logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

UT Ojat

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Friday, 6 January 2023
in Disway
0
UT Ojat
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

INILAH universitas yang punya gudang buku. Besar sekali. Mengalahkan superstore.

Jumlah mahasiswanya pun tak tertandingi: hampir 500.000. Tepatnya: 412.697.

Wilayahnya juga terluas: se-Indonesia. Sampai nun di pelosok terjauh: Miangas.

Anda pun tahu siapa dia: Universitas Terbuka (UT). Yang kampus utamanya di Pondok Cabe, Jakarta Selatan. Seluas 18 hektare. Ditata rapi, bersih, indah, berkontur, berdanau, dan sangat hijau.

Related Post

Ya Tidak

Jumat Keramat

Iris Istri

PLN Transisi

Saya baru sekali ini ke kampus UT. Kemarin. Langsung setiba dari Singkawang, Kalbar. Tidak satu pun terlihat mahasiswa di kampus itu. Anda tahu itu: di UT belajarnya tanpa kelas. Bukan karena pandemi. Sejak didirikannya di tahun 1984 pun sudah begitu.

Kampus ini lebih banyak diisi oleh pemikir pendidikan. Sekitar 600 orang bekerja di situ. Mereka merumuskan materi kuliah. Mengajar jarak jauh. Menyusun  materi ujian. Membuat standar buku pelajaran.

Memang ada gedung auditorium di kampus ini: khusus untuk wisuda. Itu pun hanya bagi yang nilainya istimewa. Wisuda selebihnya di daerah masing-masing.

Di UT sekali wisuda bisa 100.000 sarjana. Tidak akan ada gedung yang memenuhi syarat untuk wisuda bersama.

Salah satu lulusan terbaik UT adalah HanifNurcholis. Ia angkatan pertama UT. Masuk tahun 1984. Kini sudah profesor-doktor. Sebagai alumni terbaik Hanif diminta mengabdi di almamater sendiri. Jabatannya saat ini: Ketua Senat Akademik UT.

Ketika universitas lain gamang dengan pengajaran jarak jauh (akibat Covid-19), UT biasa saja. Dia sudah ‘pandemi’ sejak lahir. Dan terus pandemi selama 38 tahun umurnya sekarang ini.

Sejak lahir sistem pembelajaran UT  jarak jauh. Sejak belum ada HP dan wifi.

Materi kuliahnya, saat itu, dikirim lewat pos. Demikian juga soal ujian dan jawabannya. Pertanyaan ke dosen pun dikirim pakai surat. Begitulah awalnya. Lalu ada juga materi kuliah dalam bentuk kaset. “Saya masih menyimpan sekitar 50 kaset,” ujar Hanif.

Saya pun meninjau gudang bukunya. Lebih besar dari Makro. Itulah buku pelajaran yang harus diteliti, diseleksi dan dikirim ke mahasiswa. Ukuran buku untuk mahasiswa UT saat ini dibuat lebih besar: A4. Ruang putih di pinggir tiap halamannya dibuat lebih lebar: untuk catatan, komentar atau pun pertanyaan tentang isi buku di halaman itu.

Rektor UT sekarang adalah Prof Drs OjatDarojatMBus PhD. Anda sudah tahu: ia pasti orang  Sunda. Ia lahir di desa Bojongloa, pedalaman Subang.

Ini adalah tahun kedua periode keduanya sebagai rektor UT. Alumnus Universitas Pendidikan Indonesia ini meraih S2 di La Trobe University Melbourne. Lalu mendapat gelar doktor di Kanada. Di Simon Fraser University. Linier. Dari pendidikan ke pendidikan.

Sejak masih jadi guru Ojat tergabung di Pergunu (Persatuan Guru NU). Kini Ojat jadi pengurus pusat Pergunu. Juga duduk di pengurus besar NU.

“Harusnya UT bisa punya mahasiswa setidaknya 1 juta orang,” ujar Ojat. Itulah program utamanya ke depan. Di India, UT punya 5 juta mahasiswa. Demikian juga di Tiongkok.

Ojat hafal angka-angka itu. Ia ketua asosiasi Universitas Terbuka se Asia. Untuk periode kedua.

Ojat akan terus melawan citra UT sebagai universitas kelas dua. Ia pun menunjukkan bukti kejadian tahun 2019. Yakni ketika ada penerimaan pegawai negeri. “Alumni UT paling banyak diterima. Sampai 9.436 orang. Melebihi angka dari universitas negeri lainnya,” ujar Ojat. Ia lantas mengabadikannya dalam Rekor MURI. “Menandakan mutu UT sudah tidak kalah,” ujar Ojat.

Orang sering lupa: UT ini universitas negeri. Sejajar dengan UI, Unpad, UGM atau Unair. Jadi, kalau maunya hanya kuliah di universitas negeri mengapa tidak ke UT. “Mutunya  kami jamin. Kami sangat keras dalam menjaga mutu,” ujar  Ojat.

Bukti keseriusan lain: di masa kepemimpinannya UT menjadi PTN-BH. Perguruan tinggi berbadan hukum. Sejak tahun lalu. Sejajar dengan 16 perguruan tinggi terkemuka  lainnya. Padahal, seperti Universitas Negeri Jakarta, belum PTN-BH.

“Kelemahan” UT adalah belum punya program studi bidang tehnik. Misalnya teknik sipil, mesin, kimia atau elektro. Sistem pengajaran jarak jauh belum menemukan cara praktikum yang efektif. Padahal mahasiswa teknik harus banyak  praktik secara fisik.

Tentu ini harus dipecahkan. Negeri ini harus punya alumni bidang teknik jauh lebih besar dari bidang lainnya. Kita sudah terlalu banyak memiliki sarjana sosial dan agama. Termasuk sarjana hukum.

Padahal UT-lah yang bisa mencetak sarjana dalam jumlah besar.

Memang kehadiran UT harusnya bisa menepis isu pemerataan pendidikan tinggi. Biaya kuliah di UT sangat murah: hanya Rp 35.000/mata kuliah. Kalau yang dimiliki hanya Rp 35.000 mahasiswa boleh hanya mengambil satu mata kuliah. Yang lainnya bisa diambil lain kali. Pun bagi yang harus bekerja. Busa mengambil mata kuliah satu atau dua saja. Masalahnya tinggal mau kuliah atau tidak. (*)

 

Tags: Catatan DahlanDahlan IskanDiswaygorontalopost updateGorontaloPosthariiniUT Ojat

Related Posts

Ya Tidak

Ya Tidak

Thursday, 22 October 2026
Jumat Keramat

Jumat Keramat

Monday, 19 October 2026
Iris Istri

Iris Istri

Saturday, 17 October 2026
PLN Transisi

PLN Transisi

Saturday, 17 October 2026
Camino Nakasendo

Camino Nakasendo

Friday, 16 October 2026
Hati Ngadirejo

Hati Ngadirejo

Wednesday, 14 October 2026
Next Post
cara pakai arloji bisa mengetahui kepribadian (Foto: Shutterstock)

Memakai Arloji di Tangan Kanan atau Kiri Dapat Menunjukan Kepribadian Kita Loh...

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Penambang Ilegal Saripi Tebar Teror, Rusak Fasilitas Pabrik Gula, Karyawan Resah dan Ketakutan

Penambang Ilegal Saripi Tebar Teror, Rusak Fasilitas Pabrik Gula, Karyawan Resah dan Ketakutan

Thursday, 29 October 2026
PETI Makin Merajalela, Kerusakan Lingkungan di Saripi Kian Parah

PETI Makin Merajalela, Kerusakan Lingkungan di Saripi Kian Parah

Thursday, 29 October 2026
Basri Amin

Generasi Penerus dan Generasi “Terus-Menerus”

Monday, 26 October 2026
Kampus UNG

Senat UNG Dituding Illegal

Tuesday, 27 August 2024

Pos Populer

  • Akui Lecehkan Dua Mahasiswi Bimbingan Sikripsi, Oknum Dosen Serahkan Diri ke Polisi

    Akui Lecehkan Dua Mahasiswi Bimbingan Sikripsi, Oknum Dosen Serahkan Diri ke Polisi

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Generasi Penerus dan Generasi “Terus-Menerus”

    83 shares
    Share 33 Tweet 21
  • Lolos dari Gorontalo, Polda Metro Jaya Amankan 54 Ton Batu Hitam, Lima Orang Ditangkap

    77 shares
    Share 31 Tweet 19
  • Vietnam Melompat ke Depan, Indonesia Melompat di Tempat

    49 shares
    Share 20 Tweet 12
  • Penambang Ilegal Saripi Tebar Teror, Rusak Fasilitas Pabrik Gula, Karyawan Resah dan Ketakutan

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 4 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.