Next Post
PPP Kembali Memanas, Eks Sekretaris PPP Kabgor, Dicoret dari Bacaleg

PPP Kembali Memanas, Eks Sekretaris PPP Kabgor, Dicoret dari Bacaleg

Discussion about this post

Rekomendasi

Dari 21 wanita dan waria yang dilakukan pemeriksaan, dua diantaranya positif sifilis.

Terjaring Razia, Dua Orang Positif Sifilis

Monday, 19 January 2026
Tiga tersangka kasus dugaan PETI Hutino, diserahkan kepada pihak Kejaksaan beserta barang buktinya atau tahap dua oleh pihak penyidik Reskrim Polres Pohuwato.

Tiga Tersangka PETI di Hutino Segera Diadili

Monday, 19 January 2026
Kajari Kota Gorontalo Bayu Pramesti, S.H., M.H., bersama jajarannya berpose di momen silaturahmi dengan rekan-rekan media/wartawan, jurnalis, aktivis, dan LSM, Rabu, (14/1/2026). (Foto: Istimewa)

Kejari Kota Tegas Perangi Korupsi, Gandeng Wartawan Dukung Informasi Penyimpangan Keuangan

Monday, 19 January 2026
Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Isra Mi’raj dan Pembangunan Masjid Raya

Sunday, 18 January 2026

Pos Populer

  • Ketua Yayasan Kumala Vaza Grup, Siti Fatimah Thaib, bersama pemilik dapur dan Kepala SPPG Pentadio Barat secara simbolis menyerahkan CSR kepada pihak SMP 1 Telaga Biru, Rabu (14/1/2026). (F. Diyanti/Gorontalo Post)

    Dukung Program Presiden, Yayasan Kumala Vaza Grup Salurkan CSR ke 20 Sekolah

    80 shares
    Share 32 Tweet 20
  • BREAKING NEWS: Gusnar Lantik 25 Pejabat Pemprov, Berikut Nama-namanya

    591 shares
    Share 236 Tweet 148
  • Terjaring Razia, Dua Orang Positif Sifilis

    54 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Modus Pesta Miras, Tiga Pria di Bone Bolango Tega Rudapaksa Gadis Belia

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Tiga Tersangka PETI di Hutino Segera Diadili

    37 shares
    Share 15 Tweet 9
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.